Skip to content

Putusan Mahkamah Konstitusi terkait Pembatalan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir

17/06/2011

PUTUSAN
Nomor 3/PUU-VIII/2010
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

[1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada
tingkat pertama dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam perkara permohonan
Pengujian Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, yang diajukan oleh:
[1.2] 1. Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dalam hal ini
diwakili oleh:
Nama : Muhamad Riza Adha Damanik;
Pekerjaan : Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk
Keadilan Perikanan (KIARA);
Alamat : Jalan Tegal Parang Utara Nomor 43 Mampang,
Jakarta Selatan;
Disebut sebagai………………………………………………………… Pemohon I;
2. Indonesian Human Right Committe for Social Justice (IHCS) dalam
hal ini diwakili oleh:
Nama : Gunawan;
Jabatan : Sekretaris Jenderal Indonesian Human Rights
Committee for Social Justice (IHCS);
Alamat : Jalan Mampang Prapatan XV Nomor 8A
RT.003/04, Jakarta Selatan 12790;
Disebut sebagai……………………………………………………….. Pemohon II;
3. Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim
(PK2PM) yang dalam hal ini diwakili oleh:
Nama : Muhamad Karim;
2
Pekerjaan : Direktur Eksekutif Perkumpulan Pusat Kajian
Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim
(PK2PM);
Alamat : Komplek Griya Melati, Blok IV Nomor 7, Kota
Bogor, Jawa Barat;
Disebut sebagai…………………………………………………….. Pemohon III
4. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) yang dalam hal ini diwakili
oleh:
Nama : Idham Arsyad;
Pekerjaan : Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaharuan
Agraria (KPA);
Alamat : Jalan Durentiga Nomor 64 Pancoran, Jakarta
Selatan 12760;
Disebut sebagai ……………………………………………………. Pemohon IV
5. Serikat Petani Indonesia (SPI) yang dalam hal ini diwakili oleh:
Nama : Henry Saragih;
Jabatan : Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI);
Alamat : Jalan Mampang Prapatan XIV Nomor 5, Jakarta
Selatan 12790;
Disebut sebagai………………………………………………………. Pemohon V
6. Yayasan Bina Desa Sadajiwa yang dalam hal ini diwakili oleh:
Nama : Dwi Astuti;
Jabatan : Direktur Pelaksana Yayasan Bina Desa
Sadajiwa;
Alamat : Jalan Saleh Abud Nomor 18-19 Iskandardinata,
Jakarta 13330;
Disebut sebagai……………………………………………………… Pemohon VI
7. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang dalam
hal diwakili oleh:
Nama : Patra Mijaya Zein;
Jabatan : Ketua Badan Pengurus Yayasan Lembaga
Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI);
Alamat : Jalan Diponegoro, Nomor 74, Jakarta Pusat;
3
Disebut sebagai ……………………………………………………. Pemohon VII
8. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang dalam hal ini
diwakili oleh:
Nama : Berry Nahdian Forqan;
Jabatan : Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan
Hidup Indonesia (WALHI);
Alamat : Jalan Tegal Parang Utara Nomor 14, Jakarta
Selatan 12790;
Disebut sebagai …………………………………………………… Pemohon VIII
9. Aliansi Petani Indonesia (API) yang dalam hal ini diwakili oleh:
Nama : Muhammad Nur Uddin;
Jabatan : Sekretaris Jenderal Aliansi Petani Indonesia
(API);
Alamat : Jalan Slamet Riyadi IV/50 Kelurahan Kebun
Manggis, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur
13150;
Disebut sebagai …………………………………………………….. Pemohon IX
10. Nama : Tiharom;
Pekerjaan : Nelayan;
Alamat : Marunda, RT. 008/ RW. 007, Marunda,
Kecamatan Cilincing, Kotamadya, Jakarta Utara;
Disebut sebagai ……………………………………………………… Pemohon X
11. Nama : Waun;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT 03/08 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai …………………………………………………….. Pemohon XI
12. Nama : Wartaka;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun IV RT 02/09 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
4
Disebut sebagai ……………………………………………………. Pemohon XII
13. Nama : Carya Bin Darja;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun IV RT. 03/09 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai …………………………………………………… Pemohon XIII
14. Nama : Kadma;
Pekerjaan : Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 01/009 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai …………………………………………………… Pemohon XIV
15. Nama : Saidin;
Pekerjaan : Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 01/09 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ……………………………………………………. Pemohon XV
16. Nama : Jamhuri;
Pekerjaan : Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 003/009 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai …………………………………………………… Pemohon XVI
17. Nama : Rosad;
Pekerjaan : Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 003/008 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ………………………………………………….. Pemohon XVII
18. Nama : Tarwan;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan;
5
Alamat : Dusun 04 RT. 01/09 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai …………………………………………………. Pemohon XVIII
19. Nama : Tambrin Bin Tarsum;
Pekerjaan : Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 02/10 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai …………………………………………………… Pemohon XIX
20. Nama : Yusup;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 03/08 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ……………………………………………………. Pemohon XX
21. Nama : Rawa Bin Caslani;
Pekerjaan : Nelayan;
Alamat : Dusun 04 RT. 02/08 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai …………………………………………………… Pemohon XXI
22. Nama : Kasirin;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 003/009 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ………………………………………………….. Pemohon XXII
23. Nama : Salim;
Pekerjaan : Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 003/009 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
6
Disebut sebagai …………………………………………………. Pemohon XXIII
24. Nama : Warta;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 001/009 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ………………………………………………… Pemohon XXIV
25. Nama : Rakim Bin Taip;
Pekerjaan : Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 02/09 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai …………………………………………………. Pemohon XXV
26. Nama : Kadim;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan
Alamat : Dusun 04 RT. 02/11 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ………………………………………………… Pemohon XXVI
27. Nama : Abdul Wahab Bin Kasda;
Pekerjaan : Nelayan;
Alamat : Dusun 05 RT. 01/09 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ……………………………………………….. Pemohon XXVII
28. Nama : Mujahidin;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 03/09 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ………………………………………………. Pemohon XXVIII
29. Nama : Kusnan;
Pekerjaan : Nelayan/Perikanan;
7
Alamat : Dusun 04 RT. 002/008 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ………………………………………………… Pemohon XXIX
30. Nama : Caslan Bin Rasita;
Pekerjaan : Nelayan;
Alamat : Dusun 04 RT. 03/07 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai …………………………………………………. Pemohon XXX
31. Nama : Kartim;
Pekerjaan : Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 002/009 Desa Gebang Perikanan,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ………………………………………………… Pemohon XXXI
32. Nama : Rastono Bin Cartib;
Pekerjaan : Nelayan;
Alamat : Desa Gebang Udik, Kecamatan Gebang,
Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ……………………………………………….. Pemohon XXXII
33. Nama : Ratib Bin Takrib;
Pekerjaan : Nelayan;
Alamat : Dusun 04 Desa Gebang Kulon, Kecamatan
Gebang, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa
Barat;
Disebut sebagai ………………………………………………. Pemohon XXXIII
34. Nama : Wardi;
Pekerjaan : Buruh Nelayan/Perikanan;
Alamat : Dusun 04 RT. 003/09 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ………………………………………………. Pemohon XXXIV
8
35. Nama : Andi Sugandi;
Pekerjaan : Nelayan;
Alamat : Dusun 04 RT. 02/09 Desa Gebang Kulon,
Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon,
Provinsi Jawa Barat;
Disebut sebagai ……………………………………………….. Pemohon XXXV
36. Nama : Budi Laksana;
Pekerjaan : Nelayan;
Alamat : RT. 010/011 Kelurahan Petamburan, Kecamatan
Tanah Abang, Kotamadya Jakarta Pusat;
Disebut sebagai ………………………………………………. Pemohon XXXVI
Berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 17 November 2009, memberi kuasa
kepada Ecoline Situmorang, S.H., Muhnur, S.H., Janses E. Sihaloho, S.H.,
Nurkholis Hidayat, S.H., M. Taufiqul Mujib, S.H., Febionesta, S.H., Riando
Tambunan, S.H., Kiagus Ahmad Bella Sati, S.H., Ridwan Darmawan, S.H.,
Restaria F. Hutabarat, S.H., Henry David Oliver Sitorus, S.H., Edy Halomoan
Gurning, S.H., B.P. Beni Dikty Sinaga, S.H., Muhammad Isnur, S.H., Ali Imron,
S.H., Alghiffari Aqsa, S.H., Anton Febrianto, S.Hi., Tommy A.M. Tobing, S.H.,
Muhammad Zaimul Umam, S.H., Jumi Rahayu, S.H. LLM., Zainal Abidin, S.H.,
Tabrani Abby, S.H., M.Hum., Nur Hariandi, S.H., M.H., Andi Muttaqien, S.H.M.,
Rizal Siregar, S.H., M. Yudha Fathoni, S.H., Ganto Almansyah, S.H., Kristian
Feran, S.H., Carolina S. Martha, S.H., Abdul Haris, S.H., Adam Mariano Pantouw,
S.H., kesemuanya Advokat dan Pengabdi Bantuan Hukum tergabung dalam Tim
Advokasi Tolak Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) yang berdomisili hukum
di Jalan Tegal Parang Utara Nomor 43 Mampang, Jakarta Selatan 12790, baik
sendiri-sendiri maupun bersama-sama bertindak untuk dan atas nama pemberi
kuasa;
Selanjutnya disebut sebagai ————————————————- para Pemohon;
[1.3] Membaca permohonan dari para Pemohon;
Mendengar keterangan dari para Pemohon;
9
Mendengar dan membaca keterangan dari Pemerintah dan Dewan
Perwakilan Rakyat;
Mendengar keterangan Saksi dan Ahli dari para Pemohon;
Mendengar keterangan Saksi dan Ahli dari Pemerintah;
Memeriksa bukti-bukti;
Membaca kesimpulan dari para Pemohon dan Pemerintah;
2. DUDUK PERKARA
[2.1] Menimbang bahwa para Pemohon mengajukan permohonan dengan
surat bertanggal 13 Januari 2010 yang terdaftar di Kepaniteraan Mahkamah
Konstitusi (selanjutnya disebut Kepaniteraan Mahkamah) pada tanggal 18 Januari
2010 dengan registrasi Nomor 3/PUU-VIII/2010 dan telah diperbaiki dengan
permohonan bertanggal 16 Februari 2010, sebagai berikut:
A. PENDAHULUAN
Dikarenakan Indonesia mempunyai wilayah peralihan (interface) antara
ekosistem darat dan laut, serta memiliki kekayaan alam yang melimpah, maka
sektor kelautan dan pulau-pulau kecil memegang peran strategis bagi
kepentingan nasional. Terbukti, Indonesia secara fisik memiliki 17.500 pulau,
dengan total panjang garis pantai mencapai 81.000 km serta luas laut
mencapai 70 persen dari total luas wilayah Indonesia. Potensi sumber daya
ikan juga melimpah, di mana potensi lestari mencapai 6,2 juta ton per tahun,
belum termasuk keanekaragaman hayati lainnya seperti rumput laut, terumbu
karang, dan lainnya. Sehingga, sadar akan potensi itu, berbagai lembaga
negara maupun swasta sangat berkepentingan atas regulasi tersebut. Adalah
sebuah tindakan yang tepat bagi pemerintah menjalankan fungsinya untuk
mengatur tatanan khususnya di isu pesisir dan pulau-pulau kecil ini. Akan
tetapi, pengaturan tersebut haruslah tidak bertentangan dengan kepentingan
pengelolaan lingkungan pesisir dan masyarakat, khususnya nelayan
tradisional. Regulasi sebagaimana dimaksud juga seharusnya tidak
bertentangan dengan kearifan lokal nelayan. Sebagai contoh, di sepanjang
pesisir pulau Jawa hingga saat ini masih hidup (terus tumbuh dan berkembang)
pelbagai budaya serta tradisi lokal. Dan konstitusi Indonesia menghargai
10
keberadaan kebudayaan-kebudayaan tersebut. Oleh karenanya, Indonesia
sebagai negara hukum, di mana konstitusi merupakan basis filosofis dari
hukum nasional, maka sudah semestinya aturan yang ada, tidak boleh
bertentangan dengan konstitusi. Konstitusi adalah hukum dasar yang dijadikan
pegangan dalam penyelenggaraan suatu negara. Konstitusi merupakan hukum
tertinggi (the supreme law of the land), di mana ia menjadi ruh bagi ketentuan
peraturan perundang-undangan di bawahnya. Sehingga, tiap peraturan
perundang-undangan yang bertentangan dengan isi dan jiwa dari suatu
konstitusi haruslah dinyatakan tidak mempunyai kekuatan mengikat.
UUD 1945, sebagai konstitusi Republik Indonesia, dalam mengatur persoalan
agraria (bumi, air, angkasa dan isinya) dan kewajiban negara serta hak-hak
warga negara, telah menggariskan enam hal. Pertama, Indonesia adalah
negara kepulauan yang bercirikan nusantara (Pasal 25A); Kedua, Kekayaan
alam dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat [Pasal 33 ayat (3)]; Ketiga,
Cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai negara
[Pasal 33 ayat (2)]; Keempat, Perekonomian Indonesia berdasarkan
kekeluargaan dan demokrasi ekonomi [Pasal 33 ayat (1) dan Pasal 33 ayat
(4)]; Kelima, Perlindungan hak asasi manusia/HAM (Pasal 28A-J); Keenam,
Perlindungan hak masyarakat adat (Pasal 18B, Pasal 28I, dan Pasal 32).
Bahwa pokok, dalam UUD 1945 tersebut juga membentuk “Negara” yang yang
berkedaulatan rakyat, berdasarkan atas kerakyatan. Oleh karena itu, sistem
hukum yang dibentuk negara harus mewakili kepentingan rakyat Indonesia.
Selanjutnya, Pemerintah Indonesia juga mengeluarkan peraturan perundangan
tentang wilayah teritorial Indonesia guna menggantikan peraturan perundangan
produk Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Secara historis, batas wilayah laut
Indonesia telah dibuat oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yaitu dalam
Territoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie tahun 1939, yang
menyatakan bahwa lebar wilayah laut Indonesia adalah tiga mil diukur dari
garis rendah di pantai masing-masing pulau Indonesia. Kemudian wilayah laut
Indonesia ditetapkan melalui Deklarasi Juanda pada tanggal 13 Desember
1957, dan dikukuhkan oleh Undang-Undang Nomor 4 PrP Tahun 1960, yang
kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang
Perairan Indonesia, setelah sebelumnya Pemerintah Indonesia menerbitkan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia,
11
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan Konvensi
PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS – United Nations Convention On The Law
Of The Sea). UNCLOS yang ditandatangani oleh sejumlah negara di Jamaika
pada tanggal 10 Desember 1982. UNCLOS memiliki arti penting bagi
Indonesia, karena di sinilah diterimanya konsep negara kepulauan. Di sisi lain,
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Pokok Agraria (UUPA
1960), diterbitkan guna menjalankan mandat Pasal 33 UUD 1945. Selain itu,
kelahiran UUPA 1960 juga untuk mengakhiri dualisme hukum, yaitu hukum
kolonial dan hukum adat, melalui satu hukum nasional yang mengadopsi
hukum adat, menciptakan kesederhanaan hukum, dan perubahan tata kuasa
dan tata kelola sumber-sumber agraria (pembaruan agraria). Meski UUPA 1960
hanya mengatur hingga garis pantai, namun Undang-Undang ini mengenal juga
hak guna air. Hak guna air kemudian juga diatur dalam Undang-Undang Nomor
7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Kendati telah memiliki peraturan
perundangan yang bersifat nasional, pengelolaan sumber-sumber agraria
masih menyisakan persoalan di mana pengusahaan sumber-sumber agraria
tersebut tidak paralel dengan kemakmuran rakyat. Peraturan-peraturan
tersebut justru banyak memunculkan kasus yang menciptakan kerusakan pada
perekonomian negara, kerusakan ekonomi rakyat, dan kerusakan lingkungan,
serta konflik dengan kekerasan yang mengakibatkan pelanggaran HAM. Halhal
tersebut di atas juga terjadi di wilayah, pesisir dan pulau-pulau kecil.
Dampaknya, tidak saja rawan pangan dan rawan bencana, namun juga rawan
lepas dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemicu lain
dari kondisi ini adalah pembangunan peraturan perundangan yang
komprehensif mengatur perihal pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil cenderung lebih lambat ketimbang peraturan perundangan lainnya, seperti
pertanahan, perkebunan, kehutanan, pertambangan, perairan dan perikanan.
Parahnya lagi, berlangsung persaingan ekplorasi dan eksploitasi antar lembaga
pemerintah dengan mengedepankan ego masing-masing institusi. Pengaturan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dikelola oleh pelbagai instansi negara
atau instansi pemerintah dengan berbekal peraturan perundangannya masingmasing.
Semisal, perihal pengelolaan kawasan konservasi laut dimasukkan ke
dalam rezim pengelolaan di bawah Departemen Kehutanan, melalui Undang12
Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan
Ekosistemnya, yang merupakan ratifikasi Pemerintah Indonesia terhadap
Strategi Pelestarian Dunia (World Conservation Startegy) yang ditetapkan pada
tahun 1980. Hal ini jelas menegasikan sektor kelautan nasional. Padahal,
kontribusi sektor kelautan terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional
mencapai lebih dari 20% setiap tahun. Kontribusi tersebut berasal dari sektor
perikanan, transportasi laut, pariwisata bahari, industri maritim, pertambangan
lepas pantai, dan jasa-jasa kelautan. Oleh karenanya, para pegiat sektor
kelautan, perikanan, dan pesisiran, menginginkan adanya peraturan
perundangan di tingkat nasional, karena, pertama, sumber daya wilayah pesisir
belum dikelola secara optimal sehingga kontribusinya bagi kesejahteraan
masyarakat di sekitarnya sangat minim. Kemiskinan masih mendera 32 persen
dari 16,42 juta penduduk 8.090 desa pesisir; Kedua, pelbagai bencana pesisir,
seperti tsunami, telah meluluhlantakkan pemukiman dan menewaskan ratusan
ribu orang tanpa dapat diantisipasi. Seperti kita ketahui, untuk wilayah pesisir
yang ekosistem terumbu karang dan mangrovenya masih baik, akan
mengalami kerusakan relatif lebih kecil jika mengalami bencana; Ketiga, di
pelbagai belahan bumi yang wilayah pesisirnya tertata baik, terbukti mampu
menumbuhkan investasi dan memberi kontribusi ekonomi yang signifikan.
Berdasarkan hasil review terhadap perundang-undangan (20 undang-undang
nasional) dan konvensi (5 konvensi internasional) yang telah diratifikasi
Pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir,
maka dijumpai tiga permasalahan hukum yang krusial, yaitu: Pertama, Konflik
antar Undang-Undang; Kedua, Konflik antara Undang-Undang dengan Hukum
Adat; Ketiga, Kekosongan Hukum; Dan Keempat, Konflik antar Undang-
Undang terjadi pada bidang pengaturan tata ruang wilayah pesisir dan laut.
Keempat masalah krusial tersebut, bermuara pada ketidakpastian hukum,
konflik kewenangan dan pemanfaatan, serta kerusakan bio-geofisik sumber
daya pesisir. Keempat masalah tersebut merupakan suatu kesatuan, sehingga
solusi yuridisnya pun harus terpadu melalui Undang-Undang baru yang
mengintegrasi pengelolaan wilayah pesisir. Sesungguhnya, telah lama di
kalangan pemerintahan Indonesia menginginkan adanya pengaturan secara
nasional persoalan pesisir. Paling tidak, BPN (Badan Pertanahan Nasional)
pada tahun 1995 pernah membentuk tim guna mempelajari dan mendalami
13
tentang tanah adat dan tanah pantai. Tanah pantai yang dimaksud di sini, yang
dijadikan studi kasus adalah tanah perbatasan antara ekosistem darat dengan
ekosistem laut maupun danau. Menurut Dr. Ir. Soedjarwo Soeromiharjo, yang
kala itu masuk tim BPN, mengatakan bahwa Indonesia adalah Negara
Kesatuan berupa kepulauan dan semakin majunya teknologi, maka sudah
waktunya perhatian diberikan lebih pada hak-hak dan pemanfaatan tanah
pantai yang diatur secara nasional (Soeromiharjo, 2007). Pada tanggal 26 Juni
2007, dalam Sidang Paripurnanya, DPR RI mengesahkan Undang-Undang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (PWP3K). Menurut
kebijakan ini, dalam konteks tanah pantai, hanyalah wilayah pesisir, yaitu
perbatasan ekosistem darat dengan ekosistem laut. Penyusunan rancangan
undang-undang (RUU) tersebut memakan waktu yang lama. Rentang waktu
yang dilewati hingga disahkannya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
relatif panjang dan melibatkan hampir semua elemen yang ada kaitannya
dengan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Hamid Awaluddin,
Menteri Hukum dan HAM ketika itu, pada suatu Rapat Dengar Pendapat (RDP)
dengan DPR sempat berkelakar bahwa tinggal bajak laut saja yang belum
sempat diajak konsultasi ikhwal RUU PWP3K ini. Memang, diperlukan waktu
tujuh tahun lebih untuk menggolkan undang-undang ini. Diawali dengan
penyusunan naskah akademik pada paruh kedua tahun 2000, yang melibatkan
akademisi, praktisi hukum, LSM, bahkan juga memperoleh masukan dari pakar
internasional, terutama dari Rhode Island University. Namun, Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil ini belum mewujudkan pendekatan Integrated Coastal Management, yang
ditandai dengan tidak adanya pembaruan atas penguasaan dan pengusahaan
yang timpang dan adanya ketidaksinkronan dengan Undang-Undang lainnya.
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 juga lebih menekankan pada aspek
investasi dan lebih pro dunia usaha, sehingga tidak ada ruang bagi
masyarakat, khususnya nelayan kecil tradisional dan masyarakat adat dalam
pengusulan rencana pengelolaan, dan menyerahkan masalah kedaulatan
wilayah teritorial hanya pada setingkat Peraturan Pemerintah. Dalam Undang-
Undang ini diatur tentang Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3), yaitu hak
atas bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan dan
perikanan, serta usaha lain yang terkait dengan pemanfaatan Sumber Daya
14
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mencakup atas permukaan laut dan kolom
air sampai dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu.
Substansi HP-3 ini semakin memperparah pencabutan hak-hak masyarakat
pesisir dalam mengakses sumber daya baik di permukaan laut, badan air
maupun di bawah dasar laut. Tidak ada lagi ruang bagi masyarakat pesisir
khususnya nelayan, petani ikan, pelaku UKMK kelautan dan buruh nelayan
melakukan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir. Semua akses sumber daya
kelautan praktis akan dikuasai pemilik modal. Sebab, hanya merekalah yang
mampu memenuhi segala persyaratan yang diatur dalam Undang-Undang ini.
Masyarakat pesisir hanya menjadi penonton karena tidak mempunyai modal
besar dan teknologi untuk bersaing dengan para pemilik modal. Hal
ini mengakibatkan kemiskinan nelayan bertambah parah. Undang-Undang ini
tetap menyisakan permasalahan, yang dapat disebut di sini adalah: Pertama,
Undang-Undang ini selalu mengkaitkan dengan adaptasi terhadap situasi
global. Tidak jelas apa konteks global yang dimaksudkan. Namun, jika ditelisik
lebih dalam, konsep global di sini lebih mengarah pada globalisasi; Kedua,
privatisasi dalam ranah yang harusnya dikuasai negara serta persoalan tata
ruang; Ketiga, perlindungan Kelompok Rentan di Pedesaan Pesisir; Keempat.
persoalan kemiskinan dan kedaulatan negara di pulau kecil; Kelima,
sinkronisasi dengan peraturan perundangan lainnya yang terkait dengan
pengelolaan wilayah pesisir.
B. KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI
Hak Uji menurut Prof. DR. Sri Soemantri, dalam bukunya: “Hak Uji Materiil Di
Indonesia, 1997,” ada dua jenis, yaitu Hak Uji Formil dan Hak Uji Materiil. Hak
Uji Formil menurutnya adalah “wewenang untuk menilai, apakah suatu produk
legislatif, seperti Undang-Undang misalnya terjelma melalui cara-cara
(procedure) sebagaimana telah ditentukan/diatur dalam peraturan perundangundangan
yang berlaku ataukah tidak” (halaman 6). Selanjutnya ia mengartikan
Hak Uji Materiil sebagai “wewenang untuk menyelidiki dan kemudian menilai,
apakah suatu peraturan perundang-undangan isinya sesuai atau bertentangan
dengan peraturan yang lebih tinggi derajatnya, serta apakah suatu kekuasaan
tertentu (verordenende macht) berhak mengeluarkan suatu peraturan tertentu”
(halaman 11);
15
Hak Uji, baik formil maupun materiil, diakui keberadaannya dalam sistem
hukum Indonesia, sebagaimana terdapat dalam konstitusi, yaitu UUD 1945,
yang telah mengalami perubahan sebanyak empat kali, dalam Pasal 24 ayat
(1), menyatakan, “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah
Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya …. dan oleh sebuah
Mahkamah Konstitusi”.
Sedangkan pengaturan mengenai kewenangan hak uji Undang-Undang
Terhadap UUD tersebut terdapat dalam Pasal 24C UUD 1945 dan Pasal 10
ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi, yang selengkapnya menentukan sebagai berikut: Pasal 24C ayat (1)
berbunyi, “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama
dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang
terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga
Negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, memutus
pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan tentang hasil pemilihan
umum”. (Bukti P-4)
Bahwa selanjutnya Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang tentang
Mahkamah Konstitusi menyatakan ”Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili
pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji
Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945”;
Bahwa Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Mahkamah Konstitusi menyatakan,
“Permohonan adalah permintaan yang diajukan secara tertulis kepada
Mahkamah Konstitusi mengenai pengujian undang-undang terhadap Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”;
Bahwa, selain itu Pasal 7 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan mengatur secara hierarki
kedudukan UUD 1945 lebih tinggi dari Undang-Undang, oleh karenanya setiap
ketentuan Undang-Undang tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945. Jika
terdapat ketentuan dalam Undang-Undang yang bertentangan dengan UUD
1945, maka ketentuan Undang-Undang tersebut dapat dimohonkan untuk diuji
melalui mekanisme Pengujian Undang-Undang di Mahkamah Konstitusi;
16
Berdasarkan ketentuan pasal tersebut jelas bahwa Mahkamah Konstitusi
mempunyai kewenangan untuk melakukan pengujian secara materiil, yaitu
untuk melakukan pengujian sebuah produk Undang-Undang terhadap UUD
1945;
C. KEDUDUKAN DAN HAK KONSTITUSIONAL PARA PEMOHON
Bahwa Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi menyatakan
bahwa para Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau
kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang,
yaitu: perorangan warga negara Indonesia; kesatuan masyarakat hukum adat
sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undangundang;
badan hukum publik atau privat, atau; lembaga negara;
Dalam penjelasan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Mahkamah Konstitusi
menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “hak konstitusional” adalah hak-hak
yang diatur dalam UUD 1945;
Bahwa hak konstitusional sebagaimana terkandung dalam UUD 1945 di
antaranya meliputi hak untuk mendapatkan kepastian hukum, hak atas
pekerjaan sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2) dan Pasal 28D
ayat (1), ayat (2) UUD 1945;
Bahwa atas ketentuan di atas, maka terdapat dua syarat yang harus dipenuhi
untuk menguji apakah Pemohon memiliki legal standing (dikualifikasi sebagai
Pemohon) dalam permohonan Pengujian Undang-Undang tersebut. Adapun
syarat yang pertama adalah kualifikasi bertindak sebagai Pemohon
sebagaimana diatur dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Mahkamah
Konstitusi. Syarat kedua adalah adanya kerugian Pemohon atas terbitnya
Undang-Undang tersebut (vide Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
133/PUU-VII/2009 );
Bahwa para Pemohon adalah badan privat dan perorangan warga negara
Indonesia (individu), yang bergerak, berminat dan didirikan atas dasar
kepedulian untuk dapat memberikan perlindungan dan penegakan keadilan
sosial, hukum dan hak asasi manusia, termasuk hak-hak pekerja di Indonesia,
yang berbadan hukum dan didirikan berdasarkan akta notaris;
17
Bahwa walaupun demikian tidak semua organisasi dapat atau bisa mewakili
kepentingan publik (umum) akan tetapi hanya organisasi yang telah memenuhi
syarat yang ditentukan oleh berbagai Undang-Undang maupun yurisprudensi,
yaitu:
* Berbentuk badan hukum;
* Dalam AD/ART secara tegas menyebutkan tujuan didirikan organisasi
tersebut;
* Secara rutin telah melakukan kegiatan yang telah diamanatkan oleh
AD/ART nya tersebut;
Bahwa dalam hal ini para Pemohon terdiri dari berbagai organisasi non
pemerintah (badan privat) maupun perorangan (individu) yang dikenal telah
memperjuangkan hak asasi manusia, khususnya dalam sektor kelautan,
masyarakat pesisir, dan ketimpangan akses agraria serta hak-hak masyarakat
adat di Indonesia di mana hal tersebut tercermin dalam AD/ART dan aktivitas
sehari-hari para Pemohon;
C.1. PEMOHON BADAN HUKUM PRIVAT
Bahwa Pemohon Organisasi telah mendapatkan status hukum sebagai
badan hukum, sebagaimana tercantum dalam Akta Notaris, adapun para
Pemohon adalah sebagai berikut:
1) Koalisi Rakyat Untuk Keadilan Perikanan (KIARA),
Bahwa Pemohon tercatat di Akta Notaris H. Dana Sasmita, SH, Nomor
Akta: 29 tanggal 13 Maret 2009. Bahwa maksud dan tujuan lembaga
ini didirikan, sebagaimana dilihat dari Pasal 7 sampai dengan Pasal 10
Akta tersebut yaitu:
– Bahwa Pasal 7 menyatakan: ——————– Visi ————————
Rakyat berdaulat mengelola sumber daya perikanan secara Adil
dan Berkelanjutan;
– Bahwa Pasal 8 menyatakan: ——————– Misi ————————
Memperjuangkan keadilan kelautan dan perikanan;
– Bahwa Pasal 9 menyatakan: ——————– Tujuan ——————–
Untuk memperkuat nelayan dan masyarakat yang tinggal di wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil agar memperoleh perlindungan dan
kesejahteraan hidup yang layak dari Pemerintah Republik
Indonesia;
18
– Bahwa pasal 10 menyatakan: ——————- Program —————–
Dalam menjalankan Visi dan Misi KIARA ditetapkan program
sebagai berikut:
Reformasi kebijakan Illegal, unregulated, unreported fishing (IIUF).
Industri pertambakan udang dan mangrove. Pengelolaan sumber
daya pesisir dan pulau-pulau kecil yang adil dan berkelanjutan;
Seperti yang tertuang baik dalam Akta mauapun dalam AD/ART
Pemohon I telah secara rutin melakukan berbagai kegiatan
bersama-sama dengan nelayan, baik dalam kegiatan pendidikan,
advokasi maupun kampanye yang betujuan untuk merubah
kebijakan agar berpihak pada nelayan; (Bukti P-5)
Bahwa dengan adanya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007,
visi, misi dan tujuan KIARA agar rakyat berdaulat mengelola
sumber daya perikanan secara adil dan berkelanjutan terhalangi
dan juga berpotensi menghambat perjuangan keadilan kelautan
dan perikanan.
Bahwa selain itu, keberadaan UU Nomor 27 Tahun 2007
menghambat upaya penguatan nelayan dan masyarakat yang
tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil agar memperoleh
perlindungan dan kesejahteraan hidup yang layak dari Pemerintah
Republik Indonesia;
2) Indonesia Human Right Committee for Social Justice (IHCS),
Bahwa Pemohon II tercatat di Akta Notaris Ny. Nurul Muslimah
Kurniati, S.H., dengan Nomor Akta tanggal 16 Februari 2008. Bahwa
dalam akta Pasal 7 mengenai tujuan organisasi ini adalah:
Organisasi ini bertugas untuk memperjuangkan tata dunia yang damai,
adil dan makmur. Menghapus ketidakadilan global yang disebabkan
oleh negara dan modal. Dan dunia yang bebas dari kemiskinan,
kelaparan, peperangan dan perbudakan serta bebas dari neokolonialisme
dan imperialisme. Di tingkatan nasional adalah
terciptanya negara demokratis yang menghormati, memenuhi, dan
melindungi hak asasi manusia serta mewujudkan keadilan sosial bagi
warganya. Organisasi ini berperan memajukan dan membela hak asasi
manusia serta mewujudkan keadilan sosial.
19
Selanjutnya dalam Pasal 9 menyatakan:————– Fungsi —————-
Organisasi ini berfungsi:
Membela korban pelanggaran hak asasi manusia melalui advokasi
litigasi dan non litigasi. Memfasilitasi korban korban pelanggaran hak
asasi manusia untuk berubah menjadi pejuang hak asasi. Melakukan
advokasi kebijakan publik untuk menciptakan sistem negara yang
demokratis dan menghormati, memenuhi dan melindungi hak asasi
manusia. Melakukan inisiatif jalan pemenuhan hak asasi manusia,
keadilan sosial, pembaruan sistem ekonomi, poltik, hukum dan
keamanan, serta penyelesaian konflik kekerasan bersenjata; (Bukti
P-6)
Bahwa keberadaan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 akan
melanggengkan ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia
yang dilakukan oleh pemodal (capital violence) yang dilindungi oleh
Undang-Undang (judicial violence) sehingga tujuan pendirian
organisasi IHCS akan terhalangi;
Dengan berlakunya UU Nomor 27 Tahun 2007, IHCS akan mengalami
kesulitan dalam mewujudkan tujuan advokasi di bidang pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil;
3) Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim
(PK2PM)
Bahwa Pemohon III tercatat di Akta Notaris Ny. Masnah Sari, S.H,
dengan Nomor 47 pada tanggal 9 Februari 2008. Bahwa dalam Akta
Pasal 4 sampai dengan Pasal 7 tersebut tercantum maksud dan tujuan
organisasi tersebut didirikan yaitu:
– Pasal 4 menyatakan:
Maksud dan tujuan PK2PM adalah mengoptimalkan pendayagunaan
sumber daya kelautan untuk menciptakan kesejahteraan rakyat
sehingga tercipta suatu masyarakat yang “berperadaban maritim”
yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, keberanian, keterbukaan,
pluralisme dan egaliter.
– Pasal 5 menyatakan:
Untuk mencapai maksud dan tujuan seperti tersebut dalam Pasal 3 di
atas, PK2PM melaksanakan kegiatan antara lain:
20
1. Penelitian dan kajian ilmiah tentang pembangunan kelautan dan
peradaban maritim;
2. Pengembangan training-training advokasi, pengembangan,
masyarakat dan metode penelitian ilmiah;
3. Penerbitan buku dan publikasi ilmiah (Jurnal dan Buku), dialog/
diskusi, seminar dan lokakarya serta kerja sama dengan media
massa koran dan elektronik;
4. Pengembangan informasi dan dokumentasi tentang
pembangunan kelautan dan budaya maritim;
5. Melakukan advokasi kebijakan pembangunan kelautan;
6. Kerjasama nasional dan internasional dan kajian pembangunan
kelautan dan peradaban maritim;
– Pasal 6 menyatakan: Visi PK2PM adalah “Laut untuk
kesejahteraan rakyat dan masa depan peradaban bangsa”;
– Pasal 7 menyatakan: Misi PK2PM ini adalah:
1. Menempatkan sumber daya kelautan sebagai arus utama
(mainstream) pembangunan nasional untuk mengentaskan
kemiskinan dan pengangguran;
2. Meningkatkan kualitas dan kompetensi SDM (sumber daya
manusia) kelautan;
3. Meningkatkan kualitas dan distribusi informasi pembangunan
kelautan.
4. Menciptakan sinergisitas, solidaritas dan keberlanjutan
pembangunan kelautan;
5. Mewujudkan peradaban maritim dengan merevitalisasi nilainilai
budaya kemaritiman dalam pembangunan nasional;
(Bukti P-7)
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 berpotensi menghalangi tujuan
PK2PM untuk mengoptimalkan dan mendayagunakan sumber daya
kelautan untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Undang-Undang ini
juga menghambat tujuan PK2PM untuk menciptakan suatu masyarakat
yang “berperadaban maritim” yang menjunjung tinggi nilai-nilai
kejujuran, keberanian, keterbukaan, pluralisme dan egaliter. Dalam
rangka melakukan advokasi kebijakan pembangunan kelautan, PK2PM
21
sesuai dengan anggaran dasar khususnya Pasal 5 ayat (5) merasa
perlu untuk melakukan judicial review Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 ke Mahkamah Konstitusi.
4) Yayasan Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA)
Bahwa Pemohon IV tercatat dalam Akta Notaris Doktor Wiratni
Ahmadi, SH, dengan Nomor 106 pada tanggal 22 Mei 1996. Bahwa
dalam Akta maupun AD/ART Pemohon dicantumkan tujuan didirikan
lembaga tersebut yaitu: Dalam Akta Nomor 106 menyatakan:
– Pasal 4: Maksud dan tujuan Yayasan ini ialah: merintis atau turut
serta menyumbangkan daya, tenaga dan pikiran dalam bidang
keagrariaan guna menunjang pembangunan Nasional khususnya
bidang agraria, dalam rangka penyebaran informasi melalui studi
penelitian dan kajian ilmiah.
– Pasal 5: Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, yayasan akan
melakukan usaha-usaha sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan studi terhadap Undang-Undang Pokok Agraria
serta hukum-hukum adat yang berkembang dimasyarakat;
2. Menyelenggarakan penelitian serta studi perbandingan tentang
keagrariaan;
3. Mengadakan ceramah, simposium, seminar dan diskusi;
4. Mengadakan penerbitan buku-buku, majalah dan bulletin;
5. Bekerja sama dengan badan pemerintah maupun swasta baik di
dalam maupun di luar negeri yang mempunyai maksud dan tujuan
yang sama dengan Yayasan;
Dalam Anggaran Dasar Pemohon IV menyatakan:
– Pasal 5: Nilai-nilai yang dianut dalam KPA: hak asasi manusia;
kelestarian lingkungan; kearifan nilai-nilai adat, keadilan sosial;
keadilan dan kesetaraan gender; non sekretarian; non partisan;
perdamian dan anti kekerasan; anti diskriminasi pada ras, suku,
agama dan aliran kepercayaan; solidaritas;
– Pasal 8: PA berperan memperjuangkan pembaruan agraria, dengan
nilai-nilai sebagaimana dimaksud pada Pasal 5 Bab II;
– Pasal 1: Kegiatan KPA meliputi:
22
1. Memperjuangkan pemenuhan hak-hak rakyat terutama petani/
buruh tani, nelayan, masyarakat adat, dan rakyat miskin;
2. Advokasi yang berupa upaya perubahan kesadaran rakyat
(publik) melalui penyebaran informasi, pembentukan opini publik,
pembelaan kolektif disatu pihak, dan perubahan kebijakan dan
strategi pembangunan yang berorientasi pada pemenuhan hakhak
rakyat dilain pihak;
3. Menyelenggarakan pendidikan alternatif;
4. Pengembangan jaringan-jaringan informasi, kajian, dan publikasi
yang bersifat internal maupun eksternal;
5. Pengembangan kerja sama kegiatan, program, dan kelembagaan
yang mengabdi pada pemenuhan tujuan-tujuan Gerakan
Pembaharuan Agraria;
6. Secara aktif terlibat dalam perjuangan penggalangan solidaritas,
dan front/aliansi perjuangan internasional untuk Reforma Agraria
Sejati; (Bukti P-8)
Bahwa sebagian anggota KPA terdiri dari serikat nelayan dan serikat
petani, pemberlakuan Undang-Undang ini berpotensi merugikan masa
depan serikat nelayan.
Bahwa pemberlakuan HP3 di wilayah pesisir mengganggu hak-hak
kepemilikan kaum tani yang sudah diatur dan dijamin dalam Undang-
Undang 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria dan
peraturan terkait lainnya.
Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 sangat jelas
berlawanan dengan tujuan KPA dalam rangka merintis atau turut serta
menyumbangkan daya, tenaga, dan pikiran dalam bidang keagrariaan
guna menunjang pembangunan nasional khususnya bidang agraria,
dalam rangka penyebaran informasi melalui studi penelitian dan kajian
ilmiah, sehingga KPA merasa perlu untuk mengajukan judicial review
kepada Mahkamah Konstitusi sebagaimana diamanatkan dalam Pasal
11 ayat (1) Anggaran Dasar KPA, yaitu memperjuangkan pemenuhan
hak-hak rakyat terutama petani/buruh tani, nelayan, masyarakat adat,
dan rakyat miskin;
23
5) Serikat Petani Indonesia (SPI)
Bahwa Pemohon V tercatat dalam Akta Notaris Ny. Soetati Mochtar,
SH., dengan Nomor 18 tanggal 14 April 2008. Bahwa dalam Akta
tersebut tercantum kegiatan-kegiatan organisasi sebagai berikut:
– Pasal 14 menyatakan: ————————— Kegiatan ———————
1. Melakukan berbagai bentuk pendidikan/kaderisasi bagi anggota;
2. Mengumpulkan, mengolah, dan menyebarkan berbagai informasi
yang berguna bagi petani dan anggota;
3. Membangun kehidupan ekonomi anggota yang mandiri dan
berdaulat dengan prinsip koperasi yang sejati;
4. Pengerahan massa aksi untuk melakukan aksi massa sebagai
salah satu kekuatan utama SPI;
5. Melakukan pembelaan bagi anggota yang dilanggar hak asasinya
sebagai manusia, hak asasinya sebagai petani, dan hak asasinya
sebagai warga negara;
6. Memperbanyak jumlah anggota, mendorong serta memperkuat
kerja sama diantara sesama anggota;
7. Memperkuat kepengurusan mulai dari pusat hingga basis;
8. Melakukan kerja sama dan solidaritas yang saling memperkuat
dengan organisasi tani dan organisasi rakyat lainnya yang
mempunyai pandangan, asas, dan tujuan yang sejalan dengan
SPI, baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional;
9. Mendorong dan mendukung lahirnya organisasi rakyat lainnya
yang sejalan dengan SPI;
10. Menjalin hubungan setara dengan lembaga dan aparatur negara
yang bersifat kritis baik didalam maupun di luar negeri sepanjang
tidak bertentangan dengan pandangan, asas, tujuan, dan
kepentingan SPI;
Bahwa selanjutnya dalam Anggaran Dasar Pasal 9, Pemohon
mempunyai tujuan sebagai berikut:
Terjadinya perombakan, pembaruan, pemulihan, dan penataan model
pengelolaan pembangunan ekonomi secara umum dan kebijakan
agraria secara khusus. Terjadinya perombakan, pembaruan,
pemulihan, dan penataan demokrasi di bidang politik secara umum
24
dan kedaulatan politik petani secara khusus. Terjadinya pemulihan dan
penataan kembali di bidang adat dan budaya masyarakat secara
umum dan adat serta budaya petani secara khusus.
Selanjutnya dalam Pasal 13 ditentukan:
Untuk mencapai tujuan tersebut, SPI melakukan kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
Melakukan berbagai bentuk pendidikan bagi massa dan kader
organisasi petani yang menjadi anggotanya. Memberikan layanan
informasi tentang peluang dan tantangan dan permasalahan yang
dapat dimanfaatkan oleh anggotanya. Melakukan kegiatan-kegiatan
kerja sama dengan organisasi tani lainnya yang mempunyai
pandangan, asas dan tujuan yang sejalan dengan SPI. Melakukan
advokasi terhadap kasus dan kebijakan yang merugikan anggotanya.
Memperbanyak dan memperkuat organisasi anggota. Mendorong dan
mendukung lahirnya organisasi rakyat lainnya yang sejalan dengan
SPI. Membina jaringan kerja sama dan solidaritas yang saling
memperkuat dengan organisasi pro demokrasi dan pro petani lainnya,
baik di tingkat nasional maupun di tingkat Internasional. Menjalin
hubungan setara dengan aparatur negara yang bersifat kritis baik di
dalam negeri maupun di luar negeri sepanjang tidak bertentangan
dengan pandangan, asas, tujuan dan kepentingan SPI. Mendorong
dan memfasilitasi kerja sama di antara sesama anggota SPI dan kerja
sama dengan organisasi lainnya yang segaris dengan perjuangan SPI.
Mendorong terbangunnya basis produksi petani anggota yang
bertumpu pada kemandirian dan kedaulatan petani. (Bukti P-9)
Bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
maka berpotensi mengancam hak-hak petani anggota SPI di wilayah
pesisir dan menghalangi tujuan SPI untuk melakukan perombakan,
pembaruan, pemulihan, dan penataan model pengelolaan
pembangunan ekonomi secara umum dan kebijakan agraria secara
khusus. Berdasarkan hal tersebut di atas, SPI wajib melakukan
pembelaan bagi anggota yang dilanggar hak asasinya sebagai
manusia, hak asasinya sebagai petani dan hak asasinya sebagai
warga negara, sesuai dengan Pasal 14 ayat (5) Anggaran Dasar SPI
25
melalui judicial review UU Nomor 27 Tahun 2007 ke Mahkamah
Konstitusi.
6) Yayasan Bina Desa Sadajiwa
Bahwa Pemohon VI berdasarkan Akta Pendirian Yayasan Nomor 03
tanggal 18 April 2006, bahwa untuk mencapai maksud dan tujuannya,
Yayasan menjalankan kegiatan sebagai berikut:
(1) Di bidang Sosial:
Mengadakan, menyelenggarakan, dan mendirikan Lembaga
pendidikan, ketrampilan dan pelatihan baik formal maupun non
formal bagi masyarakat di pedesaan. Memfasilitasi reorientasi
kaum intelektual tentang masalah-masalah rakyat. Mengadakan,
menyelenggarakan dokumentasi dan penyebaran informasi dalam
bidang pendidikan melalui penerbitan buku-buku, media massa
elektronik maupun non elektronik. Mengadakan,
menyelenggarakan, pembinaan dalam bidang pendidikan pada
masyarakat pedesaan. Mengadakan, menyelenggarakan,
penelitian di bidang Ilmu Pengetahuan mengenai
kemasyarakatan, kemanusiaan, lingkungan hidup dan teknologi.
Mengadakan, menyelenggarakan studi banding;
(2) Di bidang kemanusiaan:
Memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pedesaan.
Membangun dan mengembangkan masyarakat masyarakat
pedesaan. Memberikan bantuan kepada korban bencana alam,
korban-korban hak asasi manusia. Memberikan bantuan kepada
pengungsi akibat perang. Memberikan bantuan kepada tuna
wisma, fakir miskin, dan geladangan. Memberikan perlindungan
konsumen. Melestarikan lingkungan hidup.
Sesuai dengan Akta dan atau AD/ART di atas, organisasi ini telah
melakukan advokasi kepada para petani dan masyarakat di desa
pesisir yang menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia. Apabila
Undang-Undang ini diberlakukan maka akan semakin banyak petani,
khususnya anggota dari organisasi ini yang bermukim di kawasan
pesisir yang menjadi korban; (Bukti P-10)
26
Bahwa sebagian anggota Bina Desa Sadajiwa terdiri dari masyarakat
pedesaan yang berada di wilayah pesisir, pemberlakuan Undang-
Undang ini berpotensi merugikan masa depan masyarakat pesisir
tersebut.
Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 sangat jelas
berlawanan dengan tujuan Bina Desa Sadajiwa dalam rangka
memfasilitasi pemberdayaan komunitas pedesaan untuk berpartisipasi
dalam menciptakan komunitas pedesaan yang demokratis dan mandiri
(Desa Swabina). Pemberlakuan Undang-Undang a quo juga
berpotensi menghalangi tujua khusus dari Bina Desa Sadajiwa untuk
meningkatkan posisi tawar petani, nelayan, perempuan pedesaan dan
kelompok-kelompok masyarakat pedesaan pada umumnya dalam hal
penguasaan tanah, faktor-faktor produksi dan akses kebijakan sosial
politik.
7) Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)
Bahwa Pemohon VII dalam Pasal 5 Anggaran Dasarnya disebutkan
bahwa YLBHI mempunyai maksud dan tujuan adalah:
Memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma kepada masyarakat
luas yang tidak mampu tanpa membedakan agama, keturunan, suku,
keyakinan politik, jenis kelamin maupun latar belakang sosial budaya;
Menumbuhkan, mengembangkan, dan memajukan pengertian dan
penghormatan terhadap nilai-nilai negara hukum dan martabat serta
hak-hak asasi manusia pada umumnya dan meninggikan kesadaran
hukum dalam masyarakat pada khususnya, baik kepada pejabat
maupun warga negara biasa, agar supaya mereka sadar akan hak-hak
dan kewajiban-kewajiban sebagai subjek hukum; Berperan aktif dalam
proses pembentukan hukum, penegakan hukum dan pembaharuan
hukum sesuai dengan konstitusi yang berlaku dan Deklarasi Umum
Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Right);
Memajukan dan mengembangkan program-program yang
mengandung dimensi keadilan dalam politik, sosial, ekonomi, budaya
dan gender dengan fokus tetapnya pada bidang hukum; (Bukti P-11)
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 menghalangi YLBHI untuk
berperan aktif dalam proses penegakan hukum dan pembaharuan
27
hukum sesuai dengan konstitusi yang berlaku dan Deklarasi Umum
Hak-hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Right);
Pemberlakuan Undang-Undang a quo juga berpotensi menghalangi
YLBHI untuk memajukan dan mengembangkan program-program yang
mengandung dimensi keadilan dalam politik, sosial, ekonomi, budaya
dan gender di wilayah pesisir.
8) Yayasan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)
Bahwa Pemohon VIII tercatat dalam Akta Notaris Arman Lany, S.H.,
Nomor 4 tanggal 17 Juni 2008, selanjutnya kedudukan Pemohon
sebagai badan hukum sudah disahkan Akta Pendiriannya melalui
Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia Nomor C-2898, HT.01.02.TH 2007 tanggal 10 September
2007.
Bahwa Pasal 5 Anggaran Dasar organisasi ini disebutkan bahwa
maksud dan tujuan yayasan ini, adalah:
1. Mendorong peran serta Lembaga Swadaya Masyarakat dalam
usaha pengembangan lingkungan hidup, serta menyalurkan
aspirasinya dalam lingkup nasional.
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat sebagai pembina lingkungan
dan terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.
Selanjutnya dalam Pasal 6 ditentukan: untuk mencapai maksud dan
tujuan tersebut, organisasi ini berusaha:
Memberikan pelayanan kepada Lembaga Swadaya Masyarakat yang
mencakup 3 (tiga) bidang pokok kegiatan:
Komunikasi dan informasi timbal balik di antara sesama Lembaga
Swadaya Masyarakat, di antara Lembaga Swadaya Masyarakat dan
khalayak ramai dan di antara Lembaga Swadaya Masyarakat dengan
pemerintah.
Pendidikan dan latihan untuk memperluas wawasan, membina
ketrampilan dan sikap Lembaga Swadaya Masyarakat dalam rangka
meningkatkan daya guna dan hasil gunanya di bidang pengembangan
lingkungan hidup.
Pengembangan program Lembaga Swadaya Masyarakat, di dalam:
28
Menghimpun permasalahan lingkungan hidup dan sumber daya yang
ada serta menemukan berbagai alternatif pemecahannya.
Mendorong terciptanya kesadaran diri terhadap lingkungan menjadi
kegiatan nyata yang dapat mendatangkan manfaat bagi keselarasan
antara manusia dan alam lingkungannya.
Meningkatkan pengelolaan lingkungan hidup dengan sebanyak
mungkin mengikut sertakan anggota masyarakat secara luas; (Bukti
P-12)
Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 berpotensi
menghambat tujuan WALHI dalam mendorong peran serta Lembaga
Swadaya Masyarakat dalam usaha pengembangan lingkungan hidup
khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta menyalurkan
aspirasinya dalam lingkup nasional.
Berlakunya UU Nomor 27 Tahun 2007 juga berpotensi mengancam
nelayan khususnya anggota dari organisasi ini yang bermukim di
kawasan pesisir yang menjadi korban.
9) Aliansi Petani Indonesia (API)
Pasal 2 Anggaran Dasar Pemohon IX menyebutkan bahwa visi
organisasi dari adalah terwujudnya masyarakat petani yang adil,
makmur dan sejahtera. Bahwa Pasal 3 ditentukan: untuk mencapai visi
dalam Pasal 2 di atas, API memperjuangkan:
Melakukan pemberdayaan melalui pendidikan dan penguatan
ekonomi, politik, sosial dan budaya bagi petani memperjuangkan sistim
pemilikan lahan yang adil terhadap petani. Memperjuangkan
perlindungan hukum terhadap ketersediaan sarana produksi bagi kaum
tani. Mempersatukan berbagai serikat tani di seluruh wilayah Indonesia
berdasarkan visi organisasi tersebut Aliansi Petani Indonesia
melakukan advokasi kepada para petani yang lahannya
disengketakan. Selain itu, tidak sedikit anggota API yang hidup di
kawasan pesisir. Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007, maka banyak anggota API yang tinggal di kawasan
pesisir akan kehilangan akses mereka terhadap sumber daya kelautan
di lingkungannya; (Bukti P-13)
29
Bahwa sebagian anggota API terdiri dari serikat nelayan dan serikat
petani, pemberlakuan Undang-Undang ini berpotensi merugikan masa
depan serikat nelayan.
Bahwa pemberlakuan HP3 di wilayah pesisir mengganggu hak-hak
kepemilikan kaum tani yang sudah diatur dan dijamin dalam Undang-
Undang 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria dan
peraturan terkait lainnya.
Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 sangat jelas
berlawanan dengan tujuan API untuk melakukan pemberdayaan
melalui pendidikan dan penguatan ekonomi, politik, sosial dan budaya
bagi petani, termasuk juga memperjuangkan sistim pemilikan lahan
yang adil terhadap petani pesisir.
C.2 PEMOHON PERORANGAN
10) Bahwa Pemohon X sampai dengan Pemohon XXVI adalah nelayan
yang dalam kesehariannya sebagian besar tinggal dan mencari
penghidupan di wilayah pesisir. Pemohon X sampai dengan Pemohon
XXVI ini adalah pihak yang terkena dampak langsung atas berlakunya
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 sehingga mengancam sumber
penghidupannya;
Bahwa dengan berlakunya Undang-Undang a quo, berpotensi
menghilangkan akses terhadap wilayah tangkap Pemohon X sampai
dengan Pemohon XXVI sehingga berakibat kepada menurunnya
penghasilan sehari-hari, bahkan dapat berakibat pada hilangnya hak
hidup dan hak untuk mempertahankan kehidupannya. Selain itu juga
berpotensi melanggar hak atas pekerjaan yang layak, hak untuk
menjalankan kepercayaan dan keyakinan serta hak untuk bertempat
tinggal.
Bahwa selanjutnya dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
006/PUUIII/2005 dan Putusan Nomor 010/PUU-III/2005 telah
menentukan 5 (lima) syarat kerugian konstitusional sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi, sebagai berikut:
(a). Adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional yang diberikan
oleh UUD 1945;
30
(b). Hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut dianggap telah
dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan
pengujian;
(c). Kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut
bersifat spesifik (khusus) dan aktual atau setidak-tidaknya bersifat
potensial yang menurut penalaran yang wajar dapat dipastikan
akan terjadi;
(d). Adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian
hak dan/atau kewenangan konstitusional dengan undang-undang
yang dimohonkan pengujian;
(e). Adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan
maka kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional yang
didalilkan tidak lagi terjadi;
Bahwa berdasarkan kriteria-kriteria tersebut para Pemohon merupakan
pihak yang memiliki hubungan sebab akibat (causal verband) antara
kerugian konstitusional dengan berlakunya Undang-Undang yang
dimohonkan untuk diuji karena Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
khususnya Bab V (Pemanfaatan) Pasal 16 sampai dengan Pasal 21
yang di dalamnya memuat soal Hak Pengusahaan Perairan Pesisir
(HP3) bertentangan dengan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 27
ayat (2), Pasal 28, dan Pasal 28C UUD 1945.
Keberadaan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil hanya memberikan
peluang dan hak-hak istimewa kepada para investor kaya dan
mematikan hak-hak konstitusional para Pemohon yang dalam hal ini
berbicara untuk dan atas nama rakyat kecil yang semakin
termarjinalkan dengan diberlakukannya pasal-pasal yang tersebut di
atas.
Bahwa dilihat dari fakta hukum di beberapa daerah kepulauan di
Indonesia telah terjadi privatisasi pulau-pulau dan pesisir sehingga
sangat berpotensi menggerus keberadaan nelayan-nelayan lokal serta
budaya kebaharian nelayan;
31
Dengan demikian, para Pemohon berpendapat bahwa para Pemohon
memiliki kedudukan hukum (legal standing) sebagai pihak dalam
permohonan pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945
sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi;
D. FAKTA-FAKTA HUKUM
Bahwa melihat laju kerusakan sumber daya pesisir yang mencapai tingkat
mengkhawatirkan. Kerusakan sumber daya pesisir tersebut berimplikasi
langsung terhadap penurunan kualitas habitat perikanan dan mengurangi
sumber daya perikanan untuk berkembang serta mengurangi fungsi lingkungan
pesisir. Pencemaran pesisir juga menurunkan kualitas air dan meningkatkan
kadar beracun serat logam berat yang berimplikasi menimbulkan ancaman
terhadap ekosistem pesisir serta keracunan ikan. Penyumbang kerusakan
pesisir juga bersumber dari akibat pemanfaatan berlebih (over exploitation),
jenis stok sumber daya ikan yang telah mengalami over fishing adalah ikanikan
komersial, seperti udang dan ikan karang;
Bahwa telah terjadi peningkatan kerusakan di beberapa kawasan pesisir di
Indonesia telah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Kerusakan
tersebut di antaranya sebagai berikut:
a. Menurunnya Kualitas Perairan
Kondisi kualitas air di laut Indonesia sudah sangat memperihatinkan,
khususnya di kawasan padat penduduk, kegiatan industri, pertanian sangat
sensitif, dan lalu lintas pelayaran yang padat, seperti di Teluk Jakarta, Selat
Makassar, Semarang, Surabaya, Lhokseumawe dan Balikpapan.
Konsentrasi logam berat Hg di perairan Teluk Jakarta pada tahun 1977-
1978 berkisar antara 0,005-0,35 ppm (BATAN, 1979). Kemudian pada
tahun 1982 tercatat antara 0,005-0,029 ppm (LON LIPI, 1983). Sementara
itu, ambang batas baku mutu lingkungan dengan Kepmen KLH Nomor
02/1988 adalah sebesar 0,003 ppm. Dengan demikian kondisi perairan
Teluk Jakarta tercemar logam berat.
Dari hasil penelitian Pusat Sumber Daya Pesisir dan Lautan, Institut
Pertanian Bogor (PKSPL-IPB) pada tahun 1996, nilai BOD di Muara Kamal
mencapai rata-rata 35,75, COD berkisar antara 31,89-48,83 ppm, amonia di
Muara Ancol sebesar 2,25 ppm serta peningkatan kadar jenis logam berat.
32
b. Erosi
Problem wilayah pesisir juga semakin kritis, karena banyaknya lahan
daratan yang terkikis setiap harinya dikarenakan ombak laut menerjang
daratan. Minimnya tanaman mangrove juga semakin memperparah
kerusakan wilayah pesisir selain memang faktor manusianya. Beberapa
kasus erosi pantai di Indonesia yang memerlukan perhatian dan
penanganan segera, seperti:
1. Di Aceh terdapat 34 lokasi kerusakan Pantai akibat erosi;
2. Di Sumatera Utara terdapat 5 lokasi kerusakan akibat erasi;
3. Di Sumatera Barat terdapat 6 lokasi kerusakan akibat erosi;
4. Di Bengkulu terdapat 3 lokasi kerusakan akibar erosi;
5. Di Lampung terdapat 1 lokasi kerusakan akibat erosi;
6. Di DKI Jakarta terdapat 8 lokasi kerusakan akibat erosi;
7. Di Jawa Barat terdapat 28 lokasi kerusakan akibat erosi;
8. Di Jawa Tengah terdapat 4 lokasi kerusakan akibat erosi;
9. Di Yogyakarta terdapat 2 lokasi kerusakan akibat erosi;
10. Di Jawa Timur terdapat 5 lokasi kerusakan akibat erosi;
11. Di Bali terdapat 21 lokasi kerusakan akibat erosi;
12. Di Nusa Tenggara Barat terdapat 1 lokasi kerusakan akibat erosi;
13. Di Kalimantan Barat terdapat 3 lokasi kerusakan akibat erosi;
14. Di Kalimantan Timur 1 lokasi kerusakan akibat erosi;
15. Di Sulawesi Utara terdapat 2 lokasi kerusakan akibat erosi;
c. Sedimentasi
Kerusakan wilayah pesisir juga terjadi akibat adanya sedimentasi, laju
sedimentasi ini cukup tinggi di beberapa daerah. Contoh, sedimentasi yang
terbawa oleh aliran Sungai Citandui sebesar 5 juta m³ per tahun, dan
Sungai Cikonde sebesar 770.000 m³ per tahun yang diendapkan ke Segara
Anakan, Sungai Barito sebesar 733.00 m³ per tahun yang diendapkan dialur
pelayanan pelabuhan Banjarmasin dan Sungai Mahakam sebesar 2,2 juta
m³ per tahun endapan lumpur yang harus dikeruk dilaur pelayaran sungai
Mahakam.
Bahwa munculnya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 ini merupakan
inisiatif pemerintah (dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan)
karena melihat persoalan bahwa pengelolaan wilayah pesisir, memerlukan
33
pengaturan secara terpadu agar potensi sumber daya pesisir yang dapat
dikembangkan dan dimanfaatkan bagi pembangunan daerah dan nasional
secara berkelanjutan. Pembangunan tersebut tidak boleh mengorbankan
kepentingan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan
sumber daya pesisir generasi saat ini, yang diyakini bangsa Indonesia. Oleh
karena pentingnya pengaturan mengenai wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil, maka diperlukan adanya regulasi yang mengatur tentang hal tersebut;
(Bukti P-14)
Bahwa pada tanggal 26 Juni 2007, parlemen telah menyetujui rancangan
Undang-Undang yang diajukan oleh Pemerintah RI, menjadi Undang-
Undang, dan selanjutnya disahkan oleh Pemerintah RI c.q. Presiden RI
menjadi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang diundangkan pada tanggal 17
Juli 2007 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor
84 (Bukti P-15)
Bahwa tujuan penyusunan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, sesuai
dengan penjelasan Bab tentang Dasar Pemikiran ini adalah:
(1) Menyiapkan peraturan setingkat undang-undang mengenai
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, khususnya yang
menyangkut perencanaan, pemanfaatan hak dan akses masyarakat,
penanganan konflik, konservasi, mitigasi bencana, reklamasi pantai,
rehabilitasi kerusakan pesisir dan penjabaran konvensi-konvensi
internasional terkait;
(2) Membangun sinergi dan saling memperkuat antar lembaga Pemerintah
baik di pusat maupun di daerah yang terkait dengan Pengelolaan
Wilayah Pesisir sehingga tercipta kerja sama antar lembaga yang
harmonis dan mencegah serta memperkecil konflik pemanfaatan dan
konflik kewenangan antar kegiatan di wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil; serta
(3) Memberikan kepastian dan perlindungan hukum serta memperbaiki
tingkat kemakmuran masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil melalui
pembentukan peraturan yang dapat menjamin akses dan hak-hak
masyarakat pesisir melalui pembentukan peraturan yang dapat
34
menjamin akses dan hak-hak masyarakat pesisir serta masyarakat
yang berkepentingan lain, termasuk pihak pengusaha;
Bahwa apa yang tercantum dalam dasar pemikiran Undang-Undang ini
bertolak belakang dari fakta dan implementasi di lapangan, masyarakat
pesisir yang seharusnya mendapat keuntungan dengan adanya Undang-
Undang ini malah terancam keberadaannya;
Bahwa dari data yang diperoleh dari hasil penelitian Riza Damanik, Arif
Satria, dan Budi Prasetiamartati yang sudah dibukukan dalam judul “Menuju
Konservasi Laut yang Pro Rakyat dan Pro Lingkungan”, tahun 2006 terbitan
oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), ditemukan adanya dominasi
pengusaha dalam penguasaan pulau. (Bukti P-16)
Daftar penguasaan pulau dan Taman Nasional oleh sektor swasta,
termasuk Asing:
NO. NAMA LUAS (HA) SURAT
KEPUTUSAN
PENGUASAAN
1 Taman Nasional
Kepulauan
Seribu
108,000 MenHut/162/Kpt
s-II/1995.
2 Taman Nasional
Karimunjawa
111,625 MenHut/75/Kpts
-II/1999
PT Raja Besi,
PT Awani, PT
PURA, Mr.
Soren Lax, Mr.
Hendrawan
T.S, Mr. Jel,
3 Taman Nasional
Taka Bone Rate
530,765 MenHut/280/Kpt
s-II/1992
4 Taman Nasional
Wakatobi
1,390,000 MenHut/393/Kpt
s-II/1996
PT WDR dan
OPWAL
5 Taman Nasional
Bunaken
89,065 MenHut/730/Kpt
s-II/1991
6 Taman Nasional
Teluk
1,453,500 MenHut/472/Kpt
s-II/1993
35
Cenderawasih
7 Taman Nasional
Ujung Kulon
78,619 MenHut/284/Kpt
s-II/1992
8 Taman Nasional
Komodo
181,700 MenHut/306/Kpt
s-II/1992
PT Putri Naga
Komodo (TNC
&
Jaitasha/Faisal
Hasim)
9 Taman Nasional
Togean
10 66 Pulau di
Lombok Barat
Sedang
diproses (DKP)
PT Hanno Bali
11 12 Pulau di
Kepri
Sedang
diproses (DKP)
PT Hanno Bali
12 Pulau Nipah di
Batam
Sedang
diproses (DKP)
PT Asinusa
Putra Sekawan
13 Pulau Gebe
Maluku Utara
Sedang
diproses (DKP)
PT Samudera
Mina Semesta
14 Pulau Mapur Sedang
diproses (DKP)
Yayasan Hang
Tuah
Bahwa mulai dari awal dibahasnya rancangan Undang-Undang sampai
dengan disahkannya menjadi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, telah
mendapatkan banyak penolakan dan kecaman dari berbagai unsur
masyarakat. (Bukti P-17)
E. ALASAN-ALASAN PENGAJUAN PERMOHONAN UJI MATERIIL
Bahwa Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 23
ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 sebagai
penjelasan objek HP-3 tumpang tindih dengan peraturan perundang-undangan
yang lain sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum dan bertentangan
dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945;
36
Bahwa dalam Undang-Undang a quo, objek HP-3 diatur secara keseluruhan
melalui Pasal 1 angka 4, angka 7 dan angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 23
ayat (2) dan ayat (4), antara lain sebagai berikut: Pasal 1 angka 4 Undang-
Undang a quo menyatakan bahwa Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
adalah sumber daya hayati, sumber daya nonhayati; sumber daya buatan, dan
jasa-jasa lingkungan; sumber daya hayati meliputi ikan, terumbu karang,
padang lamun, mangrove dan biota laut lain; sumber daya nonhayati meliputi
pasir, air laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut
yang terkait dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa lingkungan berupa
keindahan alam, permukaan dasar laut tempat instalasi bawah air yang terkait
dengan kelautan dan perikanan serta energi gelombang laut yang terdapat di
Wilayah Pesisir;
Pasal 1 angka 7 Undang-Undang a quo menyatakan Perairan Pesisir adalah
laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas)
mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan
pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna;
Pasal 1 angka 18 Undang-Undang a quo menyatakan Hak Pengusahaan
Perairan Pesisir, selanjutnya disebut HP-3, adalah hak atas bagian-bagian
tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan dan perikanan, serta usaha
lain yang terkait dengan pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil yang mencakup atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan
permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu;
Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang a quo menyatakan bahwa pemanfaatan
perairan pesisir diberikan dalam bentuk HP-3;
Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang a quo menyatakan bahwa pemanfaatan
pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya diprioritaskan untuk salah satu atau
lebih kepentingan berikut: konservasi; pendidikan dan pelatihan; penelitian dan
pengembangan; budidaya laut; pariwisata; usaha perikanan dan kelautan dan
industri perikanan secara lestari; pertanian organik; dan/atau peternakan;
Pasal 23 ayat (4) Undang-Undang a quo menyatakan bahwa Pemanfaatan
Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dan memenuhi persyaratan pada ayat (3) wajib mempunyai HP-3 yang
diterbitkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan
kewenangannya;
37
Bahwa pengaturan tentang objek HP-3 terdapat dalam Pasal 1 angka 4, angka
7 dan angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 23 ayat (2) dan ayat (4). Secara
ringkas, objek HP-3 tersebut digambarkan dalam Tabel berikut:
Tabel 1: Objek HP-3 dan Bentuk Pemanfaatannya
OBJEK HP-3 PEMANFAATAN
Perairan Pesisir
Usaha Kelautan seperti budidaya
rumput laut atau wisata laut Usaha
Perikanan Laut seperti budidaya
kerang mutiara/ikan kerapu/kepiting
Sumber Daya Pesisir dan Pulau Kecil
Pemanfaatan keindahan alam pesisir
termasuk terumbu karang bagi usaha
wisata alam. Pemanfaatan
pasir/mineral laut bagi usaha
penambangan Pemanfaatan
gelombang laut bagi usaha tenaga
listrik Pemanfaatan air laut untuk air
minum melalui usaha penyulingan
Daratan (Tanah) Pulau–Pulau Kecil
Usaha Non–Komersial seperti
pendidikan dan pelatihan serta
penelitian dan pengembangan Usaha
Komersial seperti pariwisata alam,
industri perikanan (pabrik
pengalengan ikan), pertanian organik,
dan peternakan.
Sumber: Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 23
ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
Jika objek HP-3 dicermati, maka terdapat kerancuan atau tumpang tindih
antara objek HP-3 tersebut dengan objek perizinan di bidang kehutanan,
pertambangan, dan pariwisata. Tumpang tindih objek tersebut di antaranya
adalah: (1) antara HP-3 dengan perizinan bidang kehutanan yaitu tentang
pemanfaatan hutan mangrove, fauna/flora yang terdapat di kawasan perairan
pantai, dan penggunaan jasa lingkungan di kawasan hutan mangrove tersebut;
(2) antara HP-3 dengan perijinan bidang pertambangan yaitu pemanfaatan
pasir sebagai sumber daya di kawasan pantai dan mineral dalam laut; (3)
antara HP-3 dengan perizinan bidang pariwisata yaitu pengembangan wisata
pantai;
Di samping itu, karena luas cakupan objek HP-3 terutama yang terkait dengan
pemanfaatan daratan (permukaan bumi yang disebut tanah) maupun tubuh
38
bumi, termasuk yang di bawah air, maka terjadi tumpang tindih dengan objek
pengaturan di bidang pertanahan. Selama ini, dalam praktik telah diberikan hak
atas tanah sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960) yang dapat berupa Hak Guna
Bangunan (HGB), di wilayah dermaga dan perairan pantai, rumah-rumah
nelayan dan pelatarannya, bangunan-bangunan di perairan pesisir; Hak Guna
Usaha (HGU) diberikan untuk budidaya perikanan pantai, keramba ikan,
budidaya rumput laut, budidaya mutiara;
Bahwa Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menyatakan, “Setiap orang berhak atas
pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di hadapan hukum”;
Bahwa terdapat potensi tumpang tindih HP-3 dengan pemberian hak atau
perizinan oleh instansi/sektor lain yang secara nyata bertentangan dengan
Pasal 28D ayat (1) UUD 1945, yang mana Pasal 1 angka 4, angka 7, dan
angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 23 ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang
a quo justru melakukan pengaturan terhadap hal-hal yang telah diatur pula
dalam peraturan perundang-undangan lainnya, sehingga apabila diberlakukan
akan sangat berpotensi tumpang tindih yang pada akhirnya justru mereduksi
bahkan menghilangkan jaminan, perlindungan dan kepastian hukum bagi
warga negara, masyarakat, utamanya nelayan dan warga pesisir;
Bahwa Pasal 1 angka 18 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 yang
mengatur konsep HP3 sebagai hak bertentangan dengan Pasal 33 ayat (2) dan
ayat (3) UUD 1945;
Bahwa Pasal 1 angka 18 Undang-Undang a quo menyatakan Hak
Pengusahaan Perairan Pesisir, selanjutnya disebut HP-3, adalah hak atas
bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan dan
perikanan, serta usaha lain yang terkait dengan pemanfaatan Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mencakup atas permukaan laut dan kolom
air sampai dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu;
Bahwa Pasal 33 UUD 1945 yang merupakan pasal ideologi dan politik ekonomi
Indonesia, yang memuat tentang Hak Penguasaan Negara, utamanya dalam
Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945;
39
Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 menyebutkan, “Cabang-cabang produksi yang
penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai
oleh negara”. Selanjutnya, Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menegaskan bahwa
“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”;
Bahwa pengertian “cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan
menguasai hajat hidup orang banyak” yang disebutkan di dalam penjelasan
Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 adalah: “Produksi dikerjakan oleh semua, untuk
semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat.
Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orangperorang.
Sebab itu, perekonomian disusun bersama berdasar asas
kekeluargaan”;
Bahwa menurut ahli, cabang-cabang produksi yang penting bagi negara, akhirakhir
ini menggunakan istilah the strategical economic sector on economic
government atau sektor-sektor strategis/cabang-cabang produksi yang
strategis;
Bahwa dalam konteks kelautan dan pulau-pulau kecil jelas merupakan cabang
produksi yang strategis dan menguasai hajat hidup orang banyak. Wilayah laut
Indonesia sangat luas, yaitu 5,8 juta kilometer, sama dengan tiga per empat
dari keseluruhan luas wilayah Indonesia. Pada luas laut yang demikian, di
dalamnya terdapat lebih 17.500 pulau besar dan kecil serta dikelilingi garis
sepanjang 95.000 kilometer, yang berarti merupakan garis pantai terpanjang
kedua di dunia setelah Kanada. Oleh karena itu, Indonesia dikenal sebagai
negara maritim dan kepulauan terbesar dunia. Dari sisi populasi penduduk,
masyarakat pesisir diperkirakan mencapai 16,42 juta jiwa dan mendiami 8.090
desa. (Bukti P-18);
Pengertian “dikuasai oleh Negara” dalam Pasal 33 UUD 1945:
Bahwa DR. Mohammad Hatta, founding fathers Negara Indonesia, yang juga
tokoh ekonomi Indonesia, mantan Wakil Presiden I dan salah satu arsitek UUD
1945, menyatakan, “…Pemerintah membangun dari atas, melaksanakan yang
besar-besar seperti membangun tenaga listrik, persediaan air minum, …,
menyelenggarakan berbagai macam produksi yang menguasai hajat hidup
orang banyak. Apa yang disebut dalam bahasa Inggris “public utilities”
diusahakan oleh pemerintah. Milik perusahaan besar tersebut sebaik-baiknya
40
di tangan pemerintah…” (Tulisan DR. Mohammad Hatta dalam Majalah Gema
Angkatan 45 terbitan tahun 1977, dengan judul: “Pelaksanaan UUD 1945 Pasal
33”);
Bahwa Mohammad Hatta merumuskan pengertian tentang dikuasai oleh
negara, bukan berarti negara sendiri yang menjadi pengusaha, usahawan atau
ordernemer. Lebih tepat dikatakan bahwa kekuasaan negara terdapat pada
pembuat peraturan guna kelancaran jalan ekonomi, peraturan yang melarang
pula penghisapan orang yang lemah oleh orang yang bermodal;
Mohammad Yamin merumuskan pengertian dikuasai oleh negara adalah
termasuk pada mengatur dan/atau menyelenggarakan terutama untuk
memperbaiki dan mempertinggi produksi dengan mengutamakan koperasi;
Panitia Keuangan dan Perekonomian bentukan Badan Penyelidik Usaha-
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang diketuai oleh
Mohammad Hatta merumuskan pengertian dikuasai oleh negara;
Pemerintah harus menjadi pengawas dan pengatur dengan berpedoman
keselamatan rakyat. Semakin besarnya perusahaan dan semakin banyaknya
jumlah orang yang menggantungkan dasar hidupnya karena semakin besar
mestinya penyertaan pemerintah. Tanah haruslah di bawah kekuasaan negara
perusahaan tambang yang besar dijalankan sebagai usaha negara.
Dengan demikian, cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai
hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara dalam artian diatur dan
diselenggarakan oleh pihak-pihak yang diberi wewenang oleh negara dan
bertindak untuk dan atas nama negara berdasarkan peraturan perundangan
yang berlaku. Dalam tatanan peraturan dan perundangan yang berlaku di
Indonesia pihak-pihak yang dapat bertindak untuk dan atas nama negara
adalah instansi-instansi pemerintahan dalam hal kegiatan yang berhubungan
dengan pemerintahan dan politik, sedangkan dalam hal kegiatan usaha,
instansi pemerintah yang bukan merupakan badan usahapun tidak dapat
melakukan tindakan yang bersifat bisnis untuk dan atas nama negara sesuai
peraturan dan perundangan yang berlaku;
Penguasaan negara dalam Pasal 33 UUD 1945 menurut Mahkamah Konstitusi
dalam pertimbangan pengujian Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002
terhadap Pasal 33 UUD 1945 menyatakan bahwa penguasaan negara dalam
41
Pasal 33 UUD 1945 mengandung pengertian yang lebih tinggi daripada
pemilikan dalam konsepsi hukum perdata. Konsepsi penguasaan negara
merupakan konsepsi hukum publik yang berkaitan dengan kedaulatan publik;
Bahwa mengenai konsep Penguasaan Negara di dalam pertimbangan hukum
putusan Mahkamah Konstitusi perkara Undang-Undang Minyak dan Gas,
Undang-Undang Ketenagalistrikan, dan Undang-Undang Sumber Daya Alam,
menafsirkan mengenai “Hak Menguasai Negara/HMN” bukan dalam makna
negara memiliki, tetapi dalam pengertian bahwa negara merumuskan kebijakan
(beleid), melakukan pengaturan (regelendaad), melakukan pengurusan
(bestuurdaad), melakukan pengelolaan (beheersdaad), dan melakukan
pengawasan (toezichthoudendaad);
Dengan demikian, makna penguasaan negara terhadap cabang-cabang
produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak, serta
terhadap sumber daya alam, tidak menafikan kemungkinan perorangan atau
swasta berperan asalkan lima peranan negara/pemerintah sebagaimana
disebut di atas masih tetap dipenuhi dan sepanjang pemerintah dan pemerintah
daerah memang tidak atau belum mampu melaksanakannya;
Bahwa meskipun kelima peranan negara/pemerintah tersebut di atas telah
terpenuhi, harus tetap diingat bahwa tujuan dari penguasaan negara adalah
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sehingga harus dapat
dipastikan/dijamin bahwa lahirnya suatu undang-undang yang bersinggungan
dengan kewajiban negara untuk mensejahterakan rakyat terkait dengan
cabang-cabang produksi maupun sumber daya alam tidak menimbulkan
kesalahan fatal di dalam pelaksanaannya;
Bahwa konsep HP3 tidak sejalan dengan pengertian Pasal 33 ayat (2) dan ayat
(3) UUD 1945 tersebut di atas akan lebih jelas diterangkan di bawah ini:
Dalam diskursus tentang hubungan hukum antara orang (termasuk orang
perorangan dan badan hukum) dengan objek dikenal konsep tentang hak
kebendaan (zakelijk recht) dan hak perorangan (persoonlijk recht).
Kriteria/ukuran yang digunakan untuk menentukan apakah suatu hubungan
hukum disebut hak atau izin adalah: Sifat hubungan hukum antara subjek
dengan objek; Isi kewenangan; Daya lekat hubungan hukum dengan objeknya;
Pembebanan dengan hak lain;
42
Secara ringkas, tolok ukur pembeda antara hak kebendaan dan hak
perorangan digambarkan dalam tabel berikut:
Kriteria Hak Kebendaan dan Hak Perorangan
Unsur Hak Kebendaan Hak Perorangan
Sifat hubungan
Ada hubungan hukum
langsung antara subjek dan
objek berupa hubungan
kepemilikan/kepunyaan
Tidak ada hubungan
kepemilikan/kepunyaan yang
ada hanya hubungan hukum
antar subjek berkenaan
dengan objek
Isi kewenangan
Memberikan kewenangan
yang luas yaitu
memanfaatkan/menikmati
benda/objek yang
bersangkutan atau
hasilnya, melakukan
semua perbuatan hukum
atas benda, dan memanfaatkan
nilai ekonomis
benda
Hanya memberi kewenangan
terbatas yaitu memanfaatkan/
menikmati benda/hasilnya
Daya lekat haknya
Haknya melekat/ mengikuti
terus menerus di tangan
siapapun benda berada
(droit de suite)
Hak hanya melekat selama
berada dalam penguasaan
subjek yang diberi
Pembebanan
dengan hak lain
Dapat dibebani dengan hak
lain baik hak perorangan
maupun hak kebendaan
lainnya dan hak jaminan
untuk pelunasan utang
Tidak dapat dibebani dengan
hak yang lain apapun.
Sumber: Diringkas dari L.J. van Apeldoorn dan Sri Soedewi Masjchoen Sofwan
Berdasarkan tolok ukur pembeda tersebut dapat dikatakan bahwa berdasarkan
ciri-ciri HP-3 lebih cenderung dikategorikan sebagai hak perorangan. Impilkasi
hukumnya adalah:
43
Penyebutan HP-3 sebagai “hak” tidak tepat. Lebih tepat digunakan istilah
“izin” untuk memanfaatkan (dalam hal ini mengusahakan) perairan pesisir.
Contoh: Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
“hak” dalam Undang-Undang yang lama (Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1967) telah dikoreksi dengan penyebutan “Izin”, misalnya Izin Usaha
Pemanfaatan Kawasan, Izin Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Izin Usaha
Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu, Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan
Kayu, Izin Pemungutan Hasil Hutan Kayu, Izin Pemungutan Hasil Hutan Bukan
Kayu;
Sebagai izin pemanfaatan/pengusahaan perairan pesisir, HP-3 selayaknya
tidak dilekati dengan sifat-sifat sebagai berikut: dapat dialihkan, dihibahkan,
ditukarkan, disertakan sebagai modal perusahaan, dijadikan objek hak
tanggungan maupun diwariskan. Sebab, jika pemanfaatan HP-3 menghasilkan
sesuatu yang bernilai ekonomis, HP-3 dapat dijadikan jaminan utang dengan
dibebani fidusia sesuai dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999.
HP-3 tidak perlu didaftarkan untuk diterbitkan sertifikatnya karena objek HP-3
tidak jelas (tidak pasti substansi dan volume objeknya) dan tidak bersifat tetap
serta tidak dapat dijadikan sebagai objek kepemilikan;
Sesuai dengan konsep Penguasaan Negara di dalam pertimbangan hukum
putusan Mahkamah Konstitusi perkara Undang-Undang Minyak dan Gas,
Undang-Undang Ketenagalistrikan, dan Undang-Undang Sumber daya Alam,
menafsirkan mengenai “hak menguasai negara/HMN” bukan dalam makna
negara memiliki, tetapi dalam pengertian bahwa negara merumuskan kebijakan
(beleid), melakukan pengaturan (regelendaad), melakukan pengurusan
(bestuurdaad), melakukan pengelolaan (beheersdaad), dan melakukan
pengawasan (toezichthoudendaad) yang semuanya ditujukan sebesarbesarnya
untuk kemakmuran rakyat. Fungsi pengaturan/bestuurdaad meliputi
pemberian dan pencabutan izin dan konsesi.
Bahwa dikarenakan HP-3 lebih cenderung kepada hak perorangan, maka
negara lebih tepat memberikan konsep HP-3 sebagai izin.
Bahwa berdasarkan hal tersebut di atas telah terbukti bahwa Pasal 1 ayat (18)
bertentangan dengan prinsip dikuasai oleh negara dalam arti bestuurdaad.
44
Bahwa Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 bertentangan
dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 28A , Pasal 28D ayat (1), Pasal 28I ayat (2) dan
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
a. Pasal 14 (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 bertentangan
dengan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945;
Pasal 14 ayat (1) menyatakan bahwa: Usulan penyusunan RSWP-3-K,
RZWP-3-K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K dilakukan oleh Pemerintah
Daerah serta dunia usaha.
Bahwa ketentuan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
yang hanya menyatakan bahwa usulan penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-
K, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K hanya dilakukan oleh pemerintah daerah
serta pelaku usaha yang tidak menyebutkan adanya masyarakat dapat
berpotensi untuk menimbulkan pertentangan dengan ketentuan Pasal 1
ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa Negara Indonesia adalah
negara hukum.
Bahwa kepastian hukum tentang persamaan dan kedudukan hukum yang
sama di mata hukum adalah prasyarat negara hukum (rechtsstaat atau
constitusional state) yang secara tegas dan terang dinyatakan dalam Pasal
1 ayat (3) UUD 1945 yaitu: “Negara Indonesia adalah negara hukum” hal ini
jelas menunjukkan bahwa negara memandang semua warga negara sama
dalam kedudukannya.
Bahwa di zaman modern, konsep negara hukum Eropa Kontinental
dikembangkan antara lain oleh Imanuel Kahn, Paul Laband, Julius Stahl,
Ficthe dengan menggunakan istilah Jerman yaitu “rechtsstate”. Sedangkan
dalam tradisi Anglo Amerika, konsep Negara Hukum dikembangkan atas
kepeloporan A.V. Dicey dengan sebutan “The rule of law”. Menurut Julius
Stahl, konsep negara hukum yang disebutkan dalam istilah dalam
“rechtsstate” itu mencakup empat elemen antara lain:
1. Perlindungan terhadap hak asasi manusia;
2. Pembagian Kekuasaan;
3. Pemerintahan berdasarkan undang-undang;
4. Peradilan Tata Usaha;
Sedangkan A.V. Dicey menguraikan adanya ciri penting dalam setiap
Negara Hukum yang disebutkan dalam istilah “The Rule of Law”, yaitu:
45
1. Supremacy of law;
2. Equality before the law;
3. Due process law;
Bahwa keempat prinsip “rechtsstate” yang dikembang oleh Julius Sthal
tersebut di atas pada prinsipnya dapatlah dipadukan dengan ketiga prinsip
negara hukum A.V. Dicey untuk menandai ciri-ciri Negara Hukum zaman
sekarang. Bahkan, oleh “The International commision of Jurist”, prinsipprinsip
negara hukum itu ditambah dengan prinsip peradilan yang bebas dan
tidak memihak (indepence and impartiality of judiaciary) yang zaman
sekarang makin dirasakan mutlak diperlukan dalam setiap negara
demokrasi. Prinsip-prinsip yang dianggap penting dalam Negara Hukum
menurut “The International Commission of Jurists adalah:
1. Negara harus tunduk pada hukum;
2. Pemerintah menghormati hak-hak individu;
3. Peradilan yang bebas dan tidak memihak;
Bahwa selanjutnya menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H, dalam
merumuskan ide-ide pokok konsepsi Negara Hukum kita dapat merumuskan
tiga belas prinsip di antaranya adalah prinsip persamaan di hadapan hukum
(equality before the law), bahwa yang dimaksud persamaan di depan hukum
adalah adanya persamaan kedudukan setiap orang dalam hukum dan
pemerintahan, yang diakui secara normatif dan dilakukan secara empirik;
Bahwa dalam menjalankan prinsip persamaan di hadapan hukum ini, segala
sikap dan tindakan diskriminatif dalam segala bentuk dan manifestasinya
diakui sebagai sikap dan tindakan terlarang, kecuali tindakan-tindakan yang
bersifat khusus dan sementara dinamakan “affirmative action” guna
mendorong dan mempercepat kelompok masyarakat tertentu (nelayan) atau
kelompok warga masyarakat tertentu untuk mengejar kemajuan sehingga
mencapai tingkat perkembangan yang sama dengan masyarakat lainnya;
Bahwa sebagaimana diuraikan di atas, pengertian persamaan di muka
hukum (equality before the law) adalah adanya persamaan kedudukan setiap
orang dalam hukum dan pemerintahan, yang diakui secara normatif dan
dilaksanakan secara empirik;
46
Bahwa persamaan di muka hukum mengandung larangan untuk
melakukan diskriminasi dalam bidang hukum. Larangan diskriminasi di
bidang hukum ini sesuai dengan pengertian diskriminasi dalam Undang-
Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yakni setiap
pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak
langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku,
ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin,
bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau
penghapusan pengakuan, pelaksanaan, atau penggunaan hak asasi
manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun
kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya dan aspek
kehidupan lainnya;
Bahwa persamaan di depan hukum atau “equality before the law” juga harus
diikuti dengan persamaan perlakuan hukum (equality treatment) untuk itu
Negara wajib bertanggung jawab atas pelaksanaan asas tersebut dengan
kata lain bahwa setiap warga negara mendapatkan hak yang sama sebagai
wujud perlindungan negara;
Bahwa hak persamaan di depan hukum sangat tergantung pada
pemahaman negara dan aparat-aparatnya, walaupun negara telah
meratifikasi berbagai instrumen mengenai Hak Asasi Manusia termasuk
Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM 10 Desember 1948
melalui resolusi 217 A) yang didalamnya jelas di Pasal 7 “semua sama di
depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama tanpa
diskriminasi… “
Bahwa Pasal 14 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, telah memotong hak
masyarakat untuk bersama-sama dalam kedudukannya sebagai subjek
hukum lainya bersama-sama mempunyai hak mengusulkan penyusunan
Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RSWP-3-K),
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K),
Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP-3-K)
serta Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RAPWP-3-K);
47
Bahwa penutupan akses masyarakat untuk ikut serta dalam penyusunan
rencana tersebut di atas adalah salah satu bentuk perbuatan perbedaan
perlakuan (diskriminatis treatment), sehingga berakibat hak konstitusional
warga negara (terutama nelayan kecil) sangat dirugikan atas ketentuan pasal
tersebut;
Bahwa usulan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, RPWP-3-K, RAPWP-3-K
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 14 Undang-
Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir
memang sangat berpengaruh kepada kehidupan nelayan setempat (user).
Pelibatan masyarakat berdasarkan norma-norma, standar, dan pedoman,
yang hanya diperoleh dalam ruang-ruang melalui konsultasi publik dan atau
masyarakat adat, baik formal atau musyawarah adat, baik formal maupun
non formal adalah upaya melemahkan perlawanan nelayan maupun
masyarakat adat wilayah pesisir;
Bahwa tidak tercantumnya masyarakat atau nelayan dalam usulan rencana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 27 Tahun
2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir menimbulkan konsekuensi luar
biasa terhadap keberadaan nelayan seluruh Indonesia. Di mana usulan atas
wilayah pesisir yang meliputi wilayah laut yang berbatasan dengan daratan
meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai yang
menghubungkan pantai dan pulau-pulau adalah kawasan yang selama ini
menjadi sumber penghidupan nelayan;
Bahwa usulan rencana pengelolaan wilayah pesisir sebagaimana diatur
dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 27 Tahun
2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah
upaya strategi awal dalam penataan wilayah pesisir karena di dalamnya
terdapat kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan
pengendalian terhadap interaksi manusia dalam pemanfaatan sumber daya
pesisir dan pulau-pulau kecil;
Bahwa pembatasan akses nelayan baik yang berkaitan dengan hak nelayan
untuk ikut serta dalam usulan rencana strategis pengelolaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil adalah wujud pelanggaran terhadap asas-asas negara
hukum. Asas-asas negara hukum diantaranya pertama, asas pengakuan dan
48
perlindungan martabat manusia, kebebasan individu, kelompok, masyarakat
etnis dan masyarakat nasional. Kedua, asas kepastian hukum yaitu warga
negara bebas dari tindakan pemerintah dan pejabat yang tidak dapat
diprediksi dan sewenang-wenang.
b. Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 bertentangan
dengan Pasal 28A UUD 1945
Pasal 14 ayat (1) UU Nomor 27 Tahun 2007 menyatakan bahwa usulan
penyusunan rencana strategis wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
(RSWP3K), rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
(RZWP3K), rencana pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
(RPWP3K), dan rencana aksi pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil (RAPWP3K) dilakukan oleh Pemda serta dunia usaha;
Mencermati bunyi Pasal 14 ayat (1) UU Nomor 27 Tahun 2007 dapat
diketahui secara jelas bahwa keberpihakan kepada pengusaha terlihat
menonjol pada pengaturan pemanfaatan perairan pesisir melalui hak
pengusahaan perairan pesisir (HP-3), yang mana hanya melibatkan
Pemerintah Daerah dan dunia usaha;
Keistimewaan ini bukan hanya terkait pada usulan penyusunan rencana
strategis, melainkan juga pada luas wilayah pemanfaatan yang
menyebutkan bahwa, HP-3 meliputi pengusahaan atas permukaan laut dan
kolom air sampai dengan permukaan dasar laut [Pasal 16 ayat (2) UU
Nomor 27 Tahun 2007]. Selanjutnya, HP-3 diberikan untuk luasan dan
waktu tertentu yaitu 20 tahun dan dapat diperpanjang 20 tahun (Pasal 19
UU Nomor 27 Tahun 2007). Pemberiannya wajib mempertimbangkan
kepentingan kelestarian ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil,
masyarakat adat, dan kepentingan nasional serta hak lintas damai bagi
kapal asing (Pasal 17 UU Nomor 27 Tahun 2007);
Tidak diikutsertakannya masyarakat dalam melakukan usulan penyusunan
rencana strategis tersebut, jelas merupakan suatu upaya marginalisasi
masyarakat yang secara nyata bergantung dan memenuhi kebutuhan hidup
di daerah atau wilayah yang menjadi objek HP-3;
49
Padahal berdasarkan amanat yang termaktub dalam Pasal 28A UUD 1945
secara tegas dinyatakan bahwa setiap orang berhak untuk hidup serta
berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. Dengan demikian jelas
bahwa ketentuan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
telah mengurangi bahkan menghilangkan hak masyarakat untuk hidup dan
mempertahankan hidupnya;
Bahwa kerugian dan potensi kerugian yang sudah nyata terjadi seperti
penguasaan pulau dan Taman Nasional oleh sektor swasta, termasuk asing
sehingga kebijakan tersebut mengancam keberadaan kelangsungan hidup
nelayan tradisional. Dominasi penguasaan pulau dan Taman Nasional oleh
sektor swasta tersebut dijelaskan dalam Bukti P-16.
c. Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 bertentangan
dengan Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945.
Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang a quo menyatakan bahwa “Usulan
penyusunan RSWP-3-K, RZWP, RPWP-3-K, dan RAPWP-3-K, dilakukan
oleh pemerintah serta dunia usaha”;
Proses usulan yang hanya melibatkan pemerintah dan dunia usaha ini telah
menutup akses keterlibatan masyarakat, khususnya masyarakat lokal.
Alhasil, muncul dua masalah di sini. Pertama, terjadi pembungkaman hak
masyarakat untuk turut serta menyampaikan usulan. Kedua, ketika sebuah
kebijakan tidak didasarkan pada partisipasi publik, maka besar potensi
terjadinya pelanggaran hak publik di kemudian hari. Padahal, masyarakat
setempatlah yang mengetahui dan memahami kondisi wilayah;
Hal ini jelas bertentangan dengan konstitusi, khususnya di Pasal 28D ayat
(1) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak atas
pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan sama di hadapan hukum”;
Selain itu, penyampaian usulan yang hanya melibatkan pemerintah dan
dunia usaha ini merupakan sebuah bentuk diskriminasi. Yang mana juga
bertentangan dengan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945. Pasal ini menyatakan
bahwa “Setiap orang bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas
50
dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan
yang bersifat diskriminatif itu”.
Bahwa Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
yang mengatur HP-3 bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945,
Pasal 28A UUD 1945 dan Pasal 33 ayat (1) dan ayat (3) UUD 1945.
a. Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang a quo bertentangan
dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945.
Bahwa Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir berbunyi “Pemanfaatan Perairan pesisir
diberikan dalam bentuk HP-3”;
Selanjutnya, Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir berbunyi, “HP-3 sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi pengusahaan atas permukaan laut dan
kolom air sampai dengan permukaan dasar laut”;
Artinya, untuk memanfaatkan perairan pesisir harus mempunyai sertifikat
HP-3. Akibatnya, masyarakat adat, masyarakat lokal, dan tradisional yang
tidak memiliki HP-3, tidak boleh memanfaatkan perairan pesisir;
Kendati masyarakat adat disebutkan berhak memperoleh HP-3 seperti
dalam Pasal 18 Undang-Undang a quo, namun dengan keberadaan HP-3
justru mengingkari eksistensi masyarakat adat itu sendiri;
Menurut Pasal 1 angka 33 Undang-Undang a quo menyebutkan bahwa
“Masyarakat Adat adalah kelompok Masyarakat Pesisir yang secara turuntemurun
bermukim di wilayah geografis tertentu karena adanya ikatan pada
asal-usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan Sumber Daya Pesisir
dan Pulau-Pulau Kecil, serta adanya system nilai yang menentukan pranata
ekonomi, politik, sosial, dan hukum”;
Dari definisi masyarakat adat tersebut, dapat disimpulkan bahwa
masyarakat adat terdiri dari unsur wilayah geografis dan masyarakat.
Artinya, dengan memberikan syarat HP-3 untuk memanfaatkan perairan
pesisir, sama halnya dengan menghilangkan salah satu unsur dari
masyarakat adat itu sendiri;
51
Sementara, Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 menyebutkan bahwa Negara
mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat
beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia, yang diatur dalam undang-undang;
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberadaan HP-3 seperti yang
terdapat dalam Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang a quo bertentangan
dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945;
b. Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang a quo bertentangan
dengan Pasal 28A UUD 1945.
Bahwa Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir berbunyi “Pemanfaatan Perairan pesisir
diberikan dalam bentuk HP-3”;
Selanjutnya, Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir berbunyi, “HP-3 sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi pengusahaan atas permukaan laut dan
kolom air sampai dengan permukaan dasar laut”;
Bahwa keberadaan HP-3 berpotensi untuk menghilangkan hak hidup dan
hak untuk mempertahankan hidup/kehidupan masyarakat, adat, lokal dan
tradisional yang tinggal di wilayah pesisir;
Memang bila menyimak ketentuan yang terdapat dalam Pasal 18 Undang-
Undang a quo, masyarakat adat dinyatakan berhak untuk memperoleh
HP-3, namun didasarkan pada terpenuhinya persyaratan-persyaratan
tertentu di dalam perolehan HP-3 sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat
(1) sampai dengan ayat (6) Undang-Undang a quo, adanya persyaratanpersyaratan
ini, baik secara teknis, administratif, dan operasional tentunya
akan menjadi sesuatu hal yang sulit dipenuhi oleh masyarakat adat
mengingat adanya keterbatasan pengetahuan dan kemampuan finansial.
Lebih jauh lagi, akan terjadi persaingan dalam perolehan HP-3 antara
masyarakat adat dengan pemilik modal;
Ketidakmampuan untuk memenuhi persyaratan perolehan HP-3 maupun
ketidakmampuan bersaing dengan pelaku usaha/pemilik modal, maka
52
dengan sendirinya masyarakat adat akan kehilangan hak untuk hidup dan
mempertahankan kehidupannya sebagaimana diamanatkan dalam Pasal
28A UUD 1945 yang menyatakan, ”Setiap orang berhak untuk hidup serta
berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”.
c. Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang a quo bertentangan
dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
Bahwa Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir berbunyi “Pemanfaatan Perairan pesisir
diberikan dalam bentuk HP-3”;
Selanjutnya, Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir berbunyi, “HP-3 sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) meliputi pengusahaan atas permukaan laut dan
kolom air sampai dengan permukaan dasar laut”;
Untuk memanfaatkan perairan pesisir harus mempunyai sertifikat HP-3.
Akibatnya, masyarakat adat, masyarakat lokal dan tradisional yang tidak
memiliki HP-3, tidak boleh memanfaatkan perairan pesisir;
Kendati masyarakat adat disebutkan berhak memperoleh HP-3, namun
dengan keberadaan HP-3 justru mengingkari eksistensi masyarakat adat itu
sendiri. Demikian juga dengan masyarakat lokal, tradisional, dan
masyarakat lain yang tidak memiliki kekuatan modal tidak dapat mengakses
HP-3;
Bahwa Hak Pengusahaan Perairan Pesisir berpotensi akan mengusir
secara hukum, masyarakat adat dan masyarakat tradisional yang ruang
hidupnya ada di ruang pesisir;
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat;
Sementara itu konsep penguasaan negara berdasarkan pertimbangan
hukum Putusan Mahkamah Konstitusi perkara Undang-Undang Minyak dan
Gas, Undang-Undang Ketenagalistrikan, dan Undang-Undang Sumber
Daya Alam, menafsirkan mengenai “hak menguasai negara/HMN” bukan
dalam makna negara memiliki, tetapi dalam pengertian bahwa negara
53
merumuskan kebijakan (beleid), melakukan pengaturan (regelendaad),
melakukan pengurusan (bestuurdaad), melakukan pengelolaan
(behersdaad), dan melakukan pengawasan (toezichtthoundendaad) yang
semuanya ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Fungsi
pengaturan (bestuurdaad) meliputi pemberian dan pencabutan ijin dan
konsesi;
Bahwa dikarenakan HP-3 lebih berpihak kepada pengusaha, maka tujuan
penguasaan kekayaan alam sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat
tidak akan tercapai;
Bahwa Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) yang dilakukan oleh
pemerintah pusat, daerah (provinsi dan kabupaten/kota) mengubah rezim
pengelolaan laut di Indonesia, perubahan dari open acces dan common
property right menjadi proverty right ini berarti bahwa kawasan pesisir dan
pulau-pulau kecil lebih eksklusif. Menurut Andre Groz (2005), dalam
bukunya Ecology as Politics mengkritik pemberian hak eksklusif pada
pemilik modal, karena pemberian hak tersebut menimbulkan ketidakadilan
sehingga memicu tingginya angka kemiskinan pada masyarakat pesisir
khususnya nelayan tradisional;
d. Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang a quo bertentangan
dengan Pasal 33 ayat (1) UUD 1945.
Bahwasanya dengan adanya HP-3 memunculkan praktik privatisasi
perairan dan pesisir, sehingga perekonomian di wilayah tersebut tidak
mungkin disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas
kekeluargaan sebagaimana termaktub dalam Pasal 33 ayat (1) UUD 1945;
Hal ini berpotensi terjadinya pengkaplingan laut sehingga menyebabkan
hilangnya tanggung jawab negara terhadap masyarakat pesisir, hilangnya
laut sebagai common akses, hilangnya kolektivitas perekonomian perairan
dan pesisir yang selama ini dikelola dan dimanfaatkan oleh masyarakat
adat, masyarakat tradisional, dan masyarakat local;
BAHWA PASAL 20 AYAT (1) UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2007
YANG MEMPERKENANKAN HP-3 SEBAGAI OBJEK HAK TANGGUNGAN
BERTENTANGAN DENGAN PASAL 33 AYAT (3) UNDANG-UNDANG
DASAR 1945.
54
Bahwa Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 menyatakan:
(1) HP-3 dapat beralih, dialihkan, dan dijadikan jaminan utang dengan
dibebankan hak tanggungan;
Bahwa ketentuan pasal a quo berpotensi untuk bertentangan dengan Pasal 33
ayat (3) UUD 1945 yang menyebutkan bahwa:
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat;
Bahwa konsep Penguasaan Negara berdasarkan pertimbangan hukum
Putusan Mahkamah Konstitusi perkara Undang-Undang Minyak dan Gas,
Undang-Undang Ketenagalistrikan, dan Undang-Undang Sumber Daya Air,
menafsirkan mengenai “hak menguasai negara/HMN” bukan dalam makna
negara memiliki, tetapi dalam pengertian bahwa negara merumuskan
kebijakan (beleid), melakukan pengaturan (regelendaad), melakukan
pengurusan (bestuurdaad), melakukan pengelolaan (behersdaad), dan
melakukan pengawasan (toezichtthoundendaad) yang semuanya ditujukan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Fungsi pengaturan/bestuurdaad
meliputi pemberian dan pencabutan izin dan konsesi;
Mekanisme HP-3 mendorong komersialisasi perairan pesisir karena konsep
HP-3 dalam Undang-Undang ini merupakan hak kebendaan yang
mengakibatkan HP-3 dapat beralih, dialihkan bahkan dapat dijaminkan utang
dan dibebankan hak tanggungan;
Bahwa dengan adanya HP-3, yang dapat dialihkan dan diagunkan akan
berakibat hilangnya kedaulatan efektif negara untuk mengelola wilayah
perairan dan pesisir untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat;
PASAL 23 AYAT (4), AYAT (5) DAN AYAT (6) UNDANG-UNDANG NOMOR 27
TAHUN 2007 YANG MEWAJIBKAN PEMANFAATAN PULAU-PULAU KECIL
DAN PERAIRAN DI SEKITARNYA MEMPUNYAI HP-3 YANG DITERBITKAN
OLEH PEMERINTAH ATAU PEMDA BERTENTANGAN DENGAN PASAL 18B
AYAT (2), PASAL 28C AYAT (2) DAN PASAL 28H AYAT (2) UNDANGUNDANG
DASAR 1945.
Bahwa Pasal 23 ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 menyatakan:
55
(4) Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan memenuhi persyaratan pada ayat (3) wajib
mempunyai HP-3 yang diterbitkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah
sesuai dengan kewenangannya;
(5) Untuk pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya yang telah
digunakan untuk kepentingan kehidupan Masyarakat, Pemerintah atau
Pemerintah Daerah menerbitkan HP-3 setelah melakukan musyawarah dengan
Masyarakat yang bersangkutan;
(6) Bupati/walikota memfasilitasi mekanisme musyawarah sebagaimana
dimaksud pada ayat (5)
Di samping untuk pemanfaatan perairan pesisir, HP-3 juga digunakan untuk
pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya.
Bahwa pemberlakuan Pasal 23 ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 sangat berpotensi untuk melanggar ketentuan yang
terdapat di dalam UUD 1945, utamanya Pasal 18B ayat (2) UUD 1945, Pasal
28C ayat (2) UUD 1945 dan Pasal 28H ayat (2) UUD 1945. Pemberlakuan
pasal a quo memberikan kewenangan yang luas dan absolut bagi
pemerintah/pemerintah daerah melalui suatu mekanisme musyawarah tanpa
adanya suatu ketentuan yang menyatakan atau menyebutkan tentang adanya
hak tolak bagi masyarakat. Lebih jauh, pemberlakuan Pasal 23 ayat (4), ayat
(5), dan ayat (6) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 akan mengingkari
hak-hak asasi warga negara/masyarakat hukum adat untuk mempertahankan
hak-hak tradisionalnya termasuk juga hak untuk memperoleh persamaan dan
keadilan. Sebagaimana telah diatur dalam konstitusi negara Republik
Indonesia.
Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 menyatakan:
(2) Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum
adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,
yang diatur dalam undang-undang.
Pasal 28C ayat (2) UUD 1945 menyatakan:
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan
haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Pasal 28H ayat (2) UUD 1945 menyatakan:
56
(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan
dan keadilan.
Keberpihakan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 ini terhadap pengusaha
juga terlihat dari Pasal 23 ayat (5) dan ayat (6). Pemberian HP-3 kepada
pengusaha tidak terhalangi walaupun masyarakat telah menggunakan
kawasan tersebut untuk kepentingan kehidupan mereka. Pemerintah atau
Pemda tetap akan mengeluarkan HP-3 setelah melakukan musyawarah
dengan masyarakat yang bersangkutan. Untuk itu bupati/walikota (wajib)
memfasilitasi musyawarah dimaksud. Ketentuan ini rancu karena dalam Pasal
23 ayat (5) mengesankan bahwa Pemerintah atau Pemda yang melakukan
musyawarah dengan masyarakat yang bersangkutan, tetapi dalam Pasal 23
ayat (6) disebutkan bahwa Bupati/Walikota lah yang memfasilitasi musyawarah
tersebut. Dengan demikian menjadi tidak jelas apakah yang melakukan
musyawarah itu Pemerintah/Pemda dengan masyarakat yang bersangkutan,
atau (calon) perusahaan dengan masyarakat yang bersangkutan dengan
difasilitasi bupati/walikota?
BAHWA PASAL 60 AYAT (1) HURUF b UNDANG-UNDANG NOMOR 27
TAHUN 2007 BERTENTANGAN DENGAN PASAL 28A, PASAL 28E AYAT (1)
DAN AYAT (2) DAN PASAL 28G AYAT (1) UNDANG-UNDANG DASAR 1945
a. Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
bertentangan dengan Pasal 28A UUD 1945,
Bahwa Pasal 28A UUD 1945 menyebutkan bahwa “Setiap orang berhak
untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”;
Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
menyebutkan bahwa “Masyarakat berhak memperoleh kompensasi karena
hilangnya akses terhadap Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang
menjadi lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan akibat pemberian HP-3
sesuai dengan peraturan perundang-undangan”;
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “kompensasi” bisa
diartikan sebagai: Ganti rugi; Pemberesan piutang dengan memberikan
barang-barang yang seharga dengan utangnya; Pencarian kepuasan di
57
suatu bidang untuk memperoleh keseimbangan dari kekecewaan di bidang
lain;
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, kata “kompensasi” dalam
konteks Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 lebih mempunyai
kecenderungan makna pada sebuah upaya pengusiran secara legal;
Kata “kompensasi” ini lebih mengarah pada strategi pengusiran masyarakat
lokal agar wilayahnya bisa dimanfaatkan untuk HP-3. Potensi pengusiran
masyarakat lokal ini sangat mungkin terjadi, dikarenakan dalam Undang-
Undang a quo tidak dinyatakan bahwa masyarakat berhak menolak
penetapan wilayahnya sebagai lokasi HP-3. Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 ini hanya menyebutkan bahwa masyarakat berhak menyatakan
keberatan terhadap rencana pengelolaan. Bukan hak menolak. Padahal,
konstitusi dengan tegas menyatakan perlindungan atas sumber-sumber
produktif rakyat guna pemenuhan hajat hidupnya.
b. Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
bertentangan dengan Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945,
Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
menyebutkan bahwa “Masyarakat berhak memperoleh kompensasi karena
hilangnya akses terhadap Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang
menjadi lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan akibat pemberian HP-3
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.” Sekali lagi, kata
“kompensasi” ini lebih mengarah pada strategi pengusiran masyarakat lokal
agar wilayahnya bisa dimanfaatkan untuk HP-3. Potensi pengusiran
masyarakat lokal ini sangat mungkin terjadi, dikarenakan dalam Undang-
Undang a quo tidak dinyatakan bahwa masyarakat berhak menolak
penetapan wilayahnya sebagai lokasi HP-3. Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 ini hanya menyebutkan bahwa masyarakat berhak menyatakan
keberatan terhadap rencana pengelolaan. Bukan Hak Menolak. Padahal,
fakta di lapangan menunjukkan bahwa laut bagi sebagian masyarakat
Indonesia, tidak hanya merupakan tempat masyarakat memenuhi
kebutuhan ekonominya. Namun, laut juga telah menjadi bagian integral dari
sistem religi di beberapa daerah, khususnya bagi masyarakat hukum adat.
Sementara, Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945 menyebutkan,
“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,
58
memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih
kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan
meninggalkannya, serta berhak kembali. Setiap orang berhak atas
kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai
dengan hati nuraninya”.
Dari dua ayat tersebut, tampak jelas bahwa negara, melalui konstitusi,
sesungguhnya menjamin sistem kepercayaan setiap orang. Namun,
dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, budaya masyarakat yang
menempatkan laut sebagai bagian integral dari sistem kepercayaan, bisa
dilanggar dengan alasan perintah Undang-Undang. Artinya, Hak
Konstitusional masyarakat akan terlanggar dengan adanya Pasal 60 ayat
(1) huruf Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 yang melegalkan
pengusiran yang menghalangi masyarakat untuk menjalankan
keyakinannya.
c. Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
bertentangan dengan Pasal 28G ayat (1) UUD 1945
Selanjutnya, Pasal 28G ayat (1) menyatakan “Setiap orang berhak atas
perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda
yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan
perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu yang merupakan hak asasi.”
Artinya, konstitusi Republik Indonesia yang sudah tegas menyatakan
perlindungannya dan jaminan pemenuhan kehidupan rakyat, justru
dilanggar oleh Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 karena telah
mengabaikan kepentingan rakyat kecil. Masyarakat yang menggantungkan
kehidupan ekonominya akan berpotensi diusir dengan dalih bahwa
masyarakat telah diberikan kompensasi.
BAHWA IMPLIKASI HP-3 YANG MENGANCAM EKSISTENSI HAK ULAYAT
LAUT (HUL) BERTENTANGAN DENGAN PASAL 28A, PASAL 18B AYAT (2),
PASAL 28C AYAT (2) DAN PASAL 28H AYAT (2) DAN AYAT (3) UNDANGUNDANG
DASAR 1945.
59
Bahwa dalam Pasal 28A UUD 1945 disebutkan bahwa; Setiap orang berhak
untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya. **)
Selanjutnya dalam Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 disebutkan bahwa: Negara
mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat
beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,
yang diatur dalam undang-undang.
Lebih lanjut dalam Pasal 28C ayat (2) UUD 1945 disebutkan pula bahwa:
Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya
secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Selanjutnya dalam Pasal 28H ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945 juga dinyatakan
bahwa:
(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai
persamaan dan keadilan.
(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
Berkaitan dengan pengakuan Masyarakat Hukum Adat (MHA) dalam Undang-
Undang ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Undang-Undang ini mengenal
3 (tiga) istilah terkait dengan MHA: Masyarakat Adat, Masyarakat Lokal Dan
Masyarakat Tradisional. Masyarakat adat adalah kelompok masyarakat pesisir
yang secara turun-temurun bermukim di wilayah geografis tertentu karena
adanya ikatan pada asal-usul leluhur, adanya hubungan yang kuat dengan
sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, serta adanya sistem nilai yang
menentukan pranata ekonomi, politik, sosial, dan hukum [Pasal 1 angka (33)].
Masyarakat lokal adalah kelompok masyarakat yang menjalankan tata
kehidupan sehari-hari berdasarkan kebiasaan yang sudah diterima sebagai
nilai-nilai yang berlaku umum tetapi tidak sepenuhnya bergantung pada sumber
daya pesisir dan pulau-pulau kecil tertentu [Pasal 1 angka (34)].
Sementara itu, masyarakat tradisional adalah masyarakat perikanan tradisional
yang masih diakui hak tradisionalnya dalam melakukan kegiatan penangkapan
ikan atau kegiatan lainnya yang sah di daerah tertentu yang berada dalam
perairan kepulauan sesuai dengan kaidah hukum laut internasional [Pasal 1
angka (35)].
60
Undang-Undang a quo mengakui keberadaan MA —disebut masyarakat adat
(MA)— dalam pertimbangan pemberian Hak Pengusahaan Perairan Pesisir
(HP-3) [Pasal 17 ayat (2)]. HP-3 adalah hak atas bagian-bagian tertentu dari
perairan pesisir untuk usaha kelautan dan perikanan, serta usaha lain yang
terkait dengan pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil yang
mencakup atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan
dasar laut pada batas keluasan tertentu [Pasal 1 angka (18)]. Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 ini mengakui hak MHA dalam pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil dalam 2 (dua) bentuk:
Pengakuan terhadap hak MA atas wilayah pesisir. Dalam hal ini MHA dapat
menjadi pemegang HP-3, di samping orang (warga negara Indonesia) dan
badan hukum Indonesia (Pasal 18). Pemerintah mengakui, menghormati, dan
melindungi hak-hak masyarakat adat, masyarakat tradisional, dan kearifan lokal
atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah dimanfaatkan secara
turun-temurun [Pasal 61 ayat (1)]. Pengakuan tersebut dijadikan acuan dalam
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil [Pasal 61 ayat (2)]. Oleh
karena itu, wilayah adat (MA) juga menjadi perhatian bagi program konservasi
dalam UU ini. Salah satu tujuan konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil adalah untuk melindungi situs budaya tradisional [Pasal 28 ayat (1) huruf
d]. Penetapan kawasan konservasi dimaksudkan adalah untuk melindungi—
salah satunya adalah—wilayah yang diatur oleh adat tertentu, seperti sasi,
mane’e, panglima laot, awig-awig, dan/atau istilah lain adat tertentu [Pasal 28
ayat (3) huruf c]. Masyarakat, termasuk MHA, dapat mengajukan pengusulan
kawasan konservasi, di samping perseorangan dan Pemerintah/Pemda [Pasal
28 ayat (7)].
Penetapan wilayah yang diatur oleh adat tertentu sebagai kawasan konservasi,
justru berpotensi menafikan keberadaan hak ulayat laut MHA karena
pengelolaan kawasan konservasi itu dilaksanakan oleh Pemerintah atau
Pemda [Pasal 28 ayat (5)]. Masih adakah hak MHA untuk melaksanakan
praktik hak ulayat lautnya seperti sedia kala jika wilayah hak ulayat lautnya
menjadi kawasan konservasi? MHA juga dilibatkan dalam penyelesaian
sengketa dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berdasarkan
adat istiadat/kearifan lokal mereka [Pasal 64 ayat (2)].
61
Pengakuan terhadap hak MA yang akan terkena kegiatan usaha HP-3. Proses
pemberian HP-3 harus mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak MA
dan/atau masyarakat lokal [Pasal 21 ayat (4) huruf b]. Di samping itu,
pemberian HP-3 juga harus memperhatikan hak masyarakat termasuk MA
untuk mendapatkan akses ke sempadan pantai dan muara sungai [Pasal 21
ayat (4) huruf c].
Ketentuan MA bahwa dapat menjadi subjek HP-3 juga berpeluang menafikan
hak-hak MA. MHA harus memenuhi persyaratan dan mengikuti ketentuan
Undang-Undang ini dalam pengusahaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Bagaimana kalau MA tidak menjadi pemegang HP-3? Apakah mereka masih
dapat mempraktikkan hak ulayat lautnya? Kedua, jika MHA keberatan terhadap
permohonan HP-3 perorangan/badan hukum, apakah permohonan HP-3
tersebut dikalahkan atau sebaliknya?
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 ini menegaskan, bahwa dalam hal
HP-3 berbatasan langsung dengan garis pantai, Pemohon wajib memiliki hak
atas tanah [Pasal 21 ayat (3) huruf d]. Dengan demikian, pemohon harus
mengikuti cara perolehan hak atas tanah menurut UUPA yang mengakui hak
tanah MHA. Ketentuan ini juga berpotensi tumpang tindih antara HP-3 dengan
pemberian hak atas tanah yang selama ini sudah dilaksanakan menurut
ketentuan hukum tanah nasional (Bukti P-19). Konsisten dengan pengakuan
hak MA atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, maka dalam pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, masyarakat, termasuk MHA, mempunyai
hak untuk [Pasal 60 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007]:
memperoleh akses terhadap perairan yang telah ditetapkan HP-3: memperoleh
kompensasi karena hilangnya akses terhadap sumber daya pesisir dan pulaupulau
kecil yang menjadi lapangan kerja untuk memenuhi kebutuhan akibat
pemberian HP-3 sesuai dengan peraturan perundang-undangan; melakukan
kegiatan pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil berdasarkan
hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan;
memperoleh manfaat atas pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil; memperoleh informasi berkenaan dengan pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; mengajukan laporan dan pengaduan
kepada pihak yang berwenang atas kerugian yang menimpa dirinya yang
berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
62
kecil; menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan yang sudah
diumumkan dalam jangka waktu tertentu; melaporkan kepada penegak hukum
atas pencemaran dan/atau perusakan WP3K yang merugikan kehidupannya;
mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah pesisir
dan pulau-pulau kecil yang merugikan kehidupannya; serta memperoleh ganti
kerugian.
Bahwa bunyi pasal ini sangat bertentangan dengan Pasal 18 Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 yang dalam bahasanya memberi ruang masyarakat adat
untuk memperoleh hak atas wilayah pesisir akan tetapi terbitnya pasal ini akan
kontraproduktif dengan pasal sebelumnya.
Bahwa dalam Pasal 60 ayat (1) huruf j Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
menyatakan, “Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,
masyarakat mempunyai hak untuk: Memperoleh ganti rugi”;
Pasal ini sebenarnya mengancam keberlangsungan hak masyarakat nelayan
pada umumnya maupun masyarakat adat khususnya. Dalam penguasaan
wilayah pesisir terutama bagi masyarakat adat istilah ganti kerugian atau
kompensasi berbeda dengan istilah recognition. Di mana arti kompensasi
berarti beralihnya hak masyarakat adat ke pemerintah sedangkan recognition
hak masyarakat adat tidak beralih hanya pengusahaan sementara saja oleh
pemerintah. Dengan kata lain, bila pasal-pasal yang berkaitan dengan HP-3 ini
diberlakukan maka dengan sendirinya akan mengingkari Pasal 28A, Pasal 18B
ayat (2), Pasal 28C ayat (2), dan Pasal 28H ayat (2), ayat (3) UUD 1945 yang
telah mengatur hak hidup bagi masyarakat termasuk jaminan perlindungan
terhadap masyarakat hukum adat.
F. KESIMPULAN
1. Bahwa berdasarkan seluruh uraian di atas, maka:
– Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 23
ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 (Lembaran
Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945;
– Pasal 1 angka 18 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 (Lembaran
Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD
1945;
63
– Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 (Lembaran
Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 28A , Pasal
28D ayat (1), Pasal 28I ayat (2), dan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945;
– Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
(Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2) UUD
1945, Pasal 28A dan Pasal 33 ayat (1), ayat (3) UUD 1945;
– Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 (Lembaran
Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945;
– Pasal 23 ayat (4), ayat (5) dan ayat (6) Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4739) bertentangan dengan
Pasal 18B ayat (2), Pasal 28C ayat (2), dan Pasal 28H ayat (2) UUD
1945;
– Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
(Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 28, Pasal 28E ayat
(1) dan ayat (2), serta Pasal 28G ayat (1) UUD 1945.
2. Bahwa karena Pasal 1 angka 4, angka 7, angka 18, Pasal 16 ayat (1),
Pasal 23 ayat (2), ayat (4), Pasal 1 angka 18, Pasal 14 ayat (1), Pasal 16
ayat (1), ayat (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (4), ayat (5), ayat (6),
Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
(Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 18B
ayat (2), Pasal 28A, Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28E
ayat (1), ayat (2), Pasal 28G ayat (1), Pasal 28H ayat (2), ayat (3), Pasal
28I ayat (2), Pasal 33 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUD 1945, maka
dapat dimohonkan untuk dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat;
G. PETITUM
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, memohon kepada Mahkamah Konstitusi
untuk memeriksa dan memutus permohonan sebagai berikut:
64
1. Menerima dan mengabulkan seluruh permohonan pengujian;
2. Menyatakan:
– Pasal 1 angka 4, angka 7 dan angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 23
ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 (Lembaran
Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945;
– Pasal 1 angka 18 Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 (Lembaran
Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD
1945;
– Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 (Lembaran
Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 28A, Pasal
28D ayat (1), Pasal 28I ayat (2) dan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945;
– Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
(Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2), Pasal
28A, Pasal 33 ayat (1) dan ayat (3) UUD 1945;
– Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 (Lembaran
Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran Negara RI
Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945;
– Pasal 23 ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 (Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan
Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4739) bertentangan dengan
Pasal 18B ayat (2), Pasal 28C ayat (2), dan Pasal 28H ayat (2) UUD
1945;
– Pasal 60 ayat (1) huruf b, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
(Lembaran Negara RI Tahun 2007 Nomor 84 dan Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 4739) bertentangan dengan Pasal 28A, Pasal 28E
ayat (1), dan ayat (2), serta Pasal 28G ayat (1) UUD 1945;
3. Menyatakan ketentuan Pasal 1 angka 4, angka 7 dan angka 18, Pasal 16
ayat (1), Pasal 23 ayat (2), ayat (4), Pasal 1 angka 18, Pasal 14 ayat (1),
Pasal 16 ayat (1), ayat (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (4), ayat (5),
ayat (6), dan Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun
65
2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tidak
mempunyai kekuatan hukum yang mengikat dengan segala akibat
hukumnya;
4. Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik
Indonesia sebagaimana mestinya;
[2.2] Menimbang bahwa untuk membuktikan dalil-dalil permohonannya, para
Pemohon mengajukan bukti berupa surat atau tulisan yang diberi tanda Bukti P-1
sampai dengan Bukti P-24, sebagai berikut:
1. Bukti P-1 : Surat Pengangkatan para Pemohon I – IX yang memberikan
kewenangan dalam bertindak untuk dan atas nama lembaga
yang diwakilinya, antara lain:
1. Surat Pemilihan Dewan Presidium & Sekretaris Jenderal
KIARA periode 2009-2011, selaku Pemohon I;
2. Surat Keputusan Ketua Komite Eksekutif Indonesian Human
Rights Committe For Social Justice (IHCS) Nomor
12/Kep/Ketua/IHCS/IX/2008, tentang Pengankatan Saudara
Gunawan sebagai Sekretaris Jenderal, selaku Pemohon II;
3. Surat Berita Acara Pengangkatan Direktur Pusat Kajian
Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim (Center for
Ocean Development and Maritim Civilization Studies), selaku
Pemohon III;
4. Surat Keputusan Pengangkatan Nomor 010/MUNASV/
KPA/VI/2009 tentang Pemilihan Sekretaris Jendral
Konsorsium Pembaruan Agraria Periode 2009-2012, selaku
Pemohon IV;
5. Surat Ketetapan Nomor 15/Konggres III/FSPI/XII/2007
tentang Pengangkatan dan Pengesahan Ketua Umum
Badan Pelaksana Pusat (BPP) Serikat Petani Indonesia
(SPI), selaku Pemohon V;
6. Surat Keputusan Yayasan Bina Desa Sadajiwa Nomor
03/SK-DP/04/2007 tentang Pengangkatan Saudara Dwi
Astuti sebagai Direktur Pelaksana, selaku Pemohon VI;
66
7. Surat Keputusan Ketua Dewan Pengurus YLBHI Nomor
019/SK-D.Pembina/YLBHI/VIII/2006, selaku Pemohon VII;
8. Surat Keputusan PNLH X Walhi Nomor 14/PNLHX/WALHI/
IV/2008 tentang Pengesahan Direktur Eksekutif Nasional
Walhi Periode 2008-2012 , selaku Pemohon VIII;
9. Surat Keputusan API, selaku Pemohon IX;
2. Bukti P-2 : Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pemohon X – XXXVI;
3. Bukti P-3 : Surat Kuasa Khusus Para Pemohon kepada Kuasa Hukum
untuk mengajukan Uji Materi Pasal 14 ayat (1), Pasal 16 ayat
(1), dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Terhadap UUD 1945;
4. Bukti P-4 : Fotokopi UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Amandemen IV;
5. Bukti P-5 : Fotokopi Akta Notaris dan Anggaran Dasar Koalisi Rakyat untuk
Keadilan Perikanan (KIARA);
6. Bukti P-6 : Fotokopi Akta Notaris dan Anggaran Dasar Indonesian Human
Rights Committe for Social Justice (IHCS);
7. Bukti P-7 : Fotokopi Akta Notaris dan Anggaran Dasar Pusat Kajian
Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim (PK2PM);
8. Bukti P-8 : Fotokopi Akta Notaris dan Anggaran Dasar Yayasan
Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA);
9. Bukti P-9 : Fotokopi Akta Notaris dan Anggaran Dasar Serikat Petani
Indonesia (SPI);
10. Bukti P-10 : Fotokopi Akta Notaris dan Anggaran Dasar Yayasan Bina Desa
Sadajiwa;
11. Bukti P-11 : Akta Notaris dan Angaran Dasar Yayasan Lembaga Bantuan
Hukum Indonesia (YLBHI);
12. Bukti P-12 : Akta Notaris dan Anggaran Dasar Wahana Lingkungan Hidup
Indonesia (WALHI);
13. Bukti P-13 : Akta Notaris dan Anggaran Dasar Aliansi Petani Indonesia
(API);
14. Bukti P-14 : Naskah Akademik Pengelolaan Wilayah Pesisir, halaman III-4
sampai dengan halaman III-11;
67
15. Bukti P-15 : Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dalam Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84;
16. Bukti P-16 : Riza Damanik, Arif Satria, Budiati Prasetiamartati “Menuju
Konservasi Laut yang Pro Rakyat dan Pro Lingkungan”
diterbitkan oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Desember
2006;
17. Bukti P-17 : Data Media tentang Aksi Penolakan Rakyat Terhadap Undang-
Undang Nomor 27 Tahun 2007;
18. Bukti P-18 : Kata Sambutan Prof. Dr. Ir. M. Syamsul Maarif, M. Eng, dalam
buku Arif Satria, Pesisir dan Laut untuk Rakyat, IPB Press,
Bogor, 2009;
19. Bukti P-19 : Maria Sumardjono, Nurhasan Ismail dan Aminoto, Juli 2008,
“Eksistensi HP 3 dalam UU Nomor 27/2007 tentang
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau–pulau Kecil dan
Implikasi Yuridisnya,” Kajian Kritis, tidak dipublikasikan;
20. Bukti P-20 : Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, mewujudkan Hak
Konstitusional Masyarakat Hukum Adat, Halaman 9, 2006;
21. Bukti P-21 : Prof. Dr. I Nyoman Nurjaya, “Pengelolaan Sumber Daya Alam
dalam Perspektif Antropologi Hukum” dipublikasikan oleh
Prestasi Pustaka Publisher, Mei 2008;
22. Bukti P-22 : Ronald Titahelu “Legal Recognition to Local and/or Traditional
Management on Coastal Resources as Requirement to Increase
Coast and Small Islands People’s Self Confidence”, Paper
presented in Commission of Folk Law and Legal Pluralism
Congress, Fredericton, New Brunswick, Canada, August 26-
29th, 2004. This paper based on research by the author and
members of Study Centre of Law and Environmental Justice in
Community-Based Coastal and Marine Resources
Management, at Faculty of Law Sam Ratulangi University,
Manado, North Sulawesi, Indonesia;
Bukti tambahan yang diserahkan di luar persidangan:
Bukti P-22 : Foto kopi Kliping Media Tim Advokasi Tolak HP-3;
68
23. Bukti P-23 : Hukum Adat Maluku dalam kontek pluralisme hukum: implikasi
terhadap manajemen sumber daya alam Maluku, Pidato
Pengukuhan, disampaikan pada Peresmian Penerimaan
Jabatan Guru Besar dalam bidang Ilmu Hukum Pada Fakultas
Hukum Universitas Patimura Ambon tanggal 13 Agustus 2005,
oleh Prof. DR. R.Z. Titahelu, S.H.,M.S;
24. Bukti P-24 : VCD Forum HAM -09 Thema: Stop Penguasaan Perairan
Pesisir;
Di samping mengajukan bukti-bukti tertulis, para Pemohon juga mengajukan
5 (lima) orang Ahli yakni Ronald Z. Titahelu, Nurhasan Ismail, Supriadi Adhuri,
Henry Thomas Simarmata, dan I Nyoman Nurjaya serta 3 (tiga) orang saksi
yakni Masnun, Karyono, dan Bona Beding yang telah didengar keterangannya
pada persidangan tanggal 27 April 2010 dan tanggal 8 Juni 2010 sebagai berikut:
1. Ahli Ronald Z. Titahelu
• Ahli menggunakan istilah masyarakat hukum adat karena yang dilihat
adalah satuan-satuan masyarakat yang memiliki pola-pola perilaku dan
pola-pola hubungan di antara mereka yang cenderung ajeg, karena dalam
penelitian yang pernah dilakukan beberapa tahun yang lalu, hukum adat
pun masih bisa berubah, tetapi perubahan itu dilakukan oleh masyarakat
sendiri melalui mekanisme yang ada di dalam masyarakat.
• Ada dua hal mengenai eksistensi masyarakat hukum adat di dalam UUD
1945, Pertama, terdapat di dalam Pasal 18B UUD 1945, yang memberikan
pengakuan terhadap masyarakat hukum adat, walaupun ditambahkan di
dalamnya sepanjang masih ada dan sesuai dengan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Kedua, disebutkan di dalam Pasal 28I ayat (3) dari
UUD 1945 yang menyebutkan tentang perlindungan.
• Ada dua komunitas yang disebut, tetapi dalam kaitan dengan masyarakat
hukum adat juga disebutkan perlindungan terhadap masyarakat hukum
adat.
• Secara konstitusional, ada dua istilah yang ada di dalam UUD 1945, yaitu
apa yang disebut sebagai pengakuan dan apa yang disebut sebagai
perlindungan.
69
• Kata kunci untuk pemberian pengakuan berarti bahwa sejak awal
masyarakat hukum adat memang sudah ada. Sehingga kehadiran negara
yang kemudian terjadi adalah juga memberikan pengakuan terhadap
eksistensi riil dari masyarakat hukum adat itu sejak awal.
• Berbicara mengenai eksistensi, berarti bicara mengenai esensi dari satu
kesatuan masyarakat atau satuan-satuan masyarakat yang disebut sebagai
masyarakat hukum adat. Walaupun pada saat itu kita mengakui ada juga
yang disebut sebagai masyarakat lokal, ada juga satuan-satuan masyarakat
yang tidak dapat diidentifikasikan sebagai masyarakat hukum adat karena
pendefinisiannya sangat beragam, tetapi satu kesimpulan yang diambil ialah
mereka yang berada di dalam satu wilayah tertentu yang di dalam pola-pola
hubungan di antara mereka maupun terhadap alam yang ada di sekitar
mereka, itu berlangsung secara cenderung ajeg;
• Oleh karena itu, kehadiran negara kemudian dinyatakan sebagai kehadiran
yang kemudian sesudah adanya satuan-satuan masyarakat adat di
masyarakat hukum adat di Indonesia;
• Alinea keempat UUD 1945 memberikan pernyataan, “…maka dibentuklah
pemerintah Negara Republik Indonesia yang melindungi segenap bangsa
dan seluruh tumpah darah Indonesia,…” ada dua. Pertama, kalau kita
mengatakan ‘segenap bangsa’, merupakan suatu bahasa yang disampaikan
istilahnya bangsa Indonesia, istilah yang dikemukakan oleh Bastian ketika
menyebutkan adanya sejumlah bangsa yang ada di bagian Timur Malaya,
yang disebut Indonesos dan kita kenal sebagai bangsa Indonesia, mereka
ini adalah satuan-satuan masyarakat adat, hukum adat yang sudah ada
jauh sebelumnya. Bahkan pun sebelum kekuasaan Belanda masuk di
Indonesia;
• Mengapa hak masyarakat hukum adat tercabut baik di atas tanah juga di
atas lautan? Sebuah buku yang ditulis bersama teman-teman dari
Departeman Kelautan, teman-teman dari Universitas Padjajaran, salah satu
bagian di dalam narasi harmonisasi peraturan perundangan pengelolaan
pesisir dan laut yang menjadi dasar adanya Undang-Undang 27 Tahun
2007 yang sekarang sedang berlangsung. Di dalamnya dari hasil penelitian
kita dapati ketika masyarakat-masyarakat hukum adat dari Sabang sampai
Merauke, mereka menguasai sebidang tanah, mereka menguasai wilayah
70
ulayat, mereka menguasai teritori tertentu sebagai wilayah di mana mereka
hidup. Sejak saat itu terjadi pencabutan hak masyarakat adat atas tanah
dan wilayah, dan berkembang terus;
• Sejarahnya ketika domains verklaaring 1870 dikeluarkan, pemerintah
Belanda mengatur tata cara pengambilalihan tanah, cara mengosongkan
hak-hak ke masyarakat terjadi lewat pernyataan domain. Perkembangan
berjalan terus sampai dengan 1960 ketika keluarnya Undang-Undang
Pokok Agraria;
• Pengosongan yang terjadi yang sudah berjalan sejak lama, kemudian
terindikasi bahwa pengambilalihan kekuasaan, pengambilalihan
kewenangan untuk mengelola sumber daya atau semua yang ada di dalam
lingkungan masyarakat berjalan secara sistematis, tetapi juga terlibat
dengan pembentukan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, tetapi bukan
yang sekarang terjadi, sebelumnya dan jiwa dari pada Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 1999 bertentangan dengan apa yang diinginkan oleh
masyarakat hukum adat;
• Di dalam Undang-Undang Pertambangan juga dikatakan, jika di dalam
tanah terdapat deposit logam, maka pemilik tanah harus menyerahkannya
kepada pemegang kuasa pertambangan, pengosongan terjadi. Ini bisa
mengerti bahwa tujuan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang cukup
tinggi lewat pemanfaatan sumber daya alam yang langsung dilakukan oleh
private sector (sektor privat) memang akan memberikan suatu sumbangan
yang sangat signifikan, tetapi ketika itu terjadi dengan mengesampingkan
mereka yang memiliki hak atas tanah, mereka yang memiliki, menguasai
tanah sejak awal dengan segala sesuatu yang ada di atasnya, mereka
kehilangan akses;
• Oleh karena itu jika di dalam pada pembukaan UUD 1945 negara yang
melindungi segenap bangsa dan segenap tumpah darah, maka arti dari
perlindungan oleh negara ialah memberikan rasa aman, rasa nyaman,
dapat memanfaatkan apa yang ada di sekitar bangsa Indonesia sendiri;
• Bahwa sejak awal masyarakat hukum adat, mereka khususnya yang ada di
pesisir, di pulau-pulau kecil, mereka sudah terikat bersama-sama dengan
alam yang ada di sekitar mereka. Otoritas mereka selama ini berjalan
sebagaimana dahulu juga otoritas dilakukan;
71
• Sekarang ketika otoritas di atas wilayah yang dimiliki oleh masyarakat adat,
yang harus dikatakan adalah mereka memiliki hak otoritas di atas wilayah
by nature, sesuatu melekat ketika mereka terbentuk, ketika mereka berada
di situ. Oleh karena itu, otoritas pengelolaan yang mereka lakukan adalah
otoritas yang juga berlangsung sejak mereka ada. Ketika datang negara,
ketika datang pemerintah dengan otoritas untuk mengatur, satu hal yang
perlu diperhatikan adalah jangan sampai pengaturan kemudian
menegasikan otoritas dari masyarakat hukum adat atas wilayah-wilayah
pengelolaan, atas wilayah-wilayah yang mereka akses sebagai wilayah
kehidupan mereka;
• Perencanaan Pemerintah, wewenang itu not base and the giving found the
state. But base by nature of the traditional society it self. Jadi secara alami
sudah melekat sebagai hak mereka. Karena itu bagian Pasal 18B UUD
1945 tepat. Pemerintah mengakui to recognize hak mereka. Kemudian
dengan berbagai macam kewenangan yang diperoleh jikalau HP3 diberikan
oleh negara kepada pihak-pihak lain di wilayah, di mana masyarakat hukum
adat sudah ada, akan menimbulkan kisah harmoni hukum. Ada lima sikap
Pemerintah terhadap hukum adat. Pemerintah mengakui, Pemerintah tidak
mengakui, diam-diam mengakui tetapi tidak menyatakan suatu pengakuan
kemudian Pemerintah membiarkan, karena itu berlaku sebagai self
identification culture mereka. Hal ini yang terlihat di dalam kehidupan hukum
adat di dalam konsep konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
selalu berhadapan dengan hukum positif. Jikalau sejak hukum positif tidak
mengakui hukum adat. Sekarang trade untuk memberikan pengakuan
terhadap hukum adat dapat dilakukan, dan beberapa keputusan Mahkamah
Agung mengarah kepada pengakuan;
• Pengakuan hukum lewat peraturan perundangan baru saja penyebutan
kolektif tetapi secara substansial tidak nampak. Bahkan berbagai peraturan
perundangan yang mengarah kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia
mengabaikan hak masyarakat adat. Oleh karena itu apa yang dikatakan tadi
adalah, apakah akan mengganggu, justru sangat mengganggu karena
proses pengabaian;
• Kedua, faktor budaya, masyarakat adat juga akan terganggu. Jikalau kita
melihat bahwa sumber daya alam yang ada di sekitar mereka bukan
72
sekadar dilihat dari aspek ekonomi, tetapi juga dilihat sebagai aspek secara
sosial dari kesatuan sosial maupun dari culture atau perubahan budaya.
Jadi sampai saat ini berbagai macam hidup kita bisa tampak, bisa kita lihat
di seluruh Indonesia di mana wilayah-wilayah di mana yang dikuasai atau
dihaki oleh masyarakat hukum adat yang sampai sekarang masih ada,
masih berjalan;
• Ketiga, ada faktor politik. Faktor politik di sini adalah penggunaan dalam arti
pilihan oleh satu pihak untuk mau berperilaku sebagaimana dikehendaki
oleh mereka sendiri ataupun oleh Pemerintah. Dalam beberapa kasus
penyesuaian dapat dilakukan, tetapi dilakukan oleh masyarakat sendiri. Ada
bahasa yang digunakan memang muncul, apa yang disebut sebagai prayer
inform concept. Kalau ada unsur asing dari luar yang datang untuk
memanfaatkan sumber daya yang ada yang menjadi bagian daripada milik
masyarakat adat;
• Bahwa masyarakat adat dengan wilayahnya merupakan satu kesatuan,
sehingga kalau HP-3 kemudian disyaratkan, diberikan juga kepada
masyarakat hukum adat, hal itu justru mengurangi arti penguasaan,
wewenang yang by nature secara alami sudah melekat pada diri mereka
sejak awal. Karena syarat kepemilikan sertifikat sebagai misalnya HP-3
dikeluarkan, sebagai syarat untuk mendapatkan perijinan akan menjadi
pertanyaan apakah masyarakat hukum adat akan mau melakukan seperti
itu? Kita melihat begitu banyak fauna yang diberikan oleh Pemerintah tetapi
banyak juga masyarakat hukum adat yang tidak mau memanfaatkan
sertifikat itu. Oleh karena itu, pemberian sertifikat dalam kerangka
memberikan hak, bukan merupakan suatu tindakan yang bijaksana;
• Potensi konflik dengan diberikannya HP-3 oleh Pemerintah kepada
masyarakat hukum adat, maka mereka yang sejak awal menguasai pesisir
dan pantai justru sangat besar.
2. Ahli Nurhasan Ismail
• Ada tiga hal berkenaan dengan pengujian UU 27/2007 terhadap substansi
dan semangat dari UUD 1945. Pertama, bahwa pengaturan tentang objek
HP-3 mengandung disharmoni, inkonsistensi, baik yang bersifat internal
maupun yang bersifat horizontal dengan ketentuan di dalam Pasal 28H ayat
(1) UUD 1945. Wujud disharmoninya, wujud inkonsistensinya adalah bahwa
73
pengaturan objek HP-3 tidak memberikan jaminan kepastian hukum seperti
yang dinyatakan atau ditentukan di dalam Pasal 28H ayat (1) UUD 1945.
Logika yang dibangun yaitu adalah bahwa benda yang menjadi objek atau
yang dapat dilekati dengan HP-3 di dalam pasal-pasal UU 27/2007 karena
pertama secara internal. Secara internal ada tiga benda yang dapat menjadi
objek dari HP-3, dan benda berbeda. Karena berbeda, tentu prinsip
spesialitas yang selalu harus ada di dalam pelekatan hak ada satu objek
benda tertentu tidak terpenuhi;
• Di dalam UU 27/2007, objek yang dapat dilekati dengan hak pengusahaan
perairan pesisir, adalah perairan pesisirnya sendiri. Di dalam Pasal 16,
dinyatakan perairan pesisir adalah permukaan air termasuk kolomnya
sampai pada batas tanah di laut. Pertama, yang menjadi benda yang dapat
menjadi objek yang dapat dilekati HP-3. Kedua, sumber daya pesisir dan
pulau-pulau kecil. Hal ini dapat kita temui di dalam Pasal 23 UU 27/2007,
konsep yang digunakan adalah sumber daya, di dalam ketentuan umum
dikatakan sumber daya ada empat yaitu:
1. Pertama, adalah sumber daya hayati yang berupa ikan, terumbu karang,
padang lamun, dan lain sebagainya. Berbeda dengan perairan pesisir;
2. Kedua, sumber daya yang ada di pesisir dan pulau-pulau kecil adalah
sumber daya non hayati berupa pasir, mineral, dan lain sebagainya.
Berbeda dengan konsep perairan pesisir;
3. Ketiga, yaitu sumber daya buatan yang terdiri dari bangunan-bangunan
dan infrastruktur termasuk penggunaan gelombang untuk sumber daya
listrik. Berbeda dengan konsep perairan pesisir;
4. Keempat, adalah sumber daya lingkungan yang menyangkut keindahan
dari perairan pesisir dan pulau-pulau kecil. Berbeda dengan konsep
perairan pesisir;
Kemudian objek yang ketiga dari yang dapat dilekati dengan HP-3 bisa kita
baca di dalam definisi tentang HP-3 yang ada di dalam ketentuan umum,
yang ada di dalam Pasal 23 yaitu pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya;
• Konsep pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya adalah menunjuk baik
kepada sumber daya tanah, yang ada di pulau-pulau kecil atau mungkin
hutan yang ada di pulau-pulau kecil. Berbeda dengan makna dari konsep
perairan pesisir;
74
• Secara internal, objek sudah tidak jelas dan sudah tumpang tindih. Kalau
menyebut konsep hak atas tanah, asosiasi kita akan menuju kepada apa
yang disebut dengan benda yang namanya tanah, permukaan bumi, tetapi
ketika kita menyebut konsep HP3 gambaran kita apakah perairan
pesisirnya, apakah itu sumber dayanya, yang ada di pulau dan di pesisir,
atau pulau-pulau kecilnya.
• Persoalannya adalah apa makna kepastian hukum. Kepastian hukum di
definisikan adanya kejelasan norma yang menjadi acuan berperilaku bagi
setiap orang. Kejelasan norma tentu harus ada indikatornya, ada
ukurannya. Tiga indikator untuk menyatakan bahwa sebuah norma itu
memberikan kepastian hukum:
1. Pertama, adalah norma mengandung konsistensi, baik secara internal di
dalam undang-undang maupun konsistensi horizontal dengan undangundang
yang lain ataupun konsistensi secara vertikal dengan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi, dalam hal ini adalah dengan
UUD 1945;
2. Kedua, bahwa konsep penormaannya atau rumusan normanya tidak
mengandung multi makna, tidak mengandung multitafsir;
3. Ketiga, ada suatu implikasi yang sangat jelas terhadap pilihan-pilihan
perilaku yang sudah diatur di dalam undang-undang atau di dalam
peraturan perundang-undangan;
Ketentuan tentang objek, bertentangan dengan indikator yang pertama yaitu
konsistensi baik internal maupun secara horizontal. Internal karena UU
27/2007 mengatur tentang objeknya itu secara tidak jelas, yang dituju
adalah perairan pesisir dengan batasan permukaan air, kolom air sampai
pada batas dasar dari laut, atau yang dituju sumber daya pesisir dan pulaupulau
kecilnya yang ada empat komponen, atau yang dituju adalah pulaupulau
kecil. Jadi ketidakjelasan/inkonsistensi internal di dalam UU 27/2007;
• Kemudian yang kedua adalah ada inkonsistensi horizontal. Karena
objeknya terutama objek yang kelompok dua dan tiga yaitu sumber daya
pesisir dan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau kecilnya, yang mengandung
inkonsistensi secara horizontal dengan sektor-sektor lain yang sudah diatur
di dalam Undang-Undang sektoralnya masing-masing. Adanya inkonsistensi
75
pengaturan objek HP-3 baik secara internal maupun horizontal dengan
Pasal 28H ayat (1) UUD 1945;
• Pengaturan tentang subjek yang dapat diberi HP-3 sebagai cara untuk
mewujudkan tujuan pengelolaan sumber daya agraria, menggunakan istilah
sumber daya agraria. Hal ini bertentangan dengan Pasal 33 ayat (4) dan
Pasal 28H UUD 1945;
• Bahwa pengaturan tentang subjek yang dapat diberi HP-3 sebagai cara
serta mewujudkan tujuan, bertentangan dan mengandung disharmoni
dengan kedua pasal UUD 1945. Pertama tujuan dari pengaturan,
pengelolaan sumber daya agraria, Pasal 33 ayat (3) sudah sangat jelas
mengatakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, yaitu seluruh Rakyat
Indonesia. Cara mewujudkan tujuan adalah sebagaimana dalam Pasal 33
ayat (4) UUD 1945 di sana dikandung istilah demokrasi ekonomi, sebagai
cara untuk mewujudkan tujuan;
• Demokrasi ekonomi adalah pemberian kesempatan yang sama kepada
setiap orang untuk memperoleh akses atas sumber daya agraria, termasuk
di dalamnya sumber daya agraria yang menjadi objek dari HP-3. Pemberian
kesempatan yang sama, artinya setiap orang harus berusaha untuk
memperoleh, untuk menggunakan kesempatan itu agar memperoleh HP-3,
agar memperoleh bagian-bagian memanfaatkan sumber daya agraria.
Artinya apabila setiap orang harus berusaha, bersaing satu dengan yang
lainnya untuk memperoleh kesempatan, untuk menggunakan kesempatan
itu;
• Dalam persaingan yang akan terjadi adalah ada warga negara Indonesia
yang dapat memperoleh hak, tetapi tentu ada kelompok masyarakat yang
tidak akan memperoleh hak. Secara sosiologis, yang akan menang tentu
adalah mereka yang mampu memenuhi persyaratan-persyaratan yang
ditentukan untuk memperoleh hak;
• Dalam konteks pengelolaan sumber daya agraria, mereka yang punya
modal besar menguasai managemen berusaha yang baik begitu dan
menguasai teknologi yang tinggi. Sementara kelompok-kelompok
masyarakat yang tidak memenuhi persyaratan, yang tidak termasuk dalam
kategori, tentu akan tersingkir dari proses persaingan. Artinya demokrasi
76
ekonomi hanya akan menghasilkan sebuah proses persaingan di mana
yang kuat akan memperoleh, yang lemah tidak akan memperoleh;
• Oleh karena itulah di dalam Pasal 28H ayat (2) UUD 1945 dinyatakan setiap
orang berhak untuk mendapatkan kemudahan dan perlakuan khusus dalam
kerangka untuk memperoleh persamaan. Artinya negara harus memberikan
perlakuan khusus, kemudahan bagi kelompok masyarakat yang lemah agar
mereka mampu memberdayakan dirinya, sehingga berada pada posisi yang
sama dengan yang kuat;
• Pasal 33 ayat (4) dan Pasal 28H ayat (2) UUD 1945 merupakan dua pasal
yang harus saling menguatkan, harus ditafsirkan dalam konteks harus
saling menguatkan;
• UU 27/2007 baik melalui Pasal 18 dan Pasal 21 memang ada tiga
kelompok masyarakat yang dapat diberi HP-3. Pertama, orang
perseorangan warga negara Indonesia. Kedua, badan hukum Indonesia.
Ketiga adalah masyarakat adat, sedangkan pengertian masyarakat adat
dengan masyarakat hukum adat adalah berbeda;
• Ada tiga kelompok masyarakat yang diberi hak diukur dari tingkat
kemampuannya secara sosial ekonomi, Pertama, badan hukum yang
berbentuk perseroan-perseroan terbatas. Kedua, koperasi pada urutan yang
kedua. Ketiga, adalah orang perseorangan yang berada pada posisi yang
sangat lemah. Keempat, masyarakat hukum adat yang mungkin tidak akan
pernah terwujud, karena untuk dinyatakan sebagai masyarakat hukum adat
perlu satu proses yang panjang. Artinya Pasal 18 dan Pasal 21 UU 27/2007
hanya mengakomodasi cara yang bersifat demokrasi ekonomi yang hanya
akan menghasilkan persaingan. Dalam persaingan sekali lagi, yang akan
menang adalah perseroan-perseroan terbatas. Tingkatan yang kedua
mungkin adalah koperasi. Perorangan dan masyarakat hukum adat adalah
kelompok yang akan tersingkir dari proses persaingan;
• Oleh karena itu, di dalam UU 27/2007 kekurangannya adalah pertama,
ketidak konsistenannya dengan tidak menjabarkan sebagai komplemen dari
Pasal 28H ayat (2) UUD 1945 karena sadar atau tidak sadar akan terjadi
persaingan. Kalau terjadi persaingan, fungsi negara melalui undangundangnya
untuk memberikan perlakuan khusus kepada kelompokkelompok
masyarakat yang akan menjadi subjek dari HP-3 untuk diberikan
77
perlakuan-perlakuan khusus. Kalau tidak, akan terjadi seperti di dalam
pengelolaan sumber-sumber agraria yang lainnya. Kedua, di sektor
kehutanan mengapa terjadi konflik begitu besar karena Undang-Undang
Kehutanan hanya menjabarkan demokrasi ekonomi, tetapi tidak
menjabarkan tentang adanya keharusan, adanya peranan negara untuk
memberikan perlakuan khusus kepada kelompok-kelompok di sekitar hutan
yang berada dalam posisi lemah. Ketiga, adanya pertentangan tentang
pengakuan dan penghormatan terhadap masyarakat hukum adat yang ada
di dalam UU 27/2007 dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. UUD 1945
melalui Pasal 18B ayat (2) sudah sangat jelas, konsepnya negara
memberikan pengakuan dan penghormatan terhadap masyarakat hukum
adat beserta hak-hak tradisionalnya. Hal itu harus diterjemahkan dengan
hak ulayatnya. Pengakuan adalah satu pernyataan oleh negara melalui
Undang-Undangnya terhadap keberadaan dan kedudukan dari masyarakat
hukum adat. Pernyataan keberadaannya, bagaimana menyatakan
keberadaannya. Di dunia doktrin, sangat banyak ukuran-ukuran yang bisa
digunakan, bahkan di dalam Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 5
Tahun 1999, diberi batasan indikator-indikator untuk melakukan pernyataan
tentang keberadaan;
• Tentang kedudukan dari masyarakat hukum adat dilihat dari Pasal 18B ayat
(2) berada pada bab tentang Pemerintahan Daerah. Artinya masyarakat
hukum adat harus ditempatkan sebagai bagian dari pemerintahan di daerah
paling tidak sederajat dengan desa di daerah-daerah lain yang sudah tidak
mengenal lagi masyarakat hukum adat. Maknanya, kedudukan
pengakuannya harus diakui sebagai bagian dari pemerintahan di daerah
yang paling rendah paling tidak. Di dalam notulensi pembentukan pasal ini,
amandemen yang kedua dari UUD 1945 adalah dalam rangka
menempatkan masyarakat hukum adat sebagai bagian dari pemerintahan di
daerah yang paling bawah;
• Pengakuan pertama, harus ditujukan kepada keberadaannya, yang kedua
kepada kedudukannya sebagai bagian dari pemerintahan di daerah.
Menghormati artinya menjunjung tinggi keberadaannya dan kedudukannya.
Kalau kedudukannya adalah sebagai bagian dari pemerintahan, junjung
tinggilah, sebagai badan pemerintahan untuk menjalankan kewenangan78
kewenangannya berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum adat yang
berlaku;
• Di dalam UU 27/2007, justru agak terbalik. Bahkan inilah wujud dari
disharmoninya. Pasal 61 UU 27/2007 jelas memberikan pengakuan,
penghormatan, dan perlindungan terhadap masyarakat hukum adat.
Sebagai suatu wujud yang paling baik Pasal 61, tetapi di dalam Pasal 18,
masyarakat hukum adat ditempatkan sebagai salah satu subjek dari HP-3.
Artinya, masyarakat hukum adat kedudukannya sama dengan badan-badan
hukum sama dengan orang perseorangan. Artinya Pasal 61 menghormati,
melindungi, tetapi Pasal 18 justru menempatkan bukan dalam konteks
sebagai badan pemerintahan, tetapi ditempatkan sejajar dengan
perorangan, dengan badan-badan hukum yang lain. Bahkan perlu dicermati
lebih lanjut, Pasal 21 ayat (4) huruf b dari UU 27/2007, justru keberadaan
masyarakat hukum adat disubordinasikan kepada pemegang HP-3 karena
dinyatakan pemegang HP-3 harus membina, harus memberdayakan
masyarakat hukum adat. Satu kondisi pengaturan yang sangat
bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945.
3. Ahli Supriadi Adhuri
• Klarifikasi Ahli: pada tanggal 11 April, tiga hari setelah mengikuti sidang
pada tanggal 8 April yang lalu, Ahli mendapat forward email yang
bersumber dari Bapak Dr. Sapta Putra Ginting salah satu representasi yang
dari Kementerian Kelautan. Email ini berisi pertanyaan dan pernyataan
terkait posisi Ahli sebagai ahli yang menyatakan “Pada sidang Mahkamah
Konstitusi (MK) hari Kamis lalu, KIARA mengajukan Ahli Dr. Dedi Adhuri
staf peneliti dari LIPI (dulu bawahan Ibu Dr. Yulvita Raharjo) setelah
disumpah dan tidak menyampaikan apa-apa pandangan keahliannya
terhadap Undang–Undang 27 Tahun 2007, yang pada akhirnya ditegur
Hakim Konstitusi dan sidang ditutup. Pertanyaannya adalah apakah Dedi
Adhuri telah mendapat kewenangan dari LIPI untuk menjadi ahli melawan
pemerintah Presiden SBY yang dilimpahkan kepada Menteri Patrialis Akbar
dan Fadel Muhammad? Atau apakah Dedi sebagai pribadi melawan
Pemerintah? Mohon bantuan menyebutkan nama orang di situ memberitahu
dari LIPI tempatnya bekerja.” Selanjutnya bagian akhir dari email ini,
“…dalam kasus lain ada seorang kepala lapas yang menjadi ahli melawan
79
pemerintah akhirnya dimutasikan meskipun akhirnya dia tidak jadi bersaksi.
Tolong bantu klarifikasi ya, Pak. Cheers, Sapta.” Karena posisi Ahli sebagai
ahli hanya pada sidang ini dan pada hal-hal lain terkait perkara ini, maka
Ahli ingin menanggapi surat email itu;
• Analisa ketidaksesuaian pasal-pasal HP3 dengan Pasal 18B ayat (2) UUD
1945. seperti kita ketahui, Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 adalah pasal yang
berisi pengakuan dan penghormatan negara terhadap kesatuan masyarakat
hukum adat dan hak-hak tradisional. Pasal tersebut berbunyi “negara
mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat
beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang diatur dalam undang-undang”;
• Pada pranata hak ulayat laut dan pengelolaan sumber daya pesisir
tradisional dilakukan oleh cukup banyak masyarakat adat di pesisir
Indonesia. Kajian pustaka yang dilakukan oleh Ruddle tahun 1994 mencatat
bahwa pranata-pranata itu terdapat di beberapa komunitas di Sumatera,
Kalimantan, Maluku, Papua, Sulawesi, Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Flores, dan Tanimbar. Gerner, tahun 1990 juga mencatat terdapatnya
praktik serupa di selat Makassar. Arif Satria juga mencatat praktik
tradisional aweg-aweg di Mataram. Di Tanimbar, Maluku, kelompok
kekerabatan tertentu memiliki hak pakai dan hak pengelolaan terhadap reefreef
tertentu di pulau dan permohonan izin untuk mengambil atau
menggunakan sesuatu, dimintakan dari tuan tanah;
• Di antara orang-orang Galela di Halmahera, Maluku Utara, desa adat
mengklaim hak pemilikan terhadap wilayah-wilayah penangkapan ikan. Di
Pulau Selayar, di Laut Flores, tempat-tempat dimana orang meletakkan alat
tangkap menetap, juga menjadi objek kepemilikan dan diwariskan kepada
anak laki-laki. Di Irian Jaya, komunitas pesisir Ormu dan Tepra dekat
Jayapura mengolah hak penangkapan ikan dan akses wilayah dan sumber
daya pesisir laut melalui kombinasi praktik-praktik adat kepemilikan wilayah
laut oleh keluarga dan desa adat;
• Contoh hak ulayat yang menjadi dasar diklaim, dimiliki oleh satu masyarakat
adat ratschap yang disebut Maur Ohoiwut di Kei Besar. Selain mengklaim
hak kepemilikan terhadap wilayah tertentu, masyarakat adat juga
80
mengimplementasikan aturan yang disebut Sasi yaitu pengaturan
bagaimana masyarakat melakukan penangkapan atau berhenti melakukan
penangkapan pada saat-saat tertentu. Di laut juga diterapkan kalau Sasi
ditutup misalnya di suatu tempat, di wilayah hak ulayat, maka masyarakat
dilarang sama sekali untuk melakukan penangkapan terhadap sumber daya
yang dikenai aturan Sasi. Hanya pada saat Sasi dibuka, anggota
masyarakat boleh melakukan penangkapan sumber daya yang dijadikan
objek Sasi. Itu pun mereka diatur, misalnya mereka hanya boleh melakukan
penangkapan dengan menyelam tanpa alat-alat modern, hanya dengan
kacamata tradisional saja. Mereka juga diatur untuk tidak menangkap,
misalnya untuk bia lola, objek dari itu, kerang, tidak boleh lebih dari 6
sentimeter. Jadi sesudah dibuka, kemudian ketua adat menyatakan ditutup
lagi, maka ditutup lagi. Semua orang dilarang untuk melakukan
penangkapan terhadap sumber daya tersebut;
• Contoh di Aceh, ada pengelolaan tradisional yang disebut dengan hak adat
laut yang dijalankan oleh Panglima Laot. Dasarnya mereka juga mengklaim
wilayah ulayat tertentu. Berbeda dengan di Maluku, mereka tidak
mengklaim hak milik terhadap wilayah itu tetapi hak pengelolaan. Menurut
mereka, semua orang boleh menangkap di situ, tetapi siapapun yang
menangkap di situ harus mengikuti aturan-aturan tertentu. Salah satu
contoh aturan-aturan yang berlaku di Lhok, yang disebut Lhok Kruet.
Mereka melarang penggunaan alat tangkap yang merusak atau
penggunaan racun untuk keperluan menghindari kerusakan lingkungan atau
keberlangsungan sumber daya alam. Kemudian mereka juga melarang
penggunaan kompresor. Karena kompresor selalu diasosiasikan dengan
penggunaan potasium. Menurut mereka, kalau orang diperbolehkan
menangkap dengan kompresor, maka sumber daya terutama lobster
biasanya yang ditangkap oleh kompresor, hanya bisa ditangkap oleh
nelayan yang menggunakan kompresor A saja, nelayan-nelayan tidak
kebagian. Jadi dalam hal ini prinsip keadilan dari distribusi sumber daya
yang ada di wilayah mereka. Mereka juga mengatur dan mengidentifikasi
fishing spots, tempat wilayah tangkapan dan mengatur teknologi apa saja
yang boleh melakukan penangkapan, misalnya pada saat tertentu hanya
diperioritaskan untuk pancing saja. Yang lain misalnya, jaring tidak boleh
81
karena prinsip keadilan. Kalau jaring dilakukan maka ikan akan terjaring
semua sementara nelayan pancing diabaikan;
• Orang-orang di sini secara voluntary mengatur bahwa trout dilarang. Dalam
teori-teori pengelolaan sumber daya alam, praktik-praktik seperti merupakan
alternatif dari kelemahan-kelemahan praktik-praktik yang sentralistik oleh
Pemerintah. Tentu saja mereka punya kelemahan, tetapi kelemahan itu
yang seharusnya dibantu oleh Pemerintah supaya mereka bisa melakukan
pengelolaan secara efektif;
• Hubungan dengan pendapat Ahli mengenai ketidaksesuaian antara pasalpasal
mengenai HP-3 dengan pengakuan terhadap hak, kembali ke Pasal
18B ayat (2) bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan
masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih
hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Kalau kita melihat isi
pasal itu, maka pasal-pasal HP-3 bertentangan. Misalnya Pasal 16 angka 1,
“Pemanfaatan peradilan pesisir diberikan dalam bentuk HP-3.” Kemudian
angka 2, “HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat satu, meliputi
pengusahaan atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan
permukaan dasar laut”;
• Pasal 16 angka 1 bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945
karena paling tidak secara implisit pasal tersebut mengangap praktik-praktik
hak ulayat laut dan pengelolaan pesisir laut tradisional yang objeknya sama
dengan Pasal 16 angka 2 sebagai tidak ada dan digantikan oleh HP-3.
Pihak pembuat UU 27/2007 mungkin akan berargumen pasal ini hanya
menihilkan tradisi sementara sampai dengan masyarakat mengajukan
permohonan HP-3. Logika ini tidak logis karena, tidak ada syarat yang
diajukan konstitusi untuk pengakuan terhadap hak adat itu dan tradisinya.
Jadi persyaratan oleh HP-3 dengan demikian bertentangan dengan
konstitusi;
• Karakteristik tradisi adalah oral. Dia disampaikan oleh orang-orang tua
kepada generasi penerusnya secara lisan. Hanya sedikit masyarakat yang
menerjemahkan tradisi dalam bentuk tulisan. Yang sedikit itu pun hampir
semuanya dibantu oleh akademisi ataupun aktivis lembaga swadaya
masyarakat. Dengan demikian syarat-syarat pengajuan HP-3 yang
ditentukan pada Pasal 21 angka 1 sampai dengan angka 5 paling tidak
82
sebagian besar tidak sesuai dengan karakteristik hak ulayat dan
pengelolaan tradisional yang telah dijelaskan. Yang tersebar dibanyak
tempat di Indonesia;
• Jika pun dipaksakan didaftarkan, tradisi hak ulayat dan praktik pengelolaan
tradisional harus diubah. Karena karakteristik dari beberapa contoh tidak
sesuai dengan karakteristik HP-3. Misalnya, berjangka waktu 20 tahun,
Pasal 19 angka 1. Padahal praktik tradisional tidak ada batasnya sepanjang
masyarakatnya ada dan dijamin oleh konstitusi. Jadi pasal-pasal HP-3
bertentangan dengan konstitusi yang terkait dengan pengakuan terhadap
hak adat dan tradisi yang di dalamnya. Analisa terhadap kekeliruan pasalpasal
HP-3 dengan Pasal 28H ayat (2) UUD 1945. Disebutkan dalam Pasal
22H ayat (2) UUD 1945 bahwa setiap orang berhak mendapatkan
kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan
manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan;
• Katarakteristik nelayan, hasil dari review seorang Ahli Antropologi Maritim
yang me-review 250 artikel yang berisi deskripsi tentang karakteristik
nelayan, “Kegiatan melaut terjadi pada lingkungan yang heterogen dan tidak
menentu, ketidaktentuan ini tidak hanya berasal dari lingkungan fisik, tetapi
juga lingkungan sosial dimana kegiatan melaut dilakukan.
Laut adalah dunia yang berbahaya dan asing di mana manusia
diperlengkapi secara minimal, Laut adalah dunia di mana manusia hanya
bisa memasukinya dengan bantuan alat buatan, perahu, alat selam, dan
lain-lain. Itu pun jika kondisi laut memungkinkan ancaman yang konstan dari
ombak kencang kecelakaan dan kerusakan mekanis membuat kegiatan
melaut menjadi pekerjaan yang paling berbahaya.
Banyak zona ekologi terdiri dari berbagai macam spesies yang
memiliki kebiasaan hidup yang berbeda. Ikan juga bergerak dari suatu
tempat ke tempat lain, dari satu musim ke musim lain dan juga jumlahnya
bisa berfluktuasi dan kadar yang sulit ditebak. Terutama oleh nelayan kecil
mayoritas dari Nelayan di Indonesia dan karakter laut dan sumber daya
seperti itu kehidupan nelayan tidaklah mudah dan penuh dengan
ketidakpastian.
Secara psikologis selain bekerja dengan tingkat bahaya yang tinggi,
dia juga pekerja dengan ruang yang sempit (perahu) dalam dunia yang
83
hanya biasanya dominasi laki-laki. Tekanan lingkungan laut dan kondisi
kerja seperti ini sering kali membuat kehidupan rumah tangga nelayan
cenderung berbeda dengan standar komunitas masyarakat dan pekerjaan
yang lain. Waktu pekerja yang seringkali tidak sesuai dengan kegiatan
dunia yang lain, misalnya bekerja pada malam hari sementara siang
digunakan untuk istirahat, seringkali membuat kepentingan nelayan tidak
terwakili dalam dunia politik.
Karakteristik seperti ini juga membuat nelayan sangat bergantung
pada pemilik-pemilik kapal dan tengkulak yang sering kali yang
mengeksploitasi mereka “;
• Menyimak HP-3 Pasal 18 huruf a, huruf b, dan huruf c, tidak terlihat adanya
perlakuan khusus terhadap nelayan dalam berhadapan dengan orangperorangan
warga negara Indonesia, badan hukum yang didirikan
berdasarkan hukum Indonesia, atau masyarakat adat. Hampir bisa
dipastikan tanpa perlakuan yang khusus, nelayan tidak akan bisa
berkompetensi dengan pihak-pihak yang lain yang mungkin mengajukan
HP-3 seperti disebutkan Pasal 18 huruf a, huruf b, dan huruf c. Dengan
tatanan hidup dan keterbatasan sumber daya yang telah teridentifikasi di
atas dan hampir tidak mungkin untuk dapat syarat-syarat pengajuan HP-3
seperti tertuang dalam Pasal 21 angka 1 sampai angka 5 misalnya;
• Dengan kesimpulan di atas, bahwa HP3 bertentangan dengan Konstitusi
dan cenderung akan memarginalkan masyarakat nelayan pada umumnya.
4. Ahli Henry Thomas Simarmata
• Keterangan terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu:
1. Konteks hak asasi manusia secara umum dan konteks hak asasi
manusia dalam konstitusi Indonesia.
2. Masalah yang menyangkut HP-3.
3. Masalah di mana pertentangannya dengan konstitusi.
• Yang pertama, perlu ditekankan bahwa hak ekonomi, sosial, budaya dalam
konstitusi Indonesia mempunyai kekuatan hukum dan diakui secara hukum
internasional, di mana negara mempunyai kewajiban mencegah
kesewenang-wenangan, kekerasan, kekacauan hukum dan lain
sebagainya. Sekaligus juga negara harus menciptakan perlindungan
kesejahteraan, termasuk dengan pengembangan kapasitas negara. Secara
84
khusus hak ekonomi, sosial, budaya membutuhkan peran negara yang aktif
dan menciptakan langkah dan ada anak tangga menuju kondisi sosial
ekonomi yang lebih baik;
• Yang kedua, kewajiban negara dalam ekonomi, sosial, dan budaya.
Ditegaskan dalam Pasal 33 UUD 1945, kewajiban negara secara umum hak
ekonomi, sosial, dan budaya mempunyai kedudukan hukum penting dalam
konstitusi Indonesia. Kedudukan menguatkan hak kekuatan ekonomi,
sosial, dan budaya mempunyai kekuatan hukum atau dikenal istilah
justiciability. Hak ekonomi, sosial, dan budaya dinyatakan secara khusus
dalam konstitusi baik secara sejarah, dan konteks-konteks original intention
dalam kerangka hukum, lalu pendasaran yang kuat dalam Pasal 33, Pasal
34, Pasal 37 ayat (2), Pasal 18B ayat (2) dan secara khusus dalam
Penjelasan Pasal 33 dan hal ini naskah lama ada dalam catatan kaki, dan
naskah para Bapak bangsa Soekarno dan Muhammad Hatta;
• Yang ketiga, tanggung jawab negara dalam soal mengembangkan
kapasitas juga memerlukan fasilitasi dan pembangunan kapasitas, dikenal
dengan welfare state atau negara kesejahteraan atau negara kemakmuran.
Mengenai Hatta memberikan pernyataan bahwa ada empat hal dalam
fasilitasi yaitu, pekerjaan penuh, standar yang selalu bertambah baik,
berkurangnya kesetaraan dan soal keadilan sosial;
• Yang keempat, tentu secara khusus mengutip Putusan Mahkamah
Konstitusi, yang pertama dalam soal pengertian yang lebih tinggi, Pasal 33
UUD 1945 mengandung pengertian lebih tinggi daripada pemilikan dalam
konsepsi hukum perdata. Dan yang kedua tentu dalam soal negara
merumuskan kebijakan, melakukan pengaturan, melakukan pengurusan,
melakukan pengelolaan, dan melakukan pengawasan;
• Kerangka perlindungan:
1. Pertama, standar dalam hak asasi manusia perlu ada standar. Jadi tidak
bisa disamaratakan;
2. Kedua, indikator juga prinsip “Limbur” dan prinsip “Matriks”, artinya kalau
tidak bisa mengangkat situasi hak asasi manusia yang parah setidaknya
negara tidak menambah penderitaan;
• Kelima, identifikasi kelompok rentan, dalam suatu kebijakan. Sebagian
besar menyangkut persoalan menyangkut HP-3. Kategori HP-3 seolah-olah
85
menghapus ketentuan hukum yang lain termasuk yang terdapat dalam
Pasal 33 UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia. Hal ini dapat dikatakan bahwa ada kebingungan
diciptakan mengenai masyarakat hukum adat. Mengapa harus ada
keharusan masyarakat hukum adat untuk mengupayakan kepemilikan
mereka di tempat mereka sendiri yang sudah mereka hidupi selama
bertahun tahun, yang semestinya tidak termasuk kategori komersialisasi
artinya menyamakan masyarakat hukum adat atau organisasi for profit
membingungkan;
• Yang ketiga, menciptakan kategori hukum baru, dalam hal ini membuka
komersialisasi tanah, termasuk juga spekulasi tanah atau dalam keterangan
Ahli sebelumnya soal sumber dayanya sendiri. Untuk Indonesia dengan
negeri garis pantai terpanjang di dunia dan juga dengan pulau pulau kecil,
komersialisasi jenis akan membuka komersialisasi, korporasi dengan skala
yang luas. Yang terjadi di Jepang pada tahun 1980 dan 1990 dan baru-baru
ini menghantam Amerika Serikat, proses utang piutang mendasarkan atas
penjaminan tanah. Dapat dicermati bahwa HP-3 menerapkan pola single
ownership atau closed ownership, artinya sekali ditetapkan HP3 menurut
peran serta ekonomi dan ekologi dari pihak lain. Tadi disebut kompetisi. Hal
ini bukan saja membayangkan secara ketahanan negara, secara ekologi
bahkan secara ekonomi. Secara khusus ilmu-ilmu lain membantu
mengidentifikasi mengapa closed ownership ini merugikan. Ahli mengutip
penghargaan nobel ekonomi di tahun 2009 kepada Elinor Ostrom yang
secara khusus memperhatikan pemeliharaan bersama dalam soal
perikanan, kawasan perumputan, hutan, danau, daerah, serta tampung
aliran air, irigasi, air minum, dan kelautan. Inilah yang disebut dengan
Command Full Resources. Yang juga penting adalah bahwa komersialisasi
sumber daya akan menjadikan pola pengelolaan, menjadi profit making atau
bahkan land grabbing atau penyerobotan tanah. Keterangan mengenai
HP-3 ada catatan bahwa tidak belajar dari catatan yang sudah dibuat,
dokumen-dokumen pokok yang sudah dibuat beberapa waktu yang lama.
Yang pertama dari Keith Griffin soal akses dan kemampuan kelola termasuk
ownership, itulah nanti yang membedakan kemampuan meningkatkan
ekonomi. Juga sudah disebut oleh Ahli sebelumnya. Kedua, Negara bisa
86
saja gagal di daerah-daerah yang katakanlah jauh dari unsur konsentriknya,
dalam hal ini pesisir dan pulau-pulau kecil mempunyai peluang yang sangat
besar menjadi tempat di mana negara gagal. Ketiga, nelayan yang disebut
adalah mereka yang bekerja dengan pola pengelolaan kecil, sosial ekonomi
kecil. Diakui oleh PBB bahwa kelaparan itu menunjuk pada masalah
pedesaan di mana petani pengelola tanah skala kecil, buruh tani, nelayan,
komunitas berburu dan meramu mengalami situasi penderitaan. 80% dari
mereka hidup di wilayah pedesaan dan 50% adalah mereka yang hidup
dengan ekonomi gurem, apakah petani atau nelayan. Laporan yang juga
penting perlu disampaikan untuk menguatkan masalah kapasitas negara
adalah laporan 2009 dari IAASTD yang juga disetujui oleh seluruh anggota
konferensi, termasuk Anggota Majelis Umum PBB. Trend global
menunjukkan arah dekapitalisasi petani miskin dan sumber daya mereka, di
mana mereka mengalami posisi tawar mereka yang semakin rendah dalam
perdagangan dan kompetisi;
• Pemerintah Indonesia juga berupaya menerapkan standar hak asasi
manusia dalam konteks masyarakat pedesaan termasuk desa nelayan.
Dewan HAM, Ahli terlibat di sana. Pemerintah Indonesia menjadi
pendukung utama dalam resolusi soal hak atas pangan. Dalam resolusi
tersebut dinyatakan bahwa negara perlu memperkuat peran, kapasitasnya
dalam operative paragraph nomor 10, lalu mencermati akuisisi tanah skala
besar, operative paragraph 35, dan perlindungan terhadap kelompok rentan
atau di sini disebut masyarakat pedesaan termasuk nelayan tradisional,
operative paragraph 44;
• Secara khusus perlu ditekankan bahwa krisis pangan terjadi adanya suatu
gambar besar mengenai sisi demand yang menjadi amat sangat dominan
daripada supply. Perdagangan global membuat pertanian menjadi suatu
bentuk reserve pool sekadar untuk pengumpul modal dan dimasukkan
dalam ekonomi spekulasi dan ekonomi jangka pendek. Tentu bentuk
reserve pool ini juga bisa kekayaan hayati di wilayah pesisir dan pulaupulau
kecil. Krisis pangan ini juga membuka problem konsentrasi
kepemilikan dan komersialisasi oleh pihak tertentu, apakah pihak Negara
atau pihak bukan negara. Krisis pangan membuka sisi lemah negara dalam
persoalan mempredisksi suatu kebijakan, dalam hal ini termasuk
87
menggunakan tanaman pangan sebagai bahan energi. Konteks ini juga
menjadi peringatan atas situasi sejenis dalam kawasan pesisir dan pulaupulau
kecil;
• Akhirnya bagian yang ketiga, yang pertama di tingkat negara. Ada
pelemahan atau pengaburan, di wilayah-wilayah yang jauh dari konsentrik
negara, apalagi dengan karakter kepulauan. Kewajiban negara bisa menjadi
sangat kabur dengan adanya HP3. Sekaligus bertentangan dengan pondasi
dan tanggung jawab negara sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 33,
Pasal 27, Pasal 28, Pasal 28A sampai 28H, dan Pasal 18B;
• Masalah yang kedua, di tingkat struktural. Ketentuan ini serba hipotetis
dengan kemungkinan spekulasi ekonomi yang amat besar, sehingga sangat
tergantung pada kondisi, bahkan juga kapital dan kekuatan;
• Yang kedua pelemahan hak gugat dan hak akses masyarakat, kaitannya
dengan closed ownership tadi. Sekali ditetapkan, peran serta masyarakat
yang tidak mendapat lisensi itu menjadi sangat lemah dan bisa jadi mereka
justru yang paling lemah, dalam kondisi sosial, budaya dan ekonomi;
• Lalu regulasi tanah yang membuka kemungkinan perampasan atau defifasi.
Diakui bahwa negara dengan kepulauan tentu banyak sekali alasan untuk
bisa mengambil kekayaan hayati;
• Dalam konteks kebijaksanaan internasional, hal ini menjadi kebalikan
dengan apa yang sudah dan sedang diupayakan oleh Pemerintah Indonesia
yaitu semakin memberikan perlindungan yang memadai untuk para pihak
utama dan masyarakat ekonomi, sosial, budaya di kawasan pesisir dan
pulau-pulau kecil;
• Di tingkat hak masyarakat secara khusus perlu kita lihat bahwa, yang
pertama ada pelemahan, terhadap kemampuan masyarakat dalam
memastikan kehidupan yang terjangkau, akses sumber kelola dan sumber
daya produktif. Yang kedua kelompok lemah dan diskriminasi.
5. Ahli I Nyoman Nurjaya
• Berbicara mengenai pengelolaan sumber daya alam, maka tidak bisa
langsung merujuk pada Undang-Undang. Kita harus mulai berbicara
mengenai ideologi yaitu ideologi penguasaan dan pemanfaatan sumber
daya alam dan rujukan yang digunakan dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara adalah konstitusi negara.
88
• UUD 1945 dimulai dengan pembukaan pada alinea keempat. Untuk apa
tujuan, untuk apa negara didirikan. Di sana disebutkan bahwa melindungi
segenap bangsa dan melindungi seluruh tumpah darah Indonesia dan itu
korelasinya adalah teritori wilayah kedaulatan beserta segala isinya
termasuk di dalamnya adalah sumber daya alam. Dan kemudian
dikonkritkan dalam Pasal 33 ayat (3) “Bumi dan air dan kekayaan alam yang
terkadung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.” Ada 2 kata kunci di sini. Dikuasai oleh
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Ideologi sebagai ideologi penguasaan dan pemanfaatan sumber daya alam.
Dikuasai oleh negara, kata kunci yang pertama. Ada Keputusan Mahkamah
Konstitusi yang memaknai artinya mengajak untuk memaknai hak
menguasai negara bukan berarti memiliki, tetapi sebagai atau dimaknai
sebagai merumuskan kebijakan beli, pengaturan, regeling, pengurusan,
pengelolaan dan pengawasan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
• Caranya melalui pembangunan nasional dan itu harus dilakukan, dan salah
satu modal untuk pembangunan nasional adalah sumber daya alam.
Tujuannya untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. Pertanyaannya
kemudian, Kalau dilihat dari paradigma pembangunan nasional yang
tercermin di dalam kebijakan nasional pembangunan nasional, kalau
sekarang disebut rencana pembangunan jangka panjang dan jangka
menengah, kalau dulu GBHN kemudian jadi Propenas dan sekarang RPJP
dan RPJM. sumber daya alam salah satu modal pembangunan, tetapi yang
paling diandalkan. Kalau kita lihat dari dokumen kebijakan pembangunan
nasional dalam RPJP, RPJM ada kecenderungan orientasinya adalah
pembangunan yang digunakan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.
Sampai sekarang mulai dari GBHN sampai sekarang, di RPJP juga
economic gradualment. Tetapi harus diingat bahwa ada 2 dimensi penting
dalam kebijakan pembangunan nasional, yang pertama dimensi proses
bagaimana pembangunan dilakukan dan yang kedua adalah dimensi
targetnya, Artinya target pertumbuhan ekonomi untuk mensejahterakan
rakyat. Dua-duanya penting, proses dan target. Ada kecenderungan bahwa
pembangunan nasional lebih diorientasikan untuk mengejar target-target
89
pertumbuhan ekonomi sehingga kemudian yang penting angka-angka
pertumbuhannya.
• Implikasi yang dapat ditimbulkan kalau orientasi pembangunan ditujukan
semata-mata untuk mengejar target pembangunan yaitu: Yang pertama,
untuk mengejar target, eksploitasi use oriented bukan resource, lebih pada
pengelolaan. Yang kedua, mau tidak mau dominasi atau keberpihakkan
pada pelaku usaha, high capital oriented, dominasi pemodal besar. Yang
ketiga, seperti diungkapkan dalam manajemen pengelolaan ada nuansa
sektoral, di Indonesia menganut. Ada Kementerian Kelautan Perikanan
sendiri, karena konteksnya sumber daya alam. Lingkungan sendiri, energi
sumber daya mineral sendiri, kehutanan sendiri, dan mencerminkan
sektoral. Dan kemudian masing-masing bergerak sendiri-sendiri sesuai
dengan kepentingan sektornya. conflict of interest-nya muncul. Ada
kelembagaan sendiri yang diberikan kewenangan sendiri oleh Undang-
Undang yang berbeda-beda, itu yang saya sebutkan sebagai sektoral. Dan
ada implikasi-implikasi hukumnya kemudian yang disebut dengan conflict of
norms, ada konflik norma antara Undang-Undang yang sederajat, yang
berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam, horizontal conflict. Belum
nanti kita lihat yang vertikal, yang di atas dengan di bawah ada asas yang
disebut dengan lex superior derogat leggy inferiori dan seterusnya. Yang
kemudian ada limitasi ruang akses informasi, transparansi, partisipasi
publik, akuntabilitas publik, juga menjadi bagian dari implikasi.
• Dalam hubungan dengan keberadaan masyarakat adat, ada
kecenderungan pengabaian hak dan akses masyarakat adat dan juga
kemajemukan hukum di Indonesia, sebagai fakta kehidupan hukum, di satu
sisi ada hukum negara, di sisi lain ada hukum adat, di sisi lain lagi ada
hukum agama yang mencerminkan legal proalism {sic}.
• Ada kecenderungan yang disebut sebagai political of ignores, politik
pengabaian dalam hubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam.
Pengabaian terhadap hak-hak masyarakat adat, atas akses dan
pemanfaatan sumber daya alam. Oleh karena itulah bahwa konsekuensi
dari pembangunan yang selalu diorientasikan untuk mengejar target
pembangunan ongkosnya mahal sekali. Yang tidak pernah dihitung dalam
hitungan-hitungan pembangunan nasional. Ongkosnya ada tiga yang mahal
90
dibayar. Dan dapat kita cermati dengan kasat mata ecological degradation
process, pembangunan mulai tahun 1967 dan seterusnya. Apa yang terjadi
hutan kita secara kuantitas, kualitas sumber daya yang lain, mineral, minyak
dan gas bumi, perikanan dan lain-lain ecological degradation yang tidak
pernah dihitung dalam proses pembangunan. Yang kedua, economical lost,
semakin punah dan atau semakin terbatasnya sumber-sumber kehidupan
ekonomi masyarakat di daerah. Yang ketiga, juga penting yang menyangkut
aspek kemanusiaan social and cultural distraction, kerusakan tatanan
kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Khususnya masyarakat di daerah
bersentuhan dengan masyarakat hukum adat.
• Tiga ongkos pembangunan yang tidak pernah dihitung di dalam proses
pembangunan. Kewajiban negara melindungi segenap bangsa dan seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dengan
menggunakan instrumen hukum. Karena negara hukum. Wujudnya hukum
negara state law. Kongkretnya dalam bentuk peraturan perundangundangan.
Sebenarnya fungsi hukum, kalau kita berbicara hukum
kecenderungan orang orientasinya lebih pada penindakan. Padahal fungsi
hukum sebenarnya untuk mencegah. Oleh karena itu lebih baik mencegah
daripada menindak. Dan harus tercermin di dalam produk-produk
hukumnya. untuk nanti ada rujukannya, bagaimana pembangunan hukum
itu harus dilakukan, Rujukannya adalah prinsip-prinsip, pengelolaan sumber
daya alam. Instrumen hukum yang dibangun harus merespons dan
mengakomodasi prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya alam. Prinsipprinsip
pentingnya adalah prinsip keadilan, demokrasi dan berkelanjutan.
Dan kalau diakomodasi akan mencerminkan apa yang disebut oleh Billy
Pononet dan Philip Zelsnick sebagai responsive law, dalam bahasa
almarhum Profesor Satjipto Raharjo disebut sebagai hukum progresif. Dan
seperti juga dituangkan dalam disertasi Ketua Majelis Yang Mulia dalam
pemerintahan yang demokrasi, orientasi pembangunan hukumnya harus
mencerminkan apa yang disebut dengan responsive law. Kemudian dengan
UU 27/2007. Ada pelajaran masa lalu, UU 27/2007 ada di dalam Bab V
dalam hubungan dengan mengatur tentang pemanfaatan pemberian hak
pengusahaan perairan pesisir. Kalau mau belajar dari masa lalu terminologi
hukum ada implikasi-implikasi hukumnya. Dulu pernah dalam Undang91
Undang Nomor 5 Tahun 1967, kemudian ada Peraturan Pemerintahnya
yang memberikan hak pengusahaan hutan HPH, ada lagi HPHH. Hak
Pengusaha Hasil Hutan dan seterusnya dalam pengelolaan hutan
khususnya waktu itu. Apa implikasi hukumnya? Secara kasat mata kita bisa
lihat, karena kalau berbicara hukum ada di dua dunianya. Ada di dunia
hukum normatifnya seperti apa yang bisa kita baca dalam peraturan
perundang-undangan law asseritan in the book. Tetapi juga ada dunia
lainnya law as perform and human exact, dalam ranah hukum empirisnya.
• Hal ini kemudian menimbulkan implikasi hukum yang wujudnya adalah
pengabaian hak komunal masyarakat hukum adat. Dan ada yang penting
kemudian dicermati di sini dalam hubungan dengan persoalan hak. Kalau
kita baca dalam instrumen hukum negara, hak yang diatur itu adalah hak
negara dan hak individu. hak komunal masyarakat hukum adat selama ini
kalau kita cermati dari UUD 1945. Kemudian dalam Undang-Undang yang
lain, hak komunal masyarakat hukum adat itu, belum diakui sebagal legal
NTT. Entitas hukum yang tersendiri, berdiri sendiri setara dengan hak
negara dan hak individu. Dalam analisis akademik. Pertanyaannya
kemudian ada pilihan apakah sumber daya alam rusak dulu, baru instrumen
hukumnya baik. Hasil studi banding ke Nepal, Thailand, Filipina atau
instrumen hukumnya baik sumber daya alam terjaga juga dengan baik dan
termanfaatkan dengan baik.
• Amanat kembali kepada konstitusi yang intinya melindungi segenap
bangsa, dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan memajukan
kesejahteraan umum. Oleh karena itulah kemudian ketika kita mencermati
produk hukum UU 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil. Rujukan untuk merumuskan norma di dalam satu produk
hukum adalah kepada prinsip-prinsip. Dalam hal ini adalah prinsip-prinsip
pengelolaan sumber daya alam.
• Pengelolaan prinsip sumber daya alam adalah sumber daya alam harus
diakui itu adalah sebagai sistem kehidupan. Sistem ekologi. Ekosistem yang
satu sama lain saling terkait dan oleh karena itu kemudian ada intregasi
kepentingan di dalamnya ekologi, ekonomi, sosial dan budaya di dalamnya.
Ekologi, ekonomi, sosial dan budaya. Kalau sudah menyangkut persoalan
92
sistem kehidupan, hati-hati Precausionary prinsiple itu menjadi prinsip
penting di dalam pengelolaan sumber daya alam.
• Prinsip keberhati-hatian, prinsip pencegahan dini, dan kalau dalam
pengelolaan lingkungan hidup sumber daya alam, dihubungkan dengan
persoalan perizinan, prasyaratnya adalah analisis mengenai dampak
lingkungan hati-hati kalau alam rusak, kehidupan manusia juga akan
terganggu dan terancam.
• Satu prinsip lain yang berkaitan dengan persoalan keberadaan masyarakat
hukum adat, yang menyangkut hak dan aksesnya atas sumber daya alam
itu adalah apa yang disebut dengan prinsip free and prayer inform concern.
Prinsip ini di dalam produk hukum kita khususnya yang berkaitan dengan
pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam belum diakomodasi. Prinsip
ini ditemukan didalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang
Pengesahaan Kovensi PBB tentang bioday city.
• Pertama, prinsip keadilan, menyangkut atau dimensinya adalah inter antar
generasi, keadilan, alokasi dan distribusi untuk kemakmuran rakyat.
• Kedua, prinsip demokrasi menyangkut kesetaraan hubungan antara
Pemerintah dengan rakyat. Ada akses informasi, transparansi, partisipasi
publik, akuntabilitas publik, pengakuan dan penghormatan terhadap hak
dan akses masyarakat hukum adat, terhadap sember daya alam,
kemajemukan hukum dan prinsip keberlanjutan. Ada sumber daya alam
yang renewable dan non renewable. Kemudian keterbatasan daya dukung
dan juga ada batas, ambang batas kemampuan lingkungan yang berkaitan
dengan fungsi dan manfaat lingkungan dan sumber daya alam. Prinsipprinsip
ini yang harus menjadi rujukan dalam pembuatan satu produk
hukum, yang namanya Undang-Undang.
• Ada dua hal penting memang di dalam Bab V dan di dalam Bab XI yang
disoroti oleh Pemohon:
• Yang pertama, kaitan dengan pemberian hak pengusahan perairan pesisir,
HP-3, tadi. Ada pengalaman di masa lalu, hak pengusahan hutan,
kemudian hak pengusahaan juga menjadi pertanyaan. Hak pengusahaan
perairan pesisir atau ijin usaha. Hal ini menjadi penting dipertanyakan.
Kemudian HP-3 dapat dialihkan, ditukar, dihibahkan, disertakan dalam
modal perusahaan diagunkan sebagai objek hak tanggungan menjadi
93
pertanyaan besar, karena apakah masuk dalam ranah publik atau ranah
privat? Kemudian yang lain, hak pengusaha hutan tanpa diawali dengan
prasyarat Amdal, prinsip keberhati-hatian karena dibedakan antara usaha
dan kegiatan. Kalau usaha jelas orientasinya ke provit oriented, kalau
kegiatan Pemerintah melakukan kegiatan pembangunan, program-program
pembangunan untuk infrastruktur misalnya. Oleh karena itu kalau usaha,
adalah ijin bukan hak, apalagi ditambah dengan bisa dengan ditukar,
dihibah, dialihkan, diwariskanlah, apa diagunkan, karena itu pertanyaan
besarnya ranah hukum publik atau hukum privat.
• Kedua, di dalam Bab XI, kompensasi atau rekonisi dalam kaitan dengan
keberadaan masyarakat adat. Hati-hati, kompensasi artinya haknya hilang
setelah dibayar, tetapi kalau rekonisi pengakuan tetap ada dan prinsip
partisipasi publik sebenarnya sudah masuk.
6. Saksi Masnun
• Saksi dari Dukuh Ngebruk, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu,
Kota Semarang.
• Keadaan saksi berserta penduduk di sekitar, yang dahulunya makmur
menjadi tidak makmur setelah beroperasinya suatu perusahaan yang
berdekatan di daerah kami yaitu perusahaan PT. Kayu Lapis Indonesia,
disingkat dengan PT. KLI. Penghasilan masyarakat di daerah saksi
sebagian besar petambak, ada juga nelayannya. Sebelum beroperasinya
suatu perusahaan, PT. KLI daerah kami adalah daerah yang subur,
makmur. Sehingga semenjak kecil setiap tahunnya ada orang yang
melaksanakan ibadah haji, tiap tahunnya, bahkan pernah terjadi pada tahun
yang sama 40 orang satu Dukuh, 40 orang bersama-sama melaksanakan
ibadah haji itu karena makmurnya. Yang kedua, kalau membangun tempattempat
ibadah contohnya masjid, mushalla, madrasah maupun pondok
pesantren karena sebagian besar beragama Islam, tidak pernah minta
bantuan dari luar daerah. Perusahaan KLI tadi itu berkedudukan di Pantai
Moro Redjo, Dukuh Ngebun, Kelurahan Moro Redjo, Kecamatan
Kaliwungu, Kabupaten Kendal, beda kabupaten yang berdekatan dengan
daerah kami.
Dalam pembangunannya perusahaan KLI melakukan kegiatan yaitu:
1. Melakukan pembelokan Sungai Waka sampai hampir 90 derajat;
94
2. Melakukan reklamasi pantai untuk pelebaran pabrik hampir 500 meter ke
tengah laut;
3. Melakukan pengedukan pasir untuk pembuatan pabrik atau
pelebarannya atau reklamasinya itu.
• Hal tersebut dampaknya dirasakan mulai tahun 1997, mulai beroperasinya
tahun 1990, dampaknya mulai dirasakan mulai tahun 1997 yaitu satu, terjadi
abrasi yang mengakibatkan tambak-tambak banyak yang hilang maupun
yang rusak. Yang hilang menurut data ada 152,48 hektar, berdasarkan data
dikumpulkan dari masyarakat. Tambak yang rusak ringan, artinya rusak dan
bisa diperbaiki, tetapi kalau ditabur benih, kadang-kadang jebol karena
kurang besar. Ada 55 hektar koma 5, berarti 55 hektar setengah. Tambak
yang rusak berat bisa ditanami ikan tetapi pakai jaring, atau jala ada 37
hektar.
• Adanya pencemaran limbah yaitu limbah padat ataupun limbah cair maupun
limbah dari udara. Limbah padat serpihan-serpihan daripada kayu-kayu.
limbah cairnya yaitu zat kimia untuk membunuh, namanya runti di sana
supaya kayunya tidak rusak. Adanya pencemaran udara yaitu serbuk
gergaji, sehingga sangat mengganggu.
• Memang pada tahun antara 1998-1999 masyarakat bersama Lembaga
Bantuan Hukum Semarang pernah mengalami advokasi terhadap
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tentang kerusakan yang diakibatkan oleh
PT. KLI tersebut dengan tuntutan, kami menuntut satu perbaikan ekologi
atau lingkungan, yang kedua perbaikan kinerja pabrik, yang ketiga, tali asih
atau ganti rugi.
• Akhirnya terjadi perundingan yang dimediatori oleh Gubernur Jawa Tengah
waktu itu Pak Mardianto. Hasil daripada perundingan tersebut, PT. kayu
lapis hanya mau memberi tali asih sebesar 500 juta untuk 5 orang
petambak. Untuk perbaikan lingkungan dan kinerja pabriknya diabaikan
oleh mereka. Tali asih tersebut kalau dihitung-hitung tidak sebanding
dengan kerusakan-kerusakan tambak yang diderita oleh masyarakat,
karena penghasilan menjadi menurun sekali. Sebab sebelum terjadi
pencemaran hasil udang alami, artinya udang alami udang yang bibitnya
masuk dari laut secara alami tanpa ditanam tiap hari rata-rata 4 kilo per
hektar per hari, menjadi kurang daripada sekarang. Keadaan sekarang itu
95
menjadi kurang dari setengah kilo per hektar, per hari, penurunannya
sangat drastis.
• Yang kedua, untuk ditanami udang windu, sering mati karena adanya
pencemaran-pencemaran limbah. Yang ketiga, untuk ditanami bandeng
sering hilang karena tanggul tambak sering jebol karena pantainya sudah
tidak ada lagi, karena abrasi tersebut. Jadi untuk menghidupi keluarga
masyarakat di sekitar daerah saya sekarang banyak yang alih profesi. Ada
yang menjadi buruh pabrik, menjadi TKI kalau yang masih muda, yang tua
paling jadi kuli bangunan.
7. Saksi Karyono
• Menyampaikan kronologis peristiwa terjadi di Dusun Bungin, Desa Tanjung
Pakis, Kabupaten Karawang.
• Masyarakkat Desa Tanjung Pakis bekerja sebagai petani tambak dan
nelayan mencari kerang, kepiting dan rebon untuk dibuatkan terasi, untuk
hidup sehari-hari.
• Kemudian pada tahun 1995 datang perusahaan pengerukan pasir PT.
Purna Taru Murni. Secara serempak masyarakat menolak dengan
keberadaan perusahaan yang jelas-jelas ingin mengeruk pasir atau
mengambil hasil dari Desa Tanjung Pakis. Akibatnya nelayan akan
berkurang penghasilannya karena tempat mereka memanen hasil dalam
setiap bulan atau dalam kurun waktu sekian bulan dia memanen karena
lingkungan di dasar laut sudah rusak maka sudah tidak akan bisa dipanen
lagi.
• Pada tahun 2007, datang lagi perusahaan dari PT yang sama, yaitu PT.
Purna Taru Murni. Kemudian masyarakat tetap menolak dengan
keberadaan PT. Purna Taru Murni karena dari tahun 1995 ke tahun 2007
dampaknya sudah cukup lumayan dahsyat. Perumahan nelayan yang ada
di pesisir pantai Dusun Bumin habis bahkan tiga pelelangan ikan habis
terbawa oleh laut, ditambah lagi dengan tambak-tambak nelayan yang
mungkin sampai saat ini antara Karawang dan Bekasi sekitar ratusan
hektar.
8. Saksi Bona Beding
• Saksi adalah anak “Lamafa” juru tikam dan salah seorang pewaris peralatan
penangkapan ikan, perahu, dan layar, tombak, semua peralatan yang
96
digunakan untuk menangkap ikan secara tradisional di Lamandara.
Pemangku masyarakat adat di Lamandara, Pulau Lambata, Nusa Tenggara
Timur, dimandatkan untuk berbicara atas nama adat dan atas nama suku
“Lamandara,” berkaitan dengan nasib kampung halaman yang sejak
beberapa tahun terakhir diterpa oleh agenda konservasi paus yang
didalangi oleh WWF dan pembombardiran perairan “Lamandara” dengan
bom ikan atau potasium oleh rombongan besar nelayan dari daerah lain.
• Pemboman dilakukan secara brutal sejak pagi hingga tengah malam.
• Kampung ini dikenal oleh dunia sebagai kampung nelayan tradisional
dengan tradisi penangkapan paus yang menggunakan peralatan serba
tradisional. Kampung ini kira-kira dihuni oleh 3.000 jiwa, mata pencarian
semuanya nelayan. Bagi masyarakat nelayan tradisional Lamandara,
lingkungan mereka adalah laut. Laut adalah ladang tempat mereka
mempertaruhkan nasib, maka ketika isu konservasi paus yang dicanangkan
sejak tahun lalu, yang mau dideklarasikan di Manado, masyarakat nelayan
sungguh sangat gelisah. Tradisi melaut dan tradisi menangkap ikan paus
adalah bagian yang sangat integral dari tradisi dan kebudayaan masyarakat
Lamalera. Hubungan horizontal, hubungan vertikal, hubungan darah,
hubungan antara laut dan darat, semua kait-mengait. Sungguh sangat
integral. Maka, bagi masyarakat Lamalera menghilangkan tradisi dengan
segala macam cara adalah menghilangkan identitas kebudayaan orang
Lamalera.
• Bagi orang Lamalera, laut selalu identik dengan pola pikir dan kebudayaan.
Beberapa tahun terakhir, menjadi sangat gelisah karena berbagai isu
pengalihan hidup kami yang serba tradisional dialihkan dengan macammacam
cara, dialihkan ke mata pencaharian yang lain. Akan tetapi bukan
soal beralih dari tradisi penangkapan yang modern yang ada sekarang
tetapi kami justru mempertahankan tradisi, oleh karena segala macam
aspek pendidikan, moral, budi pekerti, tata nilai bahkan religiositas. Semua
ada di dalam tradisi penangkapan paus ini. Bukan semata-mata aspek
ekonomi karena semuanya harus dimulai dengan ritual adat, dari membuat
perahu, hingga mendapat ikan, semuanya dilakukan dalam ritus, tradisi dan
setelah masuknya gereja Katolik semua melebur di dalam inkulturasi gereja
Katolik. Tradisi ini berlangsung sejak belasan abad yang lalu. Sedikit
97
gambaran mengenai kelekatan adat istiadat kami di laut, terutama
berkaitan dengan penangkapan paus. Ritus mengajarkan bahwa kalau
melakukan sesuatu harus jujur, harus bijaksana. Sebagai seorang Lamafa,
ketika pada musim melaut, melautnya Lamalera berlangsung mulai tanggal
1 Mei dan berakhir hingga 31 Oktober, semua dilakukan dalam ritual adat
dan tradisi gereja Katolik.
• Mereka melakukan penangkapan sejauh yang dibutuhkan dan tidak ngoyo
kalau sudah berlayar jauh, mereka pulang. Kalau mereka tangkap ikan,
ikannya berontak, mereka lepas. mereka melakukan dengan tradisi, pamit
dia baik-baik. “Kalau hari ini kamu tidak menyerahkan diri kami pulang”.
Yang disebut oleh juru tikamnya adalah mewakili semua Matrus dalam ikan
yang kami tangkap bukan pertama-tama untuk keluarga kami tetapi untuk
janda dan fakir miskin. Hal ini sudah berlangsung berabad-abad. Hingga di
darat pembagiannya pun harus jujur. Jika ada ketimpangan, kekeliruan
sengaja atau tidak sengaja, akibat di laut akan diperoleh percaya atau tidak
percaya mungkin dianggap mistis, tetapi sungguh sangat realistis. Seorang
Lamafa untuk mempertaruhkan nyawanya, kalau dia sudah beristri maka
selama musim penangkapan tidak diperkenankan oleh dirinya sendiri dan
another untuk tidur bersama istrinya.
• Terkait dengan konservasi dan isu HP-3, di kampung konservasi tahun lalu
sudah digulirkan. Isu ini dan baru-baru ini dengan HP-3, bahkan pada
tanggal 6 Juni, minggu lalu didatangi oleh DPRD dan Pemda yang hendak
mensosialisasikan Ranperda. Bunyi persisnya sama dengan HP-3 tata
ruang wilayah dengan jarak tangkap kurang lebih 6 Km dari pesisir pantai.
Masyarakat nelayan kami sungguh sangat gelisah, sedih, kenapa
Pemerintah malah tidak melindungi tetapi membuat aturan yang macammacam
begini. Tidak mengusir para pelaku bom potasium, tetapi malah
membuat aturan yang macam-macam.
• Daerah kami adalah daerah wisata internasional, tetapi Pemerintah sangat
tidak memperhatikan. Kami melakukan konservasi dengan cara kami yang
sudah berlangsung sekian lama, berabad-abad, kami melaut juga punya
batas pergi pagi, pulang sore. Bahkan siang, kalau lautnya tidak
bersahabat kami kembali ke darat. Ini adalah gambaran nyata yang kami
hadapi pada tanggal 6 Juni dengan sikap tegas masyarakat, masyarakat
98
hukum adat Lamalera sungguh sangat keberatan dengan aturan HP-3.
Mungkin karena pengetahuannya sangat terbatas, tetapi kami sangat
terbelenggu dengan aturan yang macam-macam. Kami bahkan
menghendaki supaya tradisi ini dilestarikan, dikonservasi kebudayaan dan
bukan konservasi ikannya. Manusia lebih penting dari itu.
• Satu pesan yang kami hayati hingga hari ini terkait dengan warisan budaya.
Orang tua kami berpesan “inatao amageno olakai kodekai.” Ibunda telah
menaruh, ayahanda sudah mewariskan, teruslah mewariskan tradisi ini
sampai kapanpun. Jika HP- 3, konsep HP-3 ini dilakukan dalam bacaan
kami masyarakat nelayan tradisional Lamalera, kami merasa jika tidak hatihati
dilakukan, maka identitas kami akan hilang. Semua penjelasan tentang
tatanan adat istiadat, tradisi dan kebudayaan religiusitas yang terkandung di
dalamnya lenyap sudah.
[2.3] Menimbang bahwa Pemerintah mengajukan keterangan tertulis tanpa
tanggal, bulan April 2010 yang diterima Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 18
April 2010 sebagai berikut:
Pokok Permohonan Para Pemohon
a. Bahwa menurut Para Pemohon ketentuan Pasal 1 angka 4, angka 7, dan
angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 23 ayat (2) dan ayat (4) dapat menimbulkan
potensi tumpang tindih/kerancuan antara Hak Pengusahaan Perairan Pesisir
(HP-3) dengan pemberian hak atau perizinan oleh instansi/sektor lain,
misalnya di bidang kehutanan, pertambangan, dan pariwisata. Selain itu.
dalam praktik telah terdapat hak atas tanah sebagaimana ditentukan dalam
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria, yang dapat berupa Hak Guna Bangunan (HGB), di wilayah dermaga
dan perairan pantai, rumah nelayan dan pelatarannya, bangunan-bangunan di
perairan pesisir; Hak Guna Usaha (HGU) diberikan untuk budidaya perikanan
pantai, keramba ikan, budidaya rumput laut, budidaya mutiara. Karenanya
menurut para Pemohon adanya tumpang tindih/kerancuan antar beberapa
peraturan perundang-undangan tersebut dapat menimbulkan ketidakpastian
hukum di Indonesia, dan karenanya dianggap bertentangan dengan ketentuan
Pasal 28D ayat (1) UUD 1945.
b. Bahwa menurut para Pemohon, selain hal tersebut di atas, khususnya
99
ketentuan Pasal 1 angka 18, telah menimbulkan kerancuan tentang konsep
hubungan hukum antara orang (termasuk orang perorangan dan badan
hukum) dengan objek dikenal konsep tentang hak kebendaan (zakelijk
recht) dan hak perorangan (persoonlijk recht), karenanya dianggap tidak
sejalan dengan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945.
c. Bahwa menurut para Pemohon ketentuan Pasal 14 ayat (1) dianggap
bertentangan dengan konsep negara hukum yang mensyaratkan persamaan
dan kepastian hukum, karena dianggap memotong hak masyarakat untuk
bersama-sama dalam kedudukannya sebagai subyek hukum lainnya untuk
bersama-sama mempunyai hak mengusulkan penyusunan Rencana
Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RSWP-3-K), Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K), Rencana
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP-3-K), serta
Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RAPWP-
3-K); yang hanya melibatkan atau setidak-tidaknya lebih menonjolkan
pemerintah (daerah) dan dunia usaha saja, sehingga menutup akses
masyarakat untuk ikut serta dalam penyusunan rencana tersebut, hal ini
adalah salah satu bentuk perbuatan perbedaan perlakuan (diskriminatis
treatment), sehingga menurut para Pemohon ketentuan a quo dianggap
bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3), Pasal 28A, Pasal 28D
ayat (1), Pasal 28I ayat (2), dan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
d. Bahwa menurut para Pemohon ketentuan Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2), Pasal
18 serta Pasal 21 dianggap telah melanggar hak masyarakat adat untuk
memperoleh persamaan kedudukan di depan hukum (equality before the law)
utamanya dalam rangka mendapat perlindungan atas upaya penghidupan
yang layak, karenanya dianggap bertentangan dengan ketentuan Pasal 28A
dan Pasal 33 UUD 1945.
e. Bahwa menurut para Pemohon ketentuan Pasal 23 ayat (4), ayat (5), dan ayat
(6) telah memberikan keberpihakan yang berlebihan kepada pengusaha dalam
memberikan HP-3, dan telah mendiskriminasi secara sepihak kepada
masyarakat, karenanya ketentuan a quo dianggap bertentangan dengan Pasal
28 dan Pasal 33 UUD 1945;
f. Bahwa menurut para Pemohon ketentuan Pasal 60 ayat (1) huruf b khususnya
kata “kompensasi” dianggap lebih mengarah pada sebuah upaya/strategi
100
pengusiran secara legal terhadap masyarakat lokal agar wilayahnya bisa
dimanfaatkan untuk HP3, padahal di sisi lain masyarakat juga berhak untuk
memperoleh manfaat dan perlindungan atas sumber-sumber produktif guna
pemenuhan hajat hidupnya, karena itu ketentuan a quo dianggap bertentangan
dengan Pasal 28A dan Pasal 28G ayat (1) UUD 1945.
Tentang Kedudukan Hukum (Legal Standing) Para Pemohon
Uraian tentang Kedudukan Hukum (legal standing) para Pemohon akan dijelaskan
secara lebih rinci dalam keterangan Pemerintah secara lengkap yang akan
disampaikan pada persidangan berikutnya atau melalui kepaniteraan Mahkamah
Konstitusi. Selanjutnya, Pemerintah melalui Yang Mulia Ketua/Majelis Hakim
Konstitusi memohon kiranya para Pemohon dapat membuktikan terlebih dahulu
apakah benar sebagai pihak yang menganggap hak dan/atau kewenangan
konstitusionainya dirugikan atas berlakunya ketentuan yang dimohonkan untuk
diuji, utamanya dalam mengkonstruksikan adanya kerugian hak dan/atau
kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan atas berlakunya ketentuan yang
dimohonkan untuk diuji tersebut. Namun demikian, Pemerintah menyerahkan
sepenuhnya kepada Yang Mulia Ketua/Majelis Hakim Konstitusi untuk
mempertimbangkan dan menilainya apakah para Pemohon memiliki kedudukan
hukum (legal standing) atau tidak, sebagaimana yang ditentukan oleh Pasal 51
ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
maupun berdasarkan putusan-putusan Mahkamah Konstitusi terdahulu (vide
Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007).
Bahwa terhadap keterangan singkat (opening statement) ini, Pemerintah
hanya ingin menyampaikan landasan filosofis dan sosiologis mengapa Undang-
Undang a quo diperlukan bagi masyarakat yang berada di wilayah pesisir
(masyarakat adat, masyarakat lokal, dan masyarakat tradisional) sebagaimana
diuraikan dalam penjelasan umum Undang-Undang a quo, sebagai berikut:
1. Bahwa wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki arti strategis karena
merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut dan jembatan
antara wilayah darat dan wilayah laut, serta memiliki potensi sumber daya
alam dan jasa-jasa lingkungan yang unik dan sangat kaya. Kekayaan
sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil menimbulkan daya tarik bagi
berbagai pemangku kepentingan utama, dunia usaha, dan masyarakat
untuk memanfaatkannya, serta berbagai instansi untuk meregulasi
101
pemanfaatannya. Sumber daya pesisir ini relatif rentan, mudah mengalami
kerusakan dan perubahan akibat intervensi manusia atau bencana
dibandingkan dengan wilayah darat.
2. Bahwa fenomena degradasi biologi, geologi, dan fisik (biogeofisik) sumber
daya pesisir semakin berkembang dan meluas secara terus menerus,
sehingga menyebabkan penurunan produktivitas ekosistem pesisir dan
mengurangi daya dukung terhadap kehidupan manusia. Laju kerusakan
sumber daya pesisir telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan,
utamanya pada ekosistem mangrove, terumbu karang, dan estuari, yang
berimplikasi terhadap penurunan kualitas lingkungan pesisir dan pulaupulau
kecil. Hal tersebut antara lain disebabkan adanya interaksi antara
manusla dengan sumber daya pesisir yang tidak memperhatikan kaidahkaidah
kelestarian dan daya dukung lingkungannya.
3. Bahwa secara sosiologis, kekayaan sumber daya pesisir dikuasai oleh
Negara untuk dikelola Pemerintah sedemikian rupa, guna mewujudkan
kesejahteraan masyarakat, memberikan manfaat bagi generasi sekarang
tanpa mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang.
Kenyataannya, sebagian besar tingkat kesejahteraan masyarakat yang
bermukim di wilayah pesisir justru menempati strata ekonomi yang paling
rendah bila dibandingkan dengan masyarakat darat lainnya.
4. Bahwa paradoksi mekanisme pengelolaan wilayah pesisir yang tidak efektif
kiranya harus diakhiri. Langkah ke arah itu dimulai dengan
mengembangkan sistem pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
terpadu, yang diharapkan pemanfaatan sumber daya pesisir dapat
dilakukan secara optimal, efisien dan berkelanjutan serta memberikan
manfaat bagi masyarakat pesisir (masyarakat adat, masyarakat lokal, dan
masyarakat tradisional) dunia usaha, dan institusi Pemerintah yang
mengelolanya.
Untuk mengintegrasikan berbagai perencanaan sektoral, mengatasi tumpang
tindih pengelolaan, konflik pemanfaatan dan kewenangan, serta memberikan
kepastian hukum, maka disusun Undang-Undang tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (UU 27/2007), yang tujuannya adalah sebagai
berikut:
a. Menyiapkan peraturan setingkat Undang-Undang mengenal Pengelolaan
102
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil khususnya yang menyangkut
perencanaan, pemanfaatan, hak dan akses masyarakat, penanganan konflik,
konservasi, mitigasi bencana, reklamasi pantai, rehabilitasi kerusakan pesisir,
dan penjabaran konvensi-konvensi internasional terkait;
b. Membangun sinergi dan sating memperkuat antarlembaga Pemerintah baik di
pusat maupun di daerah yang terkait dengan pengelolaan wilayah pesisir
sehingga tercipta kerja sama antarlembaga yang harmonis dan mencegah
serta memperkecil konflik pemanfaatan dan konflik kewenangan
antarkegiatan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan
c. memberikan kepastian dan perlindungan hukum serta memperbaiki tingkat
kemakmuran masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil melalui pembentukan
peraturan yang dapat menjamin akses dan hak-hak masyarakat pesisir serta
masyarakat yang berkepentingan lain, termasuk pihak pengusaha.
Jika mencermati dengan seksama seluruh uraian permohonan para Pemohon,
maka dapat dikelompokkan/dikategorisasikan ke dalam hal-hal sebagai berikut:
1. Undang-Undang a quo dianggap selalu mengkaitkan dengan adaptasi
terhadap situasi global. Konsep ini menurut para Pemohon ditengarai lebih
menuju arah globalisasi ekonomi dan liberalisasi ekonomi;
2. Menimbulkan terjadinya privatisasi dalam ranah yang dikuasai negara dan
persoalan tata ruang;
3. Tidak memberikan perlindungan kelompok rentan di pedesaan pesisir;
4. Berkaitan dengan persoalan kemiskinan dan kedaulatan negara di pulaupulau
kecil;
5. Undang-Undang a quo dianggap tidak sinkron dengan peraturan
perundang-undangan lainnya, khususnya yang terkait dengan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil.
Terhadap anggapan para Pemohon tersebut di atas, Pemerintah dapat
menjelaskan sebagai berikut:
1. Para Pemohon telah keliru dalam memahami pengertian berwawasan global
sebagaimana ditentukan dalam pertimbangan huruf b Undang-Undang a quo
yang menyatakan: “Bahwa wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki
keragaman potensi sumber daya alam yang tinggi, dan sangat penting bagi
pengembangan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan penyangga
kedaulatan bangsa, oleh karena itu perlu dikelola secara berkelanjutan dan
103
berwawasan global, dengan memperhatikan aspirasi dan partisipasi
masyarakat, dan tata nilai bangsa yang berdasarkan norma hukum nasional”.
Menurut Pemerintah frase “berwawasan global” dimaksudkan bahwa
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia mempunyai
keterkaitan dengan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di negara-negara
lain, karena jika pemanfaatan pesisir di Indonesia tidak memperhatikan
aspek kelestarian lingkungan, akan berpengaruh pada kehidupan global,
begitupun sebaliknya.
Selain itu, dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di satu
negara termasuk Indonesia, tunduk pada berbagai konvensi International
antara lain: United Nations Convention on The Law of The Sea 1982
(UNCLOS); Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF); International
Plan of Action to Prevent, Deter and Eliminate Illegal, Unreported, and
Unregulated Fishing (IUU Fishing); Convention on Biological Diversity (CBD);
dan United Nations Framework E Convention on Climate Change (UNFCCC).
Hal demikian sangatlah perlu untuk mengantisipasi dampak kerusakan
lingkungan dan pemanasan global (global warming).
Sehingga dengan demikian wawasan global dalam Undang-Undang a quo tidak
dimaksudkan dalam rangka mengarah pada globalisasi ekonomi, liberalisasi
ekonomi, maupun privatisasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
2. Pemerintah tidak sependapat dengan anggapan para Pemohon yang
menyatakan bahwa Undang-Undang a quo dapat menciptakan privatisasi
dalam ranah yang seharusnya dikuasai oleh negara. Sesuai dengan amanat
konstitusi, pada dasarnya pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran
masyarakat. Sebagai tindak lanjutnya adalah negara dalam hal ini Pemerintah
(pusat/daerah) menguasai wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil melalui
pengalokasian ruang dalam 4 (empat) kawasan yaitu Kawasan
Pemanfaatan Umum, Kawasan Konservasi, Kawasan Strategis Nasional
Tertentu, dan Alur Laut. Sedangkan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3)
diberikan terbatas pada Kawasan Pemanfaatan Umum (kecuali pantai umum dan
kawasan pelabuhan) dan Kawasan Strategis Nasional Tertentu (vide Pasal 10,
Pasal 22 Undang-Undang a quo).
3. Bahwa anggapan para Pemohon yang menyatakan Undang-Undang a quo
104
tidak memberikan perlindungan kelompok rentan di pedesaan pesisir, menurut
Pemerintah anggapan para Pemohon tersebut tidak berdasar dan hanya
dilandasi adanya asumsi-asumsi semata, karena pada kenyataannya
Undang-Undang a quo justru memberikan perlindungan kepada masyarakat
pesisir (kelompok rentan pedesaan pesisir menurut hemat Pemerintah tidak
dikenal/tidak ada, dan bukan ranah pengaturan Undang-Undang a quo),
antara lain dalam Undang-Undang a quo diatur tentang ketentuan
pemberdayaan masyarakat, peran serta masyarakat dalam pemanfaatan
wilayah pesisir (vide Pasal 60 s.d. Pasal 63 Undang-Undang a quo).
Peran serta masyarakat tersebut antara lain diwujudkan dalam proses
penyusunan Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RSWP-3-K), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RZWP-3-K), Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RPWP-3-K), dan Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil (RAPWP-3-K). Bahkan menurut Undang-Undang a quo
masyarakat didorong untuk mengelola pesisir dengan memberikan insentif
kepada masyarakat yang mengelola dengan baik dan sebaliknya
memberikan sanksi kepada yang merusak (reward and punishment, vide
Pasal 40, Pasal 71 s.d. Pasal 76 Undang-Undang a quo).
4. Pemerintah tidak sepakat dengan anggapan para Pemohon yang menyatakan
bahwa Undang-Undang a quo dapat menimbulkan persoalan kemiskinan dan
dapat membahayakan kedaulatan negara di pulau-pulau kecil. Menurut
Pemerintah anggapan para Pemohon tersebut berlebihan dan mengada-ada,
karena persoalan kemiskinan tidak hanya terkait dan tidak hanya terjadi di
wilayah pesisir maupun di pulau-pulau kecil saja (penjelasan umum angka 3
huruf b Undang-Undang a quo).
Lebih lanjut menurut Pemerintah Undang-Undang a quo justru dimaksudkan
untuk memberdayakan masyarakat, menjaga dan memperkuat kedaulatan
negara di pulau-pulau kecil, karena setiap pemanfaatan pulau-pulau kecil
dan perairan di sekitarnya yang dilakukan oleh orang asing harus mendapat
persetujuan Menteri [vide Pasal 23 ayat (7) Undang-Undang a quo]. Dalam
hal pemanfaatan pulau-pulau kecil terluar, karena pulau-pulau kecil terluar
merupakan kawasan strategis nasional tertentu, maka salah satu aspek
penting dalam pengelolaan tersebut adalah dipergunakan untuk
105
kepentingan pertahanan dan keamanan, lingkungan hidup, dan
kesejahteraan masyarakat. Lebih dari itu, pemanfaatan pulau-pulau kecil
terluar dilakukan justru untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (vide Pasal 27 Undang-Undang a quo).
Bahwa Pemerintah tidak sependapat dengan anggapan para Pemohon yang
menyatakan Undang-Undang a quo tidak sinkron dengan peraturan
perundang-undangan Iainnya, menurut Pemerintah Undang-Undang a quo
bersifat saling melengkapi dengan Undang-Undang sektoral lainnya,
misainya yang berkaitan dengan pertambangan umum, minyak dan gas
bumi, penataan ruang, perikanan, kehutanan, pengelolaan lingkungan
hidup, pelayaran, konservasi sumber daya alam, Undang-Undang Pokok
Agraria, perairan, pariwisata, perdagangan, sumber daya air, sistem
perencanaan dan pembangunan nasional, arbitrase dan alternatif
penyelesaian sengketa. Lebih lanjut menurut Pemerintah jikalaupun
anggapan para Pemohon itu benar adanya maka ketidaksinkronan antara
Undang-Undang a quo dengan peraturan perundang-undangan Iainnya
bukan berarti Undang-Undang a quo menjadi inkonstitusional atau dengan
perkataan lain hal demikian bukanlah masalah konstitusionalitas
keberlakuan Undang-Undang a quo.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, Pemerintah memohon kepada yang Mulia
Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang memeriksa, memutus, dan
mengadili permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil terhadap UUD
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dapat memberikan putusan sebagai
berikut:
1. Menolak permohonan pengujian para Pemohon untuk seluruhnya atau
setidak-tidaknya menyatakan permohonan pengujian para Pemohon tidak
dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard);
2. Menerima Keterangan Pemerintah secara keseluruhan;
3. Menyatakan ketentuan Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18; Pasal 16
ayat (1); Pasal 23 ayat (2) dan ayat (4); Pasal 14 ayat (1); Pasal 16 ayat (1)
dan ayat (2); Pasal 20 ayat (1); Pasal 23 ayat (4), ayat (5), dan ayat (6);
Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang
106
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tidak bertentangan
dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3), Pasal 18B ayat (2), Pasal 28A, Pasal 28C
ayat (2), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2), Pasal 28G ayat
(1), Pasal 28H ayat (2) dan ayat (3), Pasal 28I ayat (2), serta Pasal 33 ayat
(1), ayat (2), dan ayat (3) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Namun demikian, apabila Yang Mulia Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi
berpendapat lain, mohon putusan yang bijaksana dan seadil-adilnya (ex aequo et
bono).
Di samping menyampaikan keterangan, Pemerintah juga mengajukan 3
(tiga) orang Ahli yakni Ir. Abdon Nababan, Ir. Dietriech G. Bengen, dan Budi
Wiryawan, serta seorang saksi bernama Much Imran Amin yang telah didengar
keterangannya pada persidangan tanggal 8 Juni 2010 sebagai berikut:
1. Ahli Ir. Abdon Nababan
• Ahli sebagai Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara
(Aman);
• Ahli banyak terlibat sebagai anggota Tim Teknis dalam penyusunan
Keputusan Menteri tentang Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil
berkelanjutan dan berbasis masyarakat itu tahun 2000-2001 di Departemen
Kelautan dan Perikanan;
• Yang mengatur keberadaan hak-hak masyarakat adat di dalam Undang-
Undang Nomor 27 Tahun 2007 adalah Pasal 61.” Jadi, Pasal 61 ayat (1)
dengan ayat (2) itu tidak ada keraguan bahwa Pemerintah mengakui,
menghormati dan melindungi hak-hak masyarakat adat, masyarakat
tradisional dan kearifan lokal atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang
telah dimanfaatkan secara turun menurun.
• Kebudayaan adalah hak yang melekat di masyarakat itu untuk
menyelenggarakan pengelolaan pesisir yang mereka turunkan dari leluhur
mereka.
• Bahwa pengakuan hak-hak masyarakat adat, masyarakat tradisional, dan
kearifan lokal, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijadikan acuan, bukan
pertimbangan. Kontruksi hukumnya pengakuan, bukan pemberian, bukan
izin.
107
• Masalah utama dalam pengelolahan pesisir laut, pulau-pulau kecil adalah
tragedy of open access. Tragedi di pesisir dan di lautan karena open acces,
yang dibiarkan menjadi rezim yang mengatur laut. Inilah yang
sesungguhnya ingin di-address oleh Undang-Undang ini. Salah satu
caranya meng-address adalah memang mengakui hak-hak masyarakat
adat, karena dengan demikian wilayah-wilayah itu menjadi jelas siapa yang
akan mempertanggungjawabkan. Ini tidak hanya soal pendekatan hak di
dalam pengelolaan wilayah tetapi juga sebenarnya untuk memastikan
bahwa Pemerintah itu punya kaki di bawah, karena kapal-kapal asing
masuk seperti di masa lalu, tidak ada yang mengawasi.
• Pengakuan hak sebenarnya terkait langsung dengan efektivitas
pengelolahan pesisir dan pulau-pulau kecil.
2. Ahli Ir. Dietriech G. Bengen,
• Arti penting dari Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 terkait dengan dua
hal. Bahwa Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 bisa dijadikan dasar
bijak bagi pengembangan potensi sumber daya pesisir pulau-pulau kecil
yang melimpah bagi sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran
rakyat, baik saat ini maupun yang akan datang. Pertama, kita tahu bahwa
Indonesia sebagai negara kepulauan, di mana dikenalnya sebagai negara
kepulauan terbesar di dunia dan sebagian besar dari pulau-pulau yang ada
itu merupakan pulau-pulau kecil dan di banyak tempat di pulau-pulau kecil,
masyarakat yang hidup di dalamnya masih jauh dari apa yang kita katakan
dengan sejahtera.
• Karena kita negara kepulauan, maka bahwa Indonesia mempunyai garis
pantai yang cukup panjang, yang sepenuhnya belum termanfaatkan secara
baik dengan potensi yang ada. Itulah sebabnya mengapa Undang-Undang
ini bisa membantu untuk memanfaatkan potensi yang ada ini lebih jauh.
• Indonesia dialiri oleh 3 ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) salah satunya,
katakanlah yang di Selat Makassar, menunjukkan di kawasan itu sangat
kaya akan sumber daya alam yang ada. Tetapi mengapa masyarakat yang
ada di sekitar situ, umumnya masih berada di bawah garis kemiskinan.
• Indonesia dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut yang terbesar
karena kita merupakan negara kepulauan yang dikelilingi oleh berbagai
ekosistem pesisir yang sangat-sangat produktif, yang ada di kawasan kita.
108
• Itulah sebabnya salah satunya yang kita kenal bahwa Indonesia berada di
jantung segitiga karang dunia yang dinisiasi oleh Indonesia dengan apa
yang kita kenal dengan CTI (Corel Triangle Inisiative).
• Kedua, mengapa Undang-Undang ini penting, hal ini bisa jadikan pilar
pembangunan wilayah pesisir pulau-pulau kecil secara terpadu dan
berkelanjutan. Dasar untuk ini kita lihat bahwa wilayah pesisir, tidak hanya
melihat perairannya saja, tetapi termasuk adalah wilayah daratannya dan di
Undang-Undang secara tegas menegakkan wilayah ini bahwa laut kita
batasi pada 12 mil. Kemudian daratnya pada kecamatan, suatu daerah
yang luar biasa interaksi antara satu dengan yang lain, sehingga kalau tidak
dikelola maka tidak akan memberikan suatu manfaat yang optimal di dalam
upaya-upaya kita memanfaatkan. Apalagi di pulau-pulau kecil.
• Pulau-pulau kecil yang boleh dikatakan sumber daya di daratannya hampir
tidak ada, air tawar tidak ada tetapi luar biasa masyarakat yang ada di
pulau-pulau ini dan sebagian besar ini hidup dari sumber daya pesisir dan
laut yang ada di sekitarnya.
• Melihat kepada wilayah pesisir mau tidak mau kalau kita ingin mendapatkan
hasil yang optimal maka kita harus lihat keterkaitan antara wilayah pesisir,
daratannya dan lautnya yang kita kenal bahwa apapun yang kita lakukan di
wilayah pesisir itu tetap harus mengacu pada daratnya dan juga mengacu
pada lautnya.
• Bahwa di wilayah pesisir pun ada keterkaitan yang sangat erat antar
berbagai ekosistem yang ada dan ini menjadi basis. Gresik terutama di
Kecamatan Ujung Pangka, di mana pengembangan industri yang demikian
pesat banyak mengganggu kepada daerah pertambakan yang ada
sehingga kita upayakan bagaimana ekosistem yang ada ini terkait satu
sama yang lain bisa memberikan manfaat yang optimal bagi semua
kepentingan yang ada. Kenyataan ini menunjukkan bahwa di wilayah pesisir
suka tidak suka, beragam aktivitas pemanfaatan yang ada di sana baik
pemanfaatan sumber daya alam maupun jasa-jasa lingkungan di wilayah
pesisir ada perumahan, ada industri. Di perairannya ada perikanan, ada
pariwisata dan sebagainya, semuanya saling terkait di dalam
pemanfaatannya. Keterkaitan antara pemanfaatan ini tidak dikelola secara
baik. Sehingga munculah berbagai macam masalah yang ada.
109
• Berbagai permasalahan yang ada di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,
semua kita lihat bahwa terjadi degradasi ekosistem dan sumber daya alam
di banyak tempat. Kita lihat terjadi konfik di dalam pemanfaatan ruang yang
ada, baik itu aparat pertambangan dengan pariwisata, pertambangan
dengan perikanan dan sebagainya.
• Kemudian masalah yang muncul karena adanya sifat common property dan
rezim open access dari wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil itu. Sehingga
tidak memungkinkan kita misalnya di situ mengkapling yang namanya
wilayah pesisir atau laut yang ada. Dan masalah yang ada sampai saat ini
juga kebijakan yang ada itu masih bersifat sektoral, kurangnya
keperpaduan antara para pemangku kepentingan ini menimbulkan banyak
sekali ketidakefektifan dalam upaya pemanfaatan wilayah pesisir.
• Untuk mereduksi masalah-masalah ini mengoptimalkan sumber daya yang
ada maka perlu adanya suatu pengelolaan. Bahwa pengelolaan wilayah
pesisir itu harus terkait dengan karakteristik wilayah pesisir sehingga ada 4
hal yang harus menjadi basis kita di dalam pengelolaan. Bahwa wilayahwilayah
pesisir memiliki keterkaitan fungsional yang erat antara daratan dan
lautnya, kemudian pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut yang
beragam dapat menimbulkan berbagai macam konflik yang terjadi, suka
tidak suka wilayah pesisir dihuni oleh bebagai kelompok masyarakat
dengan preferensi yang berbeda. Nelayan mempunyai preferensi yang
berbeda juga dengan pembudidaya dalam banyak hal, dapat terjadi konflik,
kemudian adanya sifat common property dan rezim open access dari
sumber daya pesisir dan laut.
• Untuk melakukan pengelolaan ini telah diupayakan di dalam Undang-
Undang ini bagaimana pengelolaan menjadi penting pada KUHAP Pasal 4,
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 menyebutkan bahwa pengelolaan
wilayah pesisir pulau-pulau kecil bertujuan adalah untuk melindungi,
mengonversi, merehabilitasi memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulaupulau
kecil secara berkelanjutan. Kemudian adanya harmonisasi dan sinergi
dalam pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil, bahwa banyak sekali
pemanfaatan yang ada disharmoni. Undang-Undang ini mencoba untuk
mengharmonisasi, berbagai pemanfaatan yang ada. Kemudian menguatkan
peran serta masyarakat dan lembaga Pemerintah dalam pengelolaan
110
pesisir dan pulau-pulau kecil. Peran serta masyarakat, sudah banyak
disebutkan sangat-sangat nyata di dalam Undang-Undang.
• Kemudian untuk meningkatkan nilai sosial, ekonomi dan budaya dalam
pemanfaatan pesisir dan pulau-pulau kecil. Untuk melaksanakan
pengelolaan pesisir di dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tercakup dalam 4 bagian penting yaitu, perencanaan, pemanfaatan,
pengawasan dan pengendalian. Di dalam perencanaan menjadi bagian
yang sangat penting sebelum melakukan pemanfaatan yaitu adanya
rencana strategis yang harus disusun, kemudian rencana zonasi, rencana
pengelolaan dan rencana aksi. Dalam proses pengelolaan harus mencakup
rencana pemanfaatan pengawasan pengendalian dan dalam perencanaan.
Secara hierarki di sini kita lihat ada rencana pengelolaan yang paling bawah
kemudian harus ada rencana zonasi harus ada rencana strategis, rencana
pengelolaan dan rencana aksi. Masing-masing sangat terkait dengan apa
yang tadi sudah disebutkan harus mempertimbangkan sumber daya yang
ada, harus mempertimbangkan masyarakat yang ada di sini terkait aspek
sumber daya sosial, ekonomi dan budaya.
• Kemudian di dalam pemanfaatan, bahwa di dalam hak pengusaha perairan
ini bahwa pemanfaatan perairan pesisir diberikan dalam bentuk HP-3, tetapi
yang perlu ditekankan bahwa pengusahaan perairan hanya mencakup
wilayah permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar
laut, hal ini berbeda sekali dengan yang ada di daratan. Karena secara
fungsional kalau kita bilang perairan itu terkait satu dengan yang lain karena
rezim yang open access dan sumber daya yang sifatnya milik bersama
maka kalau tidak dikelola, dengan memberikan katakanlah di sini
kesempatan untuk adanya pengusahaan pada perairan maka di sini tidak
akan bisa juga optimal, kalau terjadi sesuatu pada wilayah tersebut tidak
juga ada yang merasa bertanggung jawab untuk itu.
• Pemberian HP-3 sebagai yang dimaksud pada ayat (1) wajib
mempertimbangkan kepentingan kelestarian ekosistem, pulau-pulau kecil
masyarakat adat dan kepentingan nasional serta hak lintas damai bagi
kapal asing. Bahwa hak pengusahaan perairan tidak bisa dengan tiba-tiba
diberikan tetapi harus ada perencanaan sebelumnya, tidak mungkin
diberikan kalau belum ada rencana Jonasi yang ada di sana. Sehingga di
111
dalam proses perencanaan, semua aspek harus dipertimbangkan sebelum
diberikan hak untuk pengusahaan perairan. Dalam pemanfaatan terkait
dengan HP-3 terkait dengan perencanaan yang ada di dalamnya, kemudian
ada masalah konservasi, harus ada pengawasan dan pengendalian.
• Ada program akreditasi yang ditemukan bahwa ada 11 asas yang masuk di
dalam pertimbangan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, bahwa untuk
mencapai suatu pengelolaan yang terpadu dan berkelanjutan dengan
mempertimbangkan berbagai aspek, maka dalam Undang-Undang Nomor
27 Tahun 2007 ada 3 komponen yang ditonjolkan, di mana masing-masing
mempunyai kepentingan yang sama.
• Pertama, bahwa dalam melaksanakan pengelolaan wilayah pesisir pulaupulau
kecil harus ada pola berhasil, ada kerja sama antara lembaga
penelitian, perguruan tinggi, swasta, dan NGO harus ada juga koordinasi
baik secara horizontal maupun secara vertikal dan yang paling penting dan
banyak dilakukan sekarang yaitu konsultasi. Selama ini kita konsultasi
hanya pada satu pihak saja tetapi dalam Undang-Undang dicakup bahwa
konsultasi harus dilakukan terhadap pakar, terhadap publik dan suka tidak
suka juga terhadap legislatif karena mereka juga yang ikut berperan di
dalam penggelolaan. Banyak contoh di dalam penerapan 3K, contohnya
adalah pada waktu menerapkan pengelolaan Teluk Balikpapan yang ada di
Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Dengan pendekatan mekanisme
pengelolaan pesisir terpadu dan pulau-pulau kecil terpadu maka target
daripada Undang-Undang bisa kita capai ke depan.
• Bahwa targetnya ada peningkatan dalam pemberataan ekonomi yang
selama ini tidak banyak dirasakan oleh masyarakat pesisir, terutama juga
mereka yang mempunyai keterlibatan langsung dengan wilayah atau
sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil.
• Kemudian, adanya peningkatan kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat sangat ditekankan di dalam Undang-Undang yang ada,
kemudian yang paling penting juga bahwa keberlanjutan pemanfaatan
sumber daya alam dan lingkungan di pesisir pulau-pulau kecil bisa kita
jamin. Dengan adanya pengelolaan pulau-pulau kecil termasuk pulau-pulau
kecil keluar maka kita harapkan bahwa Undang-Undang Nomor 27 Tahun
112
2007 dapat menyakinkan terjaganya intergritas Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
3. Ahli Budi Wiryawan
• Wilayah pesisir dan laut merupakan wilayah yang rawan terhadap
kemungkinan pemanfaatan, pengeksploitasian yang berlebihan karena
adanya anggapan bahwa wilayah tersebut adalah milik bersama dan bebas
dimanfaatkan oleh semua pihak. Telah banyak contoh-contoh yang
menunjukkan adanya kerusakan dan kehancuran lingkungan yang
disebabkan aktivitas manusia yang tidak terkontrol terhadap lingkungan
pesisir akibat anggapan tersebut.
• Bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah dengan berbagai aktivitas yang
saling bertentangan, bersaing, memperebutkan sumber daya yang terbatas
atau dikenal dengan konflik manfaat dan konflik kewenangan di wilayah
pesisir. Seringkali manfaat dan keuntungan dari berbagai aktivitas tersebut
hanya di manfaatkan oleh sekelompok stakeholder yang eksklusif dalam
jumlah yang sangat kecil saja, sedangkan biaya dampak lingkungan harus
dikeluarkan dan terpaksa ditanggung oleh sebagian masyarakat dan
lingkungan setempat.
• Urgensi dari berbagai macam program pengelolaan biaya yang laut yang
dikembangkan di dunia, khususnya di Indonesia. Pada intinya adalah untuk
menjawab dua hal yang mendasar. Yaitu pertama, kebutuhan untuk
menjaga mempertahankan sumber daya yang terancam seperti dekralasi
lingkungan dan sumber daya alam yang penurunan jasa-jasa lingkungan
seperti nilai estetika pesisir serta komponen-komponen alamiah dari
perairan pesisir geo fisik Pantai, daerah ekstoria, pulau-pulau penghalang
termasuk ekosistemnya. Yang kedua adalah kebutuhan untuk mengelola
pemanfaatan sumber daya pesisir secara rasional mencari solusi atas
konflik manfaatan dan konflik kewenangan selaras tujuan dan
pembangunan berkelanjutan yaitu mencapai keseimbangan rasional antara
pembangunan ekonomi, pelestarian sumber daya dan kesetaraan sosial.
• Sistim pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil adalah pengelolaan yang
konprehensif dengan komponen yang saling berkaitan. Oleh karena itu,
untuk pengelolaannya memerlukan tiga pendekaan. Yang pertama,
pengetahuan yang mendalam dan menyeluruh mengenai sumber daya
113
alam yang unik di kawasan pesisir, optimalisasi pemanfaatan ekosistem di
pulau-pulau kecil serta seluruh sumber daya alam di dalamnya dengan
mengintergrasikan segenap informasi ekologis, ekonomi, dan sosial.
Keterpaduan pendekatan antara disiplin, ilmu, dan koordinasi antara
sektoral dalam mengatasi permasalah dalam wilayah pesisir dan pulaupulau
kecil yang kompleks.
• Melalui pendekatan ini diharapkan dan dapat memberikan hasil yang di
harapkan yaitu terpeliharanya kualitas lingkungan pesisir dan pulau-pulau
kecil, membaiknya kondisi sosial, ekonomi, budaya masyarakat pesisir
sebagai pengguna sumber daya dan sasaran lingkungan diambil dari Dara
Jati dari Bappenas.
• Dirumuskan oleh Sekjen Sentenknek Ahli Pesisir Tahun 1998 bahwa
dimensi keterpaduan dalam pengelolaan pesisir meliputi lima aspek, yaitu
pertama, sektoral, yang kedua adalah keterpaduan wilayah ekologis, yang
ketiga adalah keterpaduan stakeholder tingkat pemerintahan, yang
keempat, keterpaduan berbagai disiplin ilmu dan yang kelima, keterpaduan
antar negara.
• Implementasi pengolahan pesisir dan laut secara terpadu di dunia baru di
mulai pada tahun 1970-an, di mana konsep pengelolahan telah
menekankan pada intergrasi dan koordinasi dan partisipasi pada
masyarakat. Misalnya, costum management X, yang diterbitkan pada tahun
1972 oleh Pemerintah Federal Amerika Serikat. Sementara perhatian
pengolahan pemerintahan pesisir laut di Indonesia mulai secara intensif
pada tahun 1990-an dengan munculnya berbagai kegiatan berbasis pesisir
yang dibiayai oleh berbagai lembaga donor yang bekerja sama dengan
Pemerintah Indonesia.
• Bab II, tentang Perkembangan Pengelolaan Pesisir di Dunia. Berdasarkan
pendekatan perencanaan pengolahan, konsep pengelolaan pesisir dan laut
dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu konsep pengelolaan secara sektoral
dan konsep pengelolaan secara terpadu atau in credit costum management,
pengelolaan wilayah pesisir secara sektoral pada dasarnya berkaitan hanya
satu sumber daya atau ekosistem untuk memenuhi tujuan sektoral tertentu,
seperti perikanan, pariwisata, perindustri, dan sebagainya. Adapun pada
pengelolaan semacam ini aspek cross sectoral dan cross regional (suara
114
tidak jelas) seringkali diabaikan, akibatnya model pengelolaan seringkali
menimbulkan berbagai dampak yang merusak lingkungan dan mematikan
sektoral lain.
• Kemudian, hadir pengelolaan wilayah pesisir terpadu sebagai satu
pendekatan yang baru yang melalui penilainan yang secara menyeluruh
merencanakan tujuan dan sasaran dan kemudian merencanakan serta
mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya, guna mencapai
pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Perencanaan dan
pengelolaan tersebut dilakukan secara continue dan dinamis dengan
mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, budaya, dan aspirasi
masyarakat sebagai stakeholder, serta daya dukung lingkungan pesisir dan
konflik kepentingan dan pemanfaatan yang mungkin ada, sehingga keluhan
atau sudah menjurus kepada konflik termajinalisasinya sebagian pengguna
sumber daya seperti tambak yang digusur oleh industri dan nelayan yang
digusur oleh kegiatan yang lain dapat dihindari.
• Konsep-konsep pengelolaan pesisir seperti yang diuraikan di atas tersebut
sebenarnya sudah lama dikemukakan oleh Velingga dan Riorden tahun
1993 yang secara dinamis mengalami perubahan-perubahan evolusinya.
Kalau kita lihat bahwa perkembangan ilmu pengelolaan pesisir, kita bisa
buka kembali proceding congress nasional atas pengelolaan pesisir tahun
2000 sampai pada makalah yang akan diseminarkan pada Kongres
Nasional Pesisir ketujuh di Ambon pada bulan Agustus 2010 yang akan
datang, terlihat bahwa ada jelas perbedaan penekanan sesuai dengan
evolusi penggunaan pesisir tersebut.
• Gambaran yang jelas perkembangan pengelolaan pesisir di dunia akan
dijadikan beberapa contoh pengalaman pengelolaan pesisir yang dianggap
sukses di dunia. Jadi yaitu di Amerika Serikat dengan program Sikren dan
implementasi costum management X, di sebagian besar negara bagian, Uni
Eropa dengan peraturan yang sama dengan kualitas lingkungan pesisir
antar negara, Australia dengan Ocean Policy dan pengelolaan taman
nasional dengan sistem Jonasi yang melibatkan berbagai macam
stakeholder pada pengembangan Taman Nasional Creed borowrif, Teluk
Siamen di RRC dengan perencanaan Jonasi dan implementasinya dan
115
yang semuanya banyak dijadikan contoh praktik baik atau best practice
untuk pengelolaan wilayah pesisir di dunia.
• Meskipun Indonesia memiliki pesisir laut yang cukup luas, namun perhatian
Pemerintah terhadap wilayah pesisir baru berkembang tahun 1988, yaitu
semanjak diselesaikannya studi yang berjudul Indonesia enviromental a
summary of policy strategic action and issue kerja sama Bappenas dengan
SIDA. Sejak itu sektor kelautan mulai mendapat perhatian yang serius dari
Pemerintah dan masyarakat Indonesia serta masyarakat internasional.
Bahkan tahun 1993 sektor ini menjadi sektor tersendiri dari dalam GBHN.
• Lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah yang waktu itu juga mewarnai perubahan kebijakan sumber daya
pengelolaan pesisir dan laut kemudian Undang-Undang tersebut diganti
dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. Semangat otonomi yang
dikandung dalam Undang-Undang tersebut melalui desentralisasi hubungan
pengelolaan wilayah pesisir, pada Pasal 18 Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 provinsi dan kabupaten memiliki otonomi dalam pengelolaan
wilayah pesisir sejauh 12 mil dan sepertiganya merupakan kewenangan
kabupaten dan kota dan sebagainya, diuraikan dalam Pasal 18 ayat (3).
• Implementasinya dari Undang-Undang tersebut, Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2004 terhadap pengelolaan sumber daya pesisir secara
berkelanjutan dan dapat bersifat sinergis, namun dapat pula bersifat
sebaliknya. Implikasi akan bersifat sinergis apabila Pemerintah dan
masyarakat wilayah otonomi menyadari arti penting dari pengelolaan
sumber daya pesisir secara berkelanjutan. Sehingga pemanfaatan sumber
daya alam pesisir tersebut dilakukan secara bijaksana dengan menerapkan
kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan.
• Implikasi negatif akan muncul apabila daerah berlomba-lomba
mengeksploitasi sumber daya tanpa memperhatikan kaidah pembangunan
berkelanjutan. Oleh karena itu perlu adanya Undang-Undang yang
mengatur tentang pengolaan wilayah pesisir Republik Indonesia untuk
mengelola sumber daya alam dan jasa lingkungan di wilayah pesisir.
• Secara kelembagaan, terbentuknya Departemen Eksplorasi Laut
memberikan tonggak sejarah bagi pengelolaan sumber daya pesisir.
116
• Perkembangan terakhir dari kebijakan pengelolaan wilayah pesisir adalah
upaya penyusunan Undang-Undang wilayah pesisir pada waktu itu tahun
2001, DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan) menyusun naskah
akademik perancangan Undang-Undang Pengelolaan Pesisir. Beberapa
proses dilalui seperti konsultasi publik.
• Proyek-proyek pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia, ada berbagai
macam proyek pengelolaan pesisir di Indonesia, mungkin saya bacakan
judulnya saja proyek yang disebut Marrien resources evolution and planning
project tahun 1993-1994, implementasinya meliputi 42 kabupaten dan 10
provinsi, kemudian Corarie Rehabilitation and Management Project atau
Kormap, dengan waktu 15 tahun terbagi dalam 3 tahap pelaksanaan yang
saat sekarang masih berjalan untuk pengelolaan sumber daya terumbu
karang.
• Kemudian Coster Resources Managemant Project atau kita kenal dengan
proyek pesisir dan lanjutannya dengan yang disebut dengan mitra pesisir
berlangsung 7 tahun, tahun 1996-2003. Ini merupakan proyek hibah dari
USID dan kerja sama Pemerintah RI dan Bappenas melewati Dirjen
Bangda, Depdagri. Ini memberikan gambaran bagi kita bahwa pendekatan
dengan dua arah atau two track approuch menjadi sangat penting, artinya
bagi pengembangan kebijakan di bidang pengelolaan pesisir. Juga
beberapa hasil-hasil seperti pengembangan konferensi nasional yang masih
berlanjut sampai saat sekarang, pembelajaran tentang pengolahan sumber
daya pesisir di lokasi-lokasi percontohan masih bisa kita lihat. Kemudian
program Marrien and Coster Reource Managemant Project, ini merupakan
program perencanaan lanjutan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan
pada tahun 2002-2007 merupakan program pengelolaan yang dibantu oleh
Asian Development Bank, yang membuahkan hasil perencanaan hierarki
dari mulai perencanaan strategis zonasi, perencanaan pengelolaan,
perencanaan aksi di 15 provinsi dan 40 kabupaten/kota di Indonesia yang
salah satu prinsipnya dan metodenya sudah disampaikan oleh Ahli
Pemerintah.
• Kata kunci dari kebijakan review terhadap Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 yaitu pengelolaan, bagaimana mengelola wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil. Pengelolaan dilakukan dengan berasal pada
117
berkelanjutan, konsistensi, keterpaduan, kepastian hukum, kemitraan,
pemerataan, prasta masyarakat, keterbukaan, desentralisasi, akuntanbilitas
dan keadilan. Adapun ruang lingkup pengaturan wilayah pesisiran dan
pulau-pulau kecil meliputi daerah ekosistem yang telah diatur dalam
pasalnya salah satunya Pasal 2 dan Pasal 3.
• Belajar dari pengalaman negara lain dalam pengelolaan pesisir dan laut,
hal-hal yang perlu diatur dalam mekanisme hubungan Pemerintah Pusat
dan Daerah adalah mekanisme penyediaan bantuan teknis dan dana ke
daerah dalam pengelolaan pesisir. Kriteria pemberian bantuan kepada
Pemerintah Daerah insentif dan disinsentif, komitmen kedua belah pihak
untuk mengelola sumber daya pesisir secara berkelanjutan.
• Dalam era desensentralisasi pengelolaan sumber daya pesisir dan laut
perlu aturan dan tata cara untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul
antara daerah seperti penanganan limbah, pencemaran laut, sumber daya
lintas wilayah seperti perikanan dan pengusahaan perayaan pesisir.
Pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara berkelanjutan memerlukan
perencanaan yang matang, partisipatif, berbasis ilmiah karena diperlukan
berbagai kebijakan dan strategi pengelolaan pesisir yang baik di pusat
maupun di daerah.
• Implementasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 dapat berkelanjutan
apabila memenuhi beberapa parameter seperti sesuai dengan kebijakankebijakan
setempat baik kebijakan formal maupun informal. Yang kedua,
sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Yang ketiga,
didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia dan kelembagaan,
keterlibatan aktivitas dari stakeholder, memiliki rencana dan program yang
jelas dan memiliki dampak terhadap lingkungan termasuk budaya, sosial,
ekonomi, masyarakat setempat.
• Oleh karena itu apabila parameter tersebut belum terpenuhi, maka salah
satu komponen kegiatan proyek untuk mengimplementasikan Undang-
Undang Nomor 27 Tahun 2007 harus memasukkan parameter tersebut
untuk disiapkan. Seperti pengembangan sumber daya manusia dan
kelembagaan, misalnya agar implementasi Undang-Undang Nomor 27
Tahun 2007 tersebut berdampak luas dan sejalan dengan tujuan
pengelolaan sumber daya pesisir maka perlu didesain bagaimana
118
mereplikasi proyek-proyek percontohan untuk Indonesia sebagai
implementasi dari Undang-Undang tersebut. Oleh karena itu sejak awal
perlu dirancang kelengkapan data informasi dokumentasi proses, evaluasi,
relevansi projek dengan kondisi suatu wilayah, evaluasi dampak proyek
terhadap lingkungan dan masyarakat, keterlibatan stakeholder komunitas
dalam perencanaan dan strategi penyebarluaskan informasi tentang
pengelolaan wilayah pesisir terpadu.
4. Saksi Much Imran Amin
• Saksi adalah pelaku pada saat Undang-Undang ini pertama kali diusulkan.
Saksi bekerja sebagai pendamping masyarakat dari sebuah lembaga
swadaya masyarakat yang bernama Telapak Indonesia dan juga menjadi
dinamisator Jaring Pela, sebuah jaringan pesisir dan laut untuk beberapa
LSM yang terlibat dalam isu-isu pesisir laut di Indonesia.
• Pertama, Dalam pengelolaan wilayah pesisir yang berbasis masyarakat,
Saksi mengembangkan program khususnya dalam konteks pengelolaan
wilayah pesisir, baik yang dilakukan oleh instansi-instansi Pemerintah
sendiri maupun instansi-instansi swasta yang banyak bekerja atau
melakukan eksplorasi eksploitasi di wilayah pesisir dan laut.
• Yang kedua, dengan adanya tumpang tindih, pada periode-periode
sebelum terbentuknya pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden
Abudurrahman Wahid, saat itu masih banyak terjadi konflik-konflik, baik
antar sektor maupun konflik-konflik dari komunitas dengan komunitas
selaku stakeholder utama di lapangan dengan para pengusaha ataupun
konflik-konflik kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah terhadap
kepentingan masyarakat.
• Dalam kasus lain, di Pulau Serangan Bali, di mana pada tahun 1990 akhir
terjadi reklamasi besar-besaran, salah satu indikasi yang diangkat, di mana
hampir 100% luas pulau yang ada telah bertambah. Salah satu contoh
kasus dimana kuatnya kepentingan modal dalam melakukan penetrasi
dalam wilayah-wilayah kehidupan masyarakat langsung, khususnya
wilayah-wilayah kehidupan masyarakat nelayan dan pesisir. Contoh ini
banyak terjadi juga di beberapa daerah lain.
• Sama seperti kasus yang disebutkan oleh saksi dari Pemohon, Pak
Masnun, hal itu juga banyak terjadi di daerah lain, diakibatkan oleh konflik
119
kepentingan dan tidak adanya peraturan perundang-undangan yang
mengatur masalah pengelola pesisir. Sehingga setiap sektor yang bermain
di sektor, di wilayah pesisir dan laut menggunakan dan me-refer kepada
Undang-Undang sektoral masing-masing. Berangkat dari permasalahan dan
kasus-kasus ini, selaku praktisi yang bekerja di lapangan, mencoba,
melihat peluang-peluang yang ada. Kebetulan di awal tahun 1990-an,
almarhum Presiden Abdurrahman Wahid membentuk sebuah Kementerian
Perikanan yang saat itu masih bernama Departemen Eksplorasi Laut,
adalah sebuah peluang, bagaimana wilayah pesisir dan laut dapat dikelola
melalui satu pintu, artinya ada koordinasi, sehingga tumpang tindih antara
sektor di pemerintahan sendiri yang bekerja di isu pesisir dan laut, dapat
diminimalisir.
• Dalam proses pembuatannya, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007,
yang saat itu belum keluar, dari pihak civil society juga memfasilitasi
beberapa pertemuan, baik konsultasi publik terbatas maupun diskusi-diskusi
fokus terhadap kelompok-kelompok dampingan kami maupun teman-teman
sejawat yang bekerja di isu-isu perikanan kelautan maupun di isu-isu
nelayan dan masyarakat adat. Terhitung ada tiga kali konsultasi publik
terbatas, di mana pada saat itu mengundang beberapa pihak, yang juga
disaksikan oleh Pemerintah dengan harapan kasus-kasus di lapangan dan
Isu-isu permasalahan yang terjadi, bisa diakomodir dan bisa dicarikan
peluang penyelesaiannya dan pengaturannya di dalam Undang-Undang
Wilayah Pesisir. Karena selama sebelum Undang-Undang ini lahir, konflik
itu tidak akan pernah selesai dan harapannya adalah Undang-Undang yang
diupayakan saat ini dapat menyelesaikan dan meminimalisir segala
permasalahan yang terjadi di tingkat masyarakat.
• Pada saat konsultasi publik, banyak pihak yang menentang Undang-
Undang khususnya dari sektor-sektor terkait, karena banyak yang melihat
dengan lahirnya Undang-Undang ini maka Kementerian mengambil
sebagian wewenang dari Kementerian sektor terkait. Salah satunya adalah
Departemen Pertambangan adalah salah satu pihak yang sangat-sangat
menolak adanya Undang-Undang ini. Artinya, bahwa penolakan itu bagian
dari dukungan terhadap status quo dimana masih ingin menetapkan
pengelolaan wilayah pesisir tidak boleh berada di satu pintu.
120
• Terkait degan Pasal HP3, esensi dari HP3 adalah terlepas dari nama dari
HP3. Selama ini orang melakukan eksploitasi pesisir dan pulau-pulau kecil
dilakukan dengan seenaknya. Sebelum Undang-Undang Nomor 27 Tahun
2007 lahir, tanpa ada tanggung jawab terhadap lingkungan, apalagi dengan
masyarakat lokal. Contoh kasus kegiatan eksploitasi terumbu karang untuk
tujuan perdagangan jarang sekali perusahaan diberi tanggung jawab
setelah mereka mengambil karang di suatu wilayah, untuk melakukan
rehabilitasi dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat lokal. Karena
tidak ada aturan buat pengusaha untuk melakukan hal tersebut, agar para
pengusaha tidak seenaknya melakukan dan membuka atau melakukan
eksploitasi terhadap sumber daya alam pesisir, sehingga wilayah pesisir
yang ada dapat dipertanggungjawabkan. Esensi HP-3 adalah sebagai alat
agar masyarakat bisa memanfaatkan mekanisme atau alat ini sebagai
penyaring, pelindung bagi masyarakat lokal agar segala sesuatu yang
berasal dari pihak luar masyarakat, misalnya pengusaha atau ada programprogram
pembangunan dari Pemerintah, atau dengan alat ini masyarakat
bisa menolak. Dengan alat ini masyarakat punya hak, punya wewenang
untuk mengatakan tidak terhadap pembangunan itu atau terhadap usahausaha
yang masuk.
• Selama ini tidak pernah ada yang bisa dilakukan, masih untuk wilayahwilayah
yang punya hukum adat, karena mereka masih bisa menggunakan
hukum adat untuk melakukan penolakan. Bagaimana dengan wilayahwilayah
atau masyarakat yang tidak sama sekali tidak punya instrumen
yang bisa dipakai. Di Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, disebutkan
sebagai HP-3 esensinya adalah melakukan penyaringan, yang bisa dipakai
oleh masyarakat untuk menjadi alat untuk menolak atau pun mengatakan ya
terhadap sebuah program pembangunan atau program eksploitasi yang ada
di daerahnya. Masalah implementasinya perlu diturunkan dalam peraturan
yang lebih rinci, sehingga hak-hak yang sudah melekat kepada masyarakat
bisa dikuatkan lagi, tidak perlu ada tumpang tindih di dalamnya.
• Dalam kasus penggusuran nelayan di Pulau Serangan, seharusnya
penggusuran sudah sukses besar sampai saat ini, setelah terjadi reklamasi
Undang-Undang ini keluar, undang-undang dipakai menjadi bargaining
kepada pihak investor di sana dan saat ini proses penggusuran terhenti. Ini
121
salah satu bukti bahwa dengan adanya Undang-Undang ini, kita jadikan
alat untuk memperkuat posisi masyarakat bahwa masyarakat, sebagai
stakeholder yang utama yang perlu dipertimbangkan dan perlu di akomodir
kepentingannya.
[2.4] Menimbang bahwa Dewan Perwakilan Rakyat mengajukan keterangan
tertulis tanpa tanggal, bulan April 2010 yang diterima Kepaniteraan Mahkamah
pada tanggal 16 April 2010 sebagai berikut:
A. Ketentuan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang dimohonkan
Pengujian Materiil terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.
Para Pemohon dalam permohonan a quo mengajukan permohonan
pengujian atas Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 14 ayat (1),
Pasal 16 ayat (1) dan (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (2), ayat (4), ayat
(5), dan ayat (6), serta Pasal 60 ayat (1) UU Wilayah Pesisir terhadap UUD
1945 yang berbunyi sebagai berikut:
Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18:
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil adalah suatu proses
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil antarsektor, antara Pemerintah dan
Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta antara ilmu
pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
4. Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah sumber daya hayati,
sumber daya nonhayati, sumber daya buatan, dan jasa-jasa lingkungan;
sumber daya hayati meliputi ikan, terumbu karang, padang lamun,
mangrove, dan biota laut lainnya; sumber daya nonhayati meliputi pasir, air
laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut yang
terkait dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa lingkungan berupa
keindahan alam, permukaan, dasar laut tempat instalasi bawah air yang
122
terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi gelombang yang
terdapat di wilayah pesisir.
7. Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi
perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan
yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan
dangkal, rawa payau, dan laguna.
18. Hak pengusahaan perairan pesisir, selanjutnya disebut HP-3 adalah hak
atas bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk usaha kelautan dan
perikanan, serta usaha lain yang terkait dengan pemanfaatan Sumber Daya
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang mencakup atas permukaan laut dan
kolom air sampai dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan
tertentu.
Pasal 14 ayat (1) :(1) Usulan penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K,
dan RAPWP-3-K dilakukan oleh Pemerintah Daerah serta dunia usaha.
Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2):
(1) Pemanfaatan perairan pesisir diberikan dalam bentuk HP-3.
(2) HP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pengusahaan atas
permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan dasar laut”
Pasal 20 ayat (1) :(1) HP-3 dapat beralih, dialihkan, dan dijadikan jaminan
utang dengan dibebankan hak tanggungan.
Pasal 23 ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6):
(2) Pemanfaatan pulau-pulau kecil dan perairan di sekitarnya diprioritaskan
untuk salah satu atau lebih kepentingan konservasi; pendidikan dan
pelatihan; penelitian dan pengembangan; budi daya laut; pariwisata; usaha
perikanan dan kelautan dan industri perikanan secara lestari; pertanian
organik; dan/atau peternakan.
(4)Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dan memenuhi persyaratan pada ayat (3) wajib
mempunyai HP-3 yang diterbitkan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah
sesuai dengan kewenangannya.
(5) Untuk pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil dan perairan di sekitarnya yang telah
digunakan untuk kepentingan kehidupan Masyarakat, Pemerintah atau
Pemerintah Daerah menerbitkan HP-3 setelah melakukan musyawarah
dengan Masyarakat yang bersangkutan.
123
(6)Bupati/walikota memfasilitasi mekanisme musyawarah sebagaimana
dimaksud pada ayat (5).
Pasal 60 ayat (1) huruf b:
(1) Dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Masyarakat
mempunyai hak untuk:
b. memperoleh kompensasi karena hilangnya akses terhadap Sumber
Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang menjadi lapangan kerja untuk
memenuhi kebutuhan akibat pemberian HP-3 sesuai dengan peraturan
perundang-undangan;
B. Hak dan/atau Kewenangan Konstitusional Yang Dianggap Para Pemohon
Dirugikan Oleh Berlakunya Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
Dalam permohonan a quo dikemukakan, bahwa dengan berlakunya
Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 14 ayat (1), Pasal 16 ayat (1)
dan (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6),
serta Pasal 60 ayat (1) huruf b UU 27/2007, menurut para Pemohon hak
konstitusionalnya dirugikan dengan alasan sebagai berikut:
1. Bahwa menurut para Pemohon pengaturan Hak Pengusahaan Perairan
Pesisir (HP-3) yang terdapat dalam Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka
18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 23 ayat (2) dan ayat (4), jika dicermati terdapat
kerancuan atau tumpang tindih antara HP-3 tersebut dengan objek perijinan
di bidang kehutanan, pertambangan, dan pariwisata, di antaranya yaitu:
a. antara HP-3 dengan perijinan bidang kehutanan yaitu tentang
pemanfaatan hutan mangrove, fauna/flora yang terdapat dikawasan
perairan pantai, dan menggunakan jasa lingkungan di kawasan hutan
mangrove tersebut;
b. antara HP-3 dengan perijinan bidang pertambangan yaitu pemanfaatan
pasir sebagai sumber daya di kawasan pantai dan mineral dalam laut;
c. antara HP-3 dengan perijinan bidang pariwisata yaitu pengembangan
wisata pantai;
Karena itu para Pemohon beranggapan adanya tumpang tindih dan
benturan peraturan tersebut, pada akhirnya mereduksi bahkan
menghilangkan jaminan, perlindungan dan kepastian hukum bagi warga
negara, masyarakat, utamanya nelayan dan warga pesisir.
124
2. Bahwa para Pemohon mengemukakan dalam permohonan a quo konsep
HP-3 sebagaimana dimaksud pada Pasal 1 angka 18 UU Pengelolaan
Wilayah Pesisir tidak sejalan dengan pengertian Pasal 33 ayat (2) dan ayat
(3) UUD 1945, mengingat penyebutan HP-3 sebagai “Hak” tidak tepat, lebih
tepat digunakan istilah “ijin” untuk memanfaatkan (dalam hal ini
mengusahakan) perairan pesisir. Sebagai ijin pemanfaatan/pengusahaan,
HP-3 selayaknya tidak dilekati dengan sifat-sifat sebagai berikut: dapat
dialihkan, dihibahkan, ditukarkan, disertakan sebagai modal perusahaan,
dijadikan objek hak tanggungan maupun diwariskan.
3. Bahwa menurut para Pemohon Pasal 14 ayat (1) UU Pengelolaan Wilayah
Pesisir telah memotong hak masyarakat untuk bersama-sama dalam
kedudukannya sebagai subjek hukum lainnya bersama-sama mempunyai
hak mengusulkan penyusunan Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil (RSWP-3-K) dan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau kecil (RZWP–3– K). Penutupan akses masyarakat untuk ikut
serta dalam penyusunan rencana tersebut adalah salah satu bentuk
perbuatan perbedaan perlakuan (diskriminatis treatment), sehingga
berakibat hak konstitusional warga negara (terutama nelayan kecil sangat
dirugikan atas ketentuan pasal tersebut. Menurut para Pemohon proses
usulan yang hanya melibatkan Pemerintah Daerah dan dunia usaha telah
menutup akses keterlibatan masyarakat, khususnya masyarakat lokal.
4. Bahwa para Pemohon mengemukakan berdasarkan Pasal 16 ayat (1) dan
ayat (2) untuk memanfaatkan perairan pesisir harus mempunyai sertifikat
HP-3, akibatnya masyarakat adat, masyarakat lokal dan tradisional yang
tidak memiliki HP-3 tidak boleh memanfaatkan perairan Pesisir. Para
Pemohon juga beranggapan HP-3 yang dapat beralih, dialihkan, dan
dijadikan jaminan utang dengan dibebankan hak tanggungan sebagaimana
diatur dalam Pasal 20 ayat (1) UU Pengelolaan Wilayah Pesisir mendorong
komersialisasi perairan pesisir karena konsep HP-3 dalam Undang-Undang
a quo merupakan hak kebendaan yang mengakibatkan HP-3 dapat beralih,
dialihkan bahkan dapat dijaminkan utang dan dibebankan hak tanggungan.
5. Bahwa menurut para Pemohon Pasal 23 ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan
ayat (6) UU 27/2007 telah memberikan kewenangan yang luas dan absolut
bagi Pemerintah/pemerintah daerah melalui suatu mekanisme musyawarah
125
tanpa adanya suatu ketentuan yang menyatakan atau menyebutkan tentang
adanya hak tolak bagi masyarakat. Hal tersebut menurut para Pemohon
mengingkari hak-hak asasi warga negara/masyarakat hukum adat untuk
mempertahankan hak-hak konstitusionalnya termasuk juga hak untuk
memperoleh persamaan dan keadilan.
6. Bahwa para Pemohon beranggapan kata “kompensasi” pada Pasal 60 ayat
(1) huruf b lebih mengarah pada strategi pengusiran masyarakat lokal agar
wilayahnya bisa dimanfaatkan untuk HP-3. Potensi pengusiran masyarakat
lokal ini sangat mungkin terjadi, dikarenakan dalam UU 27/2007 tidak
dinyatakan bahwa masyarakat berhak menolak penetapan wilayah sebagai
lokasi HP-3.
Para Pemohon beranggapan ketentuan pasal tersebut bertentangan
dengan Pasal 1 ayat (3), Pasal 18B ayat (2), Pasal 28A, Pasal 28C ayat (2),
Pasal 28D ayat (1), Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2), Pasal 28G ayat (1), Pasal
28H ayat (2) dan ayat (3), Pasal 28I ayat (2), serta Pasal 33 ayat (1), ayat (2),
dan ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi sebagai berikut:
Pasal 1 ayat (3) UUD 1945:“Negara Indonesia adalah negara hukum”
Pasal 18B ayat (2) UUD 1945:“Negara mengakui dan menghormati kesatuankesatuan
masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang
masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”.
Pasal 28A UUD 1945:“Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak
mempertahankan hidup dan kehidupannya”
Pasal 28C ayat (2) UUD 1945:“setiap orang berhak untuk memajukan dirinya
dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat,
bangsa dan negaranya”
Pasal 28D ayat (1) UUD 1945:“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan,
perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di
hadapan hukum”
Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945:
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,
memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih
kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan
meninggalkannya, serta berhak kembali.
126
(2) Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan menyatakan pikiran
dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
Pasal 28G ayat (1) UUD 1945: “Setiap orang berhak atas perlindungan diri
pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah
kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman
ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak
asasi.”
Pasal 28H ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945:
(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai
persamaan dan keadilan.
(3) Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.
Pasal 28I ayat (2) UUD 1945: (2) Setiap orang berhak bebas atas peraturan
yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak mendapatkan
perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminasi itu.
Pasal 33 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUD 1945:
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas
kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai
hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
C. KETERANGAN DPR RI
Bahwa terhadap dalil-dalil para Pemohon a quo, DPR menyampaikan
keterangan yang didahului dengan uraian tentang kedudukan hukum (legal
standing) sebagai berikut:
1. Kedudukan Hukum (Legal Standing) para Pemohon.
Sesuai dengan ketentuan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor
24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut UU MK),
menyatakan bahwa Pemohon adalah Pihak yang menganggap hak
dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-
Undang, yaitu
127
a. perorangan warga negara Indonesia;
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang;
c. badan hukum publik atau privat ; atau
d. lembaga negara.
Dalam penjelasan Pasal 51 ayat (1) dinyatakan bahwa yang
dimaksud dengan Hak Konstitusional adalah hak–hak yang diatur dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal ini
berarti bahwa hanya hak-hak yang secara eksplisit diatur dalam UUD 1945
yang termasuk “hak konstitusional”.
Oleh karena itu, menurut UU MK, agar seseorang atau suatu pihak
dapat diterima sebagai Pihak Pemohon yang memiliki kedudukan hukum
(legal standing) dalam Permohonan Pengujian Undang-Undang terhadap
UUD 1945, maka terlebih dahulu harus menjelaskan dan membuktikan:
a. adanya hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya sebagaimana
dimaksud “Pasal 51 ayat (1) dan Penjelasan UU Mahkamah Konstitusi”
yang dianggapnya telah dirugikan oleh berlakunya suatu Undang-
Undang yang dimohonkan pengujian;
b. kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional Pemohon sebagai
akibat dari berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian.
Bahwa mengenai batasan tentang kerugian konstitusional,
Mahkamah Konstitusi telah memberikan pengertian dan batasan tentang
kerugian konstitusional yang timbul karena berlakunya suatu Undang-
Undang berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU MK, harus memenuhi 5 (lima)
syarat (vide Putusan Nomor 006/PUU-III/2005 dan Putusan Nomor
011/PUU-V/2007), yaitu sebagai berikut:
a. adanya hak konstitusional Pemohon yang diberikan oleh UUD 1945;
b. hak konstitusional Pemohon tersebut dianggap oleh Pemohon telah
dirugikan oleh suatu Undang-Undang yang diuji;
c. kerugian konstitusional Pemohon yang dimaksud bersifat spesifik
(khusus) dan aktual atau setidaknya bersifat potensial yang menurut
penalaran yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;
128
d. adanya hubungan sebab-akibat (casual verband) antara kerugian dan
berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan untuk diuji;
e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan maka
kerugian konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi.
Apabila kelima syarat tersebut tidak dipenuhi oleh Pemohon maka
Pemohon tidak memiliki kualifikasi kedudukan hukum (legal standing)
sebagai Pihak Pemohon.
Atas dasar hal-hal tersebut, DPR berpandangan bahwa para
Pemohon harus dapat membuktikan terlebih dahulu apakah para Pemohon
sudah memenuhi sebagai pihak yang hak dan/atau kewenangan
konstitusionalnya dirugikan atas berlakunya Undang-Undang yang
dimohonkan pengujian, khususnya dalam mengkonstruksikan adanya
kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan atas
berlakunya ketentuan yang dimohonkan untuk diuji tersebut.
Bahwa terkait dengan uraian kedudukan hukum (legal standing) para
Pemohon tersebut, DPR menyerahkan sepenuhnya kepada Majelis Hakim
Konstitusi yang mulya untuk mempertimbangkan, menilai dan memutuskan
kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon berdasarkan Pasal 51
ayat (1) UU MK dan Penjelasan Pasal tersebut serta persyaratan menurut
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 006/PUU-III/2005 dan Putusan
Nomor 011/PUU-V/2007.
Selanjutnya, apabila Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang
mulya berpendapat lain, dengan ini disampaikan Keterangan DPR atas
pokok perkara pengujian materiil atas UU Pengelolaan Wilayah Pesisir.
2. Pengujian Materi Atas Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir.
Para Pemohon dalam permohonan a quo, mengemukakan bahwa
hak konstitusionalnya telah dirugikan dan dilanggar, atau setidak-tidaknya
bersifat potensial akan menimbulkan kerugian oleh berlakunya Pasal 1
angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 14 ayat (1), Pasal 16 ayat (1) dan
ayat (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat
(6), serta Pasal 60 ayat (1) huruf b UU 27/2007 yang secara garis besarnya
menyatakan:
129
a. bahwa UU Pengelolaan Wilayah Pesisir meimbulkan kerancuan dengan
Undang-Undang lainnya sehingga menyebabkan timbulnya
ketidakpastian hukum.
b. peran masyarakat lokal dan masyarakat adat sangat dirugikan dalam
turut serta untuk pengelolaan wilayah pesisir (HP-3).
Terhadap hal-hal yang dikemukakan para Pemohon tersebut, DPR
memberi keterangan sebagai berikut:
1. Bahwa para Pemohon telah keliru dalam memahami pengertian
berwawasan global sebagaimana ditentukan dalam pertimbangan huruf
b Undang-Undang a quo yang menyatakan: “Bahwa wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil memiliki keragaman potensi sumber daya alam yang
tinggi, dan sangat penting bagi pengembangan sosial, ekonomi, budaya,
lingkungan, dan penyangga kedaulatan bangsa, oleh karena itu perlu
dikelola secara berkelanjutan dan berwawasan global, dengan
memperhatikan aspirasi dan partisipasi masyarakat, dan tata nilai
bangsa yang berdasarkan norma hukum nasional”.
2. Bahwa menurut DPR frase “berwawasan global” dimaksudkan bahwa
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia mempunyai
keterkaitan dengan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di negaranegara
lain, karena jika pemanfaatan pesisir di Indonesia tidak
memperhatikan aspek kelestarian lingkungan, maka akan berpengaruh
pada kehidupan global, begitupun sebaliknya. Selain itu, dalam
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di negara termasuk
Indonesia, tunduk pada berbagai konvensi Internasional antara lain:
United Nation Convention on The Law of The Sea 1982 (UNCLOS);
Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF); International Plan of
Action to Combat Prevent and Deter Illegal, Unreported, and
Unregulated Fishing (IUU Fishing); Convention Bio Diversity (CBD); dan
United Nation for Climate Change (UNFCC). Hal demikian sangatlah
perlu untuk mengantisipasi dampak kerusakan lingkungan dan
pemanasan global (global warming).
3. Bahwa DPR tidak sependapat dengan anggapan para Pemohon yang
menyatakan bahwa Undang-Undang a quo dapat menciptakan
privatisasi dalam ranah yang seharusnya dikuasai oleh negara. Sesuai
130
dengan amanat UUD 1945, pada dasarnya pemanfaatan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan
dan kemakmuran masyarakat. Atas dasar hal ini maka Pemerintah
(pusat/daerah) menguasai wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil melalui
pengalokasian ruang dalam 4 (empat) kawasan yaitu Kawasan
Pemanfaatan Umum, Kawasan Konservasi, Kawasan Strategis Nasional
Tertentu, dan Alur Laut. Sedangkan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir
(HP-3) diberikan terbatas pada kawasan pemanfaatan umum (kecuali
pantai umum dan kawasan pelabuhan) dan Kawasan Strategis Nasional
Tertentu (vide Pasal 10, Pasal 22 Undang-Undang a quo).
4. Bahwa anggapan para Pemohon yang menyatakan Undang-Undang
a quo tidak memberikan perlindungan kelompok rentan di pedesaan
pesisir, menurut DPR tidak berdasar dan hanya dilandasi adanya
asumsi-asumsi semata, karena pada kenyataannya Undang-Undang
a quo justru memberikan perlindungan kepada masyarakat pesisir,
antara lain dalam Undang-Undang a quo diatur tentang ketentuan
pemberdayaan masyarakat, peran serta masyarakat dalam pemanfaatan
wilayah pesisir (vide Pasal 60 s.d. Pasal 63 Undang-Undang a quo).
Peran serta masyarakat tersebut antara lain diwujudkan dalam proses
penyusunan Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RSWP-3-K), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RZWP-3-K), Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil (RPWP-3-K), dan Rencana Aksi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil (RAPWP-3-K). Bahkan menurut Undang-Undang
a quo masyarakat didorong untuk mengelola pesisir dengan memberikan
insentif kepada masyarakat yang mengelola dengan baik dan sebaliknya
memberikan sanksi kepada yang merusak (reward and punishment, vide
Pasal 40, Pasal 71 s.d. Pasal 76 Undang-Undang a quo).
5. Bahwa DPR tidak sependapat dengan anggapan para Pemohon yang
menyatakan bahwa Undang-Undang a quo dapat menimbulkan
persoalan kemiskinan dan dapat membahayakan kedaulatan negara di
pulau-pulau kecil. Menurut DPR anggapan para Pemohon tersebut
berlebihan dan mengada-ada, karena persoalan kemiskinan tidak hanya
terkait dan tidak hanya terjadi di wilayah pesisir maupun di pulau-pulau
131
kecil saja (vide Penjelasan Umum angka 3 huruf b Undang-Undang
a quo). Bahwa Undang-Undang a quo justru dimaksudkan untuk
memberdayakan masyarakat, menjaga dan memperkuat kedaulatan
negara di pulau-pulau kecil, karena setiap pemanfaatan pulau-pulau
kecil dan perairan di sekitarnya yang dilakukan oleh orang asing harus
mendapat persetujuan Menteri [vide Pasal 23 ayat (7) Undang-Undang
a quo]. Dalam hal pemanfaatan pulau-pulau kecil terluar, karena pulaupulau
kecil terluar merupakan kawasan strategis nasional tertentu, maka
salah satu aspek penting dalam pengelolaan tersebut adalah
dipergunakan untuk kepentingan pertahanan dan keamanan, lingkungan
hidup, dan kesejahteraan masyarakat (vide Pasal 27 Undang-Undang
a quo).
6. Bahwa perlu dipahami oleh para Pemohon, bahwa untuk
mengintegrasikan berbagai perencanaan sektoral, mengatasi tumpang
tindih pengelolaan, konflik pemanfaatan dan kewenangan, serta untuk
memberikan kepastian hukum, maka dibentuklah UU 27/2007 yang
tujuannya adalah sebagai berikut:
a. menyiapkan Undang-Undang mengenai pengelolaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil, khususnya yang menyangkut perencanaan,
pemanfaatan, hak dan akses masyarakat, penanganan konflik,
konservasi, mitigasi bencana, reklamasi pantai, rehabilitasi
kerusakan pesisir, dan penjabaran konvensi-konvensi internasional
terkait;
b. membangun sinergi dan saling memperkuat antar lembaga
pemerintah baik di pusat maupun di daerah yang terkait dengan
pengelolaan wilayah pesisir sehingga tercipta kerja sama antar
lembaga yang harmonis dan mencegah serta memperkecil konflik
pemanfaatan dan konflik kewenangan di wilayah pesisir dan pulaupulau
kecil;
c. memberikan kepastian dan perlindungan hukum serta memperbaiki
tingkat kemakmuran masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil melalui
pembentukan peraturan yang dapat menjamin akses dan hak-hak
masyarakat pesisir seeta masyarakat yang berkepentingan lain,
termasuk pihak pengusaha.
132
7. Bahwa DPR tidak sependapat dengan dalil para Pemohon yang
menyatakan Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 16 ayat (1),
Pasal 23 ayat (2) dan ayat (4), terdapat kerancuan atau tumpang tindih
dengan peraturan perundang-undangan lainnya di bidang kehutanan,
pertambangan, dan pariwisata yang menghilangkan jaminan,
perlindungan dan kepastian hukum bagi warga negara, masyarakat,
utamanya nelayan dan warga pesisir. Terhadap dalil-dalil para Pemohon
tersebut, DPR berpandangan Undang-Undang tentang Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil ini merupakan landasan
penyesuaian dengan ketentuan yang tercantum dalam peraturan
perundang-undangan yang lain. Undang-Undang ini mempunyai
hubungan saling melengkapi dengan Undang-Undang lain seperti:
a. Undang-Undang yang mengatur perikanan;
b. Undang-Undang yang mengatur pemerintahan daerah;
c. Undang-Undang yang mengatur kehutanan;
d. Undang-Undang yang mengatur pertambangan umum, minyak, dan
gas bumi;
e. Undang-Undang yang mengatur penataan ruang;
f. Undang-Undang yang mengatur pengelolaan lingkungan hidup;
g. Undang-Undang yang mengatur pelayaran;
h. Undang-Undang yang mengatur konservasi sumber daya alam dan
ekosistem;
i. Undang-Undang yang mengatur peraturan dasar pokok agraria;
j. Undang-Undang yang mengatur perairan;
k. Undang-Undang yang mengatur kepariwisataan;
l. Undang-Undang yang mengatur perindustrian dan perdagangan;
m. Undang-Undang yang mengatur sumber daya air;
n. Undang-Undang yang mengatur sistem perencanaan pembangunan
nasional; dan
o. Undang-Undang yang mengatur arbitrase dan alternatif penyelesaian
sengketa.
8. Bahwa UU 27/2007 diharapkan dapat dijadikan sebagai landasan
pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang dilaksanakan
oleh berbagai sektor terkait. Dengan demikian, dapat dihindarkan
133
terjadinya tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan yang
pada akhirnya ada kepastian hukum dalam pengelolaan wilayah
perairan pesisir pada masyarakat setempat dan masyarakat lokal/adat.
9. Bahwa terhadap dalil para Pemohon yang menyatakan peran
masyarakat lokal dan masyarakat adat tersingkirkan akibat berlakunya
UU 27/2007, DPR berpandangan bahwa Ketentuan UU 27/2007 telah
mengakomodir kepentingan masyarakat adat, demikian pula dalam
kaitannya dalam pemberian HP-3, dalam Ketentuan Pasal 18 Undang-
Undang a quo disebutkan bahwa HP-3 dapat diberikan kepada:
a. Orang perseorangan warga negara Indonesia;
b. Badan hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia; atau
c. Masyarakat Adat.
10. Bahwa selain itu terkait dengan pemberian HP-3 sudah diatur dalam
ketentuan Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang a quo yang pada
pokoknya mengatur bahwa untuk pemberian HP-3 wajib
mempertimbangkan kepentingan kelestarian ekosistem pesisir dan
pulau-pulau kecil, masyarakat adat, dan kepentingan nasional serta hak
lintas damai bagi kapal asing. Bahwa selanjutnya pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil dalam ketentuan Pasal 5 Undang-Undang
a quo yang meliputi kegiatan perencanaan, pemanfaatan, pengawasan,
dan pengendalian terhadap interaksi manusia dalam memanfaatkan
sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil serta proses alamiah secara
berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dilakukan
secara terintegrasi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 6 Undang-
Undang a quo dengan cara mengintegrasikan kegiatan:
a. antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah;
b. antar-Pemerintah Daerah;
c. antarsektor;
d. antara Pemerintah, dunia usaha, dan Masyarakat;
e. antara Ekosistem darat dan Ekosistem laut; dan
f. antara ilmu pengetahuan dan prinsip-prinsip manajemen.
11. Bahwa demikian pula dalam ketentuan Pasal 60 ayat (1) hururf b
Undang-Undang a quo telah memberikan hak, kewajiban, dan peran
134
serta kepada masyarakat untuk memperoleh akses terhadap perairan
yang telah ditetapkan HP-3, termasuk memperoleh manfaat atas
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dan beberapa hakhak
lainnya yang sebenarnya merupakan pengakuan dan perwujudan
terhadap perlindungan kepada masyarakat atas kegiatan pengelolaan
sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil. Bahwa lebih tegas lagi
pengakuan pemerintah atas penghormatan dan perlindungan
masyarakat adat dalam Undang-Undang a quo dapat dilihat pada
ketentuan Pasal 61 ayat (1) dan ayat (2) yang mengatur bahwa:
(1) Pemerintah mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak
masyarakat adat, masyarakat tradisional, dan kearifan lokal atas
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah dimanfaatkan secara
turun-temurun.
(2) Pengakuan hak-hak masyarakat adat, masyarakat tradisional, dan
kearifan lokal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijadikan acuan
dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang
berkelanjutan.
12. Bahwa selain itu, masyarakat setempat baik masyarakat adat, dan
masyarakat tradisional mempunyai kesempatan yang sama dalam
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil sebagaimana diatur
dalam ketentuan Pasal 62 Undang-Undang a quo.
13. Bahkan dalam Ketentuan Pasal 63 Undang-Undang a quo mengatur
mengenai kewajiban pemerintah baik pusat maupun daerah untuk
memberdayakan masyarakat dan wajib mendorong kegiatan usaha
masyarakat melalui berbagai kegiatan di bidang pengelolaan sumber
daya pesisir dan pulau-pulau kecil yang berdaya guna dan berhasil
guna, serta mewujudkan, menumbuhkan, dan meningkatkan kesadaran
dan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan, pelaksanaan
pengelolaan, kemitraan antara masyarakat, dunia usaha, dan
Pemerintah/Pemerintah Daerah, pengembangan dan penerapan
kebijakan nasional di bidang lingkungan hidup, pengembangan dan
penerapan upaya preventif dan proaktif untuk mencegah penurunan
daya dukung dan daya tampung wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil,
pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang ramah lingkungan,
135
penyediaan dan penyebarluasan informasi lingkungan, serta pemberian
penghargaan kepada orang yang berjasa di bidang pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil.
14. Bahwa berdasarkan pada uraian-uraian tersebut, DPR berpandangan
bahwa ketentuan Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 14
ayat (1), Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23
ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6), serta Pasal 60 ayat (1) huruf b
UU 27/2007 tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3),
Pasal 18B ayat (2), Pasal 28A, Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1),
Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2), Pasal 28G ayat (1), Pasal 28H ayat (2)
dan ayat (3), Pasal 28I ayat (2), serta Pasal 33 ayat (1), ayat (2), dan
ayat (3) UUD 1945
Dengan demikian DPR memohon kiranya Ketua/Majelis Hakim
Mahkamah Konstitusi yang mulya dapat memberikan amar putusan sebagai
berikut:
1. Menyatakan para Pemohon a quo tidak memiliki kedudukan hukum (legal
standing), sehingga permohonan a quo harus dinyatakan tidak dapat
diterima (niet ontvankelijk verklaard);
2. Menyatakan permohonan a quo ditolak untuk seluruhnya atau setidaktidaknya
permohonan a quo tidak dapat diterima;
3. Menyatakan Keterangan DPR diterima untuk seluruhnya;
4. Menyatakan Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 14 ayat (1),
Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (2), ayat
(4), ayat (5), dan ayat (6), serta Pasal 60 ayat (1) huruf b UU Nomor 27
Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3), Pasal 18B ayat (2),
Pasal 28A, Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28E ayat (1) dan
ayat (2), Pasal 28G ayat (1), Pasal 28H ayat (2) dan ayat (3), Pasal 28I ayat
(2), serta Pasal 33 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUD 1945;
5. Menyatakan Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 14 ayat (1),
Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (2), ayat
(4), ayat (5), dan ayat (6), serta Pasal 60 ayat (1) huruf b UU Wilayah Pesisir
tetap memiliki kekuatan hukum mengikat.
136
Apabila Ketua/Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi berpendapat lain, kami
mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
[2.5] Menimbang bahwa Pemerintah menyampaikan kesimpulan tertulis yang
diterima di Kepaniteraan Mahkamah pada tanggal 22 Juni 2010, yang pada
pokoknya tetap pada pendiriannya;
[2.6] Menimbang bahwa untuk mempersingkat uraian Putusan ini, segala
sesuatu yang terjadi di persidangan cukup ditunjuk dalam Berita Acara
Persidangan, dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan
Putusan ini;
3. PERTIMBANGAN HUKUM
[3.1] Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan para Pemohon adalah
mengenai pengujian materiil Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 14 ayat
(1), Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (2), ayat (4), ayat
(5), dan ayat (6), Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4739, selanjutnya disebut UU 27/2007) terhadap Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (selanjutnya disebut UUD 1945).
[3.2] Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok permohonan,
Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Mahkamah) akan mempertimbangkan
terlebih dahulu hal-hal berikut:
a. kewenangan Mahkamah untuk memeriksa, mengadili, dan memutus
permohonan a quo;
b. kedudukan hukum (legal standing) Pemohon;
Terhadap kedua hal tersebut, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:
Kewenangan Mahkamah
[3.3] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 yang
disebutkan lagi dalam Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
137
Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316,
selanjutnya disebut UU MK) dan Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang
Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5076), salah satu kewenangan konstitusional
Mahkamah adalah menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar.
[3.4] Menimbang bahwa permohonan a quo adalah mengenai pengujian
Undang-Undang in casu UU 27/2007 terhadap UUD 1945, sehingga Mahkamah
berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus permohonan a quo.
Kedudukan Hukum (legal standing) Pemohon
[3.5] Menimbang bahwa berdasarkan Pasal 51 ayat (1) UU MK beserta
Penjelasannya, yang dapat bertindak sebagai Pemohon dalam pengujian suatu
Undang-Undang terhadap UUD 1945 adalah mereka yang menganggap hak
dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-
Undang yang dimohonkan pengujian, yaitu:
a. perorangan warga negara Indonesia (termasuk kelompok orang yang
mempunyai kepentingan sama);
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang diatur dalam Undang-Undang;
c. badan hukum publik atau privat; atau
d. lembaga negara.
[3.6] Menimbang pula bahwa Mahkamah sejak Putusan Nomor 006/PUUIII/
2005 bertanggal 31 Mei 2005 dan Putusan Nomor 11/PUU-V/2007 bertanggal 20
September 2007 serta putusan-putusan selanjutnya telah berpendirian bahwa
kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional sebagaimana dimaksud Pasal
51 ayat (1) UU MK harus memenuhi lima syarat, yaitu:
a. adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional pemohon yang diberikan oleh
UUD 1945;
b. hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut oleh pemohon dianggap
dirugikan oleh berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;
138
c. kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional tersebut harus bersifat
spesifik dan aktual atau setidak-tidaknya potensial yang menurut penalaran
yang wajar dapat dipastikan akan terjadi;
d. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dimaksud
dengan berlakunya Undang-Undang yang dimohonkan pengujian;
e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka
kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional seperti yang didalilkan tidak
akan atau tidak lagi terjadi.
[3.7] Menimbang bahwa berdasarkan uraian sebagaimana tersebut pada
paragraf [3.5] dan [3.6] di atas, selanjutnya Mahkamah akan mempertimbangkan
mengenai kedudukan hukum (legal standing) para Pemohon dalam permohonan
a quo sebagai berikut:
Bahwa para Pemohon terdiri dari berbagai organisasi non pemerintah
(badan privat) maupun perorangan (individu) yang dikenal telah memperjuangkan
hak asasi manusia, khususnya dalam sektor kelautan, masyarakat pesisir, dan
ketimpangan akses agraria serta hak-hak masyarakat adat di Indonesia di mana
hal tersebut tercermin dalam AD/ART dan aktivitas sehari-hari para Pemohon;
Bahwa para Pemohon menganggap sebagai pihak yang memiliki hubungan
sebab akibat (causal verband) antara kerugian konstitusional dengan berlakunya
Undang-Undang yang dimohonkan untuk diuji karena UU 27/2007 khususnya Bab
V (Pemanfaatan) Pasal 16 sampai dengan 21 yang di dalamnya memuat soal Hak
Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) bertentangan dengan Pasal 33 ayat (2) dan
(3), Pasal 27 ayat (2), Pasal 28, dan Pasal 28C UUD 1945. Menurut para
Pemohon keberadaan UU 27/2007 hanya memberikan peluang dan hak-hak
istimewa kepada para investor kaya dan mematikan hak-hak konstitusional para
Pemohon yang dalam hal ini berbicara untuk dan atas nama rakyat kecil yang
semakin termarjinalkan dengan diberlakukannya pasal-pasal yang tersebut di atas;
Bahwa dilihat dari fakta hukum di beberapa daerah kepulauan di Indonesia
telah terjadi privatisasi pulau-pulau dan pesisir sehingga sangat berpotensi
menggerus keberadaan nelayan-nelayan lokal serta budaya kebaharian nelayan.
Para Pemohon berpendapat memiliki kedudukan hukum (legal standing) sebagai
pihak dalam permohonan pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945
sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 51 ayat (1) UU MK.
139
[3.8] Menimbang bahwa berdasarkan dalil para Pemohon tersebut di atas
dikaitkan dengan Pasal 51 ayat (1) UU MK, serta yurisprudensi Mahkamah
sebagaimana diuraikan dalam paragraf [3.6], Mahkamah menilai bahwa kerugian
konstitusional para Pemohon belumlah bersifat aktual, melainkan potensial.
Namun demikian, sekalipun kerugian konstitusional para Pemohon tersebut belum
bersifat aktual, Mahkamah berpendapat bahwa pasal-pasal a quo berpotensi
merugikan hak konstitusional para Pemohon;
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, Mahkamah berpendapat bahwa
para Pemohon mempunyai kedudukan hukum (legal standing) untuk mengajukan
permohonan pengujian pasal-pasal dalam Undang-Undang a quo.
[3.9] Menimbang bahwa oleh karena Mahkamah berwenang memeriksa,
mengadili, dan memutus permohonan a quo, serta para Pemohon memiliki
kedudukan hukum (legal standing), maka Mahkamah selanjutnya akan
mempertimbangkan pokok permohonan;
Pokok Permohonan
1. Para Pemohon mendalilkan Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 16
ayat (1), Pasal 23 ayat (2) dan ayat (4) UU 27/2007 bertentangan dengan Pasal
28D ayat (1) UUD 1945 karena terdapat potensi tumpang tindih Hak
Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) dengan pemberian hak atau perijinan
oleh instansi/sektor lain. Tumpang-tindih objek tersebut di antaranya adalah: (1)
antara HP-3 dengan perijinan bidang kehutanan yaitu tentang pemanfaatan
hutan mangrove, fauna/flora yang terdapat di kawasan perairan pantai, dan
penggunaan jasa lingkungan di kawasan hutan mangrove tersebut; (2) antara
HP-3 dengan perijinan bidang pertambangan yaitu pemanfaatan pasir sebagai
sumber daya di kawasan pantai dan mineral dalam laut; (3) antara HP-3
dengan perijinan bidang pariwisata yaitu pengembangan wisata pantai;
Bahwa potensi tumpang tindih HP-3 dengan pemberian hak atau perijinan oleh
instansi/sektor lain yang secara nyata bertentangan dengan Pasal 28D ayat (1)
UUD 1945, dalam hal ini Pasal 1 angka 4, angka 7, dan angka 18, Pasal 16
ayat (1), Pasal 23 ayat (2) dan ayat (4) Undang-Undang a quo justru melakukan
pengaturan terhadap hal-hal yang telah diatur dalam peraturan perundangundangan
lainnya, sehingga apabila pasal-pasal tersebut diberlakukan akan
140
sangat berpotensi tumpang tindih yang pada akhirnya justru mereduksi bahkan
menghilangkan jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum bagi warga
negara, masyarakat, utamanya nelayan dan warga pesisir;
2. Para Pemohon mendalilkan Pasal 1 angka 18 UU 27/2007 bertentangan
dengan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945 karena konsep HP-3 tidak
sejalan dengan pengertian Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945. Dalam
diskursus tentang hubungan hukum antara orang (termasuk orang perorangan
dan badan hukum) dengan objek dikenal konsep tentang hak kebendaan
(zakelijk recht) dan hak perorangan (persoonlijk recht);
Sesuai dengan konsep Penguasaan Negara di dalam pertimbangan hukum
Putusan Mahkamah Konstitusi dalam perkara pengujian Undang-Undang
Minyak dan Gas, Undang-Undang Ketenagalistrikan, dan Undang-Undang
Sumber Daya Alam, Mahkamah menafsirkan “hak menguasai negara/HMN”
bukan dalam makna negara memiliki [sic.], tetapi dalam pengertian bahwa
negara merumuskan kebijakan (beleid), melakukan pengaturan (regelendaad),
melakukan pengurusan (bestuurdaad), melakukan pengelolaan (beheersdaad),
dan melakukan pengawasan (toezichthoudendaad) yang semuanya ditujukan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Fungsi pengaturan/bestuurdaad
meliputi pemberian dan pencabutan ijin dan konsesi. Oleh karena HP-3 lebih
cenderung kepada hak perorangan, negara lebih tepat memberikan konsep
HP-3 sebagai ijin. Berdasarkan hal tersebut di atas telah terbukti bahwa Pasal
1 ayat (18) bertentangan dengan prinsip dikuasai oleh negara dalam arti
bestuurdaad.
3. Para Pemohon mendalilkan Pasal 14 ayat (1) UU 27/2007 bertentangan
dengan Pasal 28A dan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 karena keberpihakan
kepada pengusaha terlihat menonjol pada pengaturan pemanfaatan perairan
pesisir melalui hak pengusahaan perairan pesisir (HP-3), yang mana hanya
melibatkan Pemerintah Daerah dan dunia usaha. Keistimewaan ini bukan
hanya terkait pada usulan penyusunan rencana strategis, melainkan juga pada
luas wilayah pemanfaatan yang menyebutkan bahwa, HP-3 meliputi
pengusahaan atas permukaan laut dan kolom air sampai dengan permukaan
dasar laut [Pasal 16 ayat (2) UU 27/2007]. Selanjutnya, HP-3 diberikan untuk
luasan dan waktu tertentu yaitu 20 tahun dan dapat diperpanjang 20 tahun
(Pasal 19 UU 27/2007). Pemberiannya wajib mempertimbangkan kepentingan
141
kelestarian ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil, masyarakat adat, dan
kepentingan nasional serta hak lintas damai bagi kapal asing (Pasal 17 UU
27/2007);
Bahwa Pasal 18 UU 27/2007 memang memberikan kesempatan kepada
masyarakat adat untuk memperoleh HP-3, namun posisinya terkesan hanya
sebagai “pelengkap” saja. Pengusaha, baik berupa orang perseorangan WNI
mau pun badan hukum Indonesia tetap yang lebih diutamakan dalam
pemberian HP-3. Lagi pula, proses pengurusan dan syarat-syarat yang
diwajibkan dalam pemberian HP-3 belum tentu mudah bagi masyarakat adat
untuk memenuhinya;
4. Para Pemohon mendalilkan Pasal 14 ayat (1) UU 27/2007 bertentangan
dengan Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 karena pasal a quo telah memotong hak
masyarakat untuk bersama-sama dalam kedudukannya sebagai subjek hukum
lainnya bersama-sama mempunyai hak mengusulkan penyusunan Rencana
Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RSWP-3-K), Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K), Rencana Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RPWP-3-K) serta Rencana Aksi
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RAPWP-3-K);
Bahwa penutupan akses masyarakat untuk ikut serta dalam penyusunan
rencana tersebut di atas adalah salah satu bentuk perbuatan perbedaan
perlakuan, sehingga berakibat hak konstitusional warga negara (terutama
nelayan kecil) sangat dirugikan atas ketentuan pasal tersebut;
Bahwa usulan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, RPWP-3-K, RAPWP-3-K
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai Pasal 14 UU 27/2007 memang
sangat berpengaruh kepada kehidupan nelayan setempat (user). Pelibatan
masyarakat berdasarkan norma-norma, standar, dan pedoman, yang hanya
diperoleh dalam ruang-ruang melalui konsultasi publik dan atau masyarakat
adat, baik formal atau musyawarah adat, baik formal maupun non formal
adalah upaya melemahkan perlawanan nelayan maupun masyarakat adat
wilayah pesisir;
Bahwa tidak tercantumnya masyarakat atau nelayan dalam usulan rencana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 UU 27/2007 menimbulkan
konsekuensi luar biasa terhadap keberadaan nelayan seluruh Indonesia. Di
mana usulan atas wilayah pesisir yang meliputi wilayah laut yang berbatasan
142
dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua belas) mil laut diukur dari
garis pantai yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau adalah kawasan
yang selama ini menjadi sumber penghidupan nelayan;
Bahwa usulan rencana pengelolaan wilayah pesisir sebagaimana diatur dalam
Pasal 5 sampai dengan Pasal 14 UU 27/2007 adalah upaya strategi awal
dalam penataan wilayah pesisir karena di dalamnya terdapat kegiatan
perencanaan, pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian terhadap interaksi
manusia dalam pemanfaatan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil;
Bahwa pembatasan akses nelayan baik yang berkaitan dengan hak nelayan
untuk ikut serta dalam usulan rencana strategis pengelolaan wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil adalah wujud pelanggaran terhadap asas-asas negara
hukum. Asas-asas negara hukum di antaranya pertama, asas pengakuan dan
perlindungan martabat manusia, kebebasan individu, kelompok, masyarakat
etnis dan masyarakat nasional. Kedua, asas kepastian hukum yaitu warga
negara bebas dari tindakan pemerintah dan pejabat yang tidak dapat diprediksi
dan sewenang-wenang;
5. Para Pemohon mendalilkan Pasal 14 ayat (1) UU 27/2007 bertentangan
dengan Pasal 28A UUD 1945 karena tidak diikutsertakannya masyarakat
dalam melakukan usulan penyusunan rencana strategis tersebut, jelas
merupakan suatu upaya marginalisasi masyarakat yang secara nyata
bergantung dan memenuhi kebutuhan hidup di daerah atau wilayah yang
menjadi objek HP-3;
Bahwa kerugian dan potensi kerugian yang sudah nyata terjadi seperti
penguasaan pulau dan Taman Nasional oleh sektor swasta, termasuk asing
sehingga kebijakan tersebut mengancam keberadaan kelangsungan hidup
nelayan tradisional;
6. Para Pemohon mendalilkan Pasal 14 ayat (1) UU 27/2007 bertentangan
dengan Pasal 28D ayat (1) dan Pasal 28I ayat (2) UUD 1945 karena proses
usulan yang hanya melibatkan pemerintah dan dunia usaha ini telah menutup
akses keterlibatan masyarakat, khususnya masyarakat lokal;
7. Para Pemohon mendalilkan Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) UU 27/2007
bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 karena untuk
memanfaatkan perairan pesisir harus mempunyai sertifikat HP-3;
143
8. Para Pemohon mendalilkan Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) UU 27/2007
bertentangan dengan Pasal 28A UUD 1945 karena keberadaan HP-3
berpotensi untuk menghilangkan hak hidup dan hak untuk mempertahankan
hidup/kehidupan masyarakat adat, lokal dan tradisional yang tinggal di wilayah
pesisir;
9. Para Pemohon mendalilkan Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) UU 27/2007
bertentangan dengan Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 karena adanya HP-3
memunculkan praktik privatisasi perairan dan pesisir, sehingga perekonomian
di wilayah tersebut tidak mungkin disusun sebagai usaha bersama berdasarkan
atas asas kekeluargaan sebagaimana termaktub dalam Pasal 33 ayat (1) UUD
1945;
10. Bahwa Hak Pengusahaan Perairan Pesisir berpotensi akan mengusir secara
hukum, masyarakat adat dan masyarakat tradisional yang ruang hidupnya ada
di ruang pesisir. Sementara itu konsep Penguasaan Negara berdasarkan
pertimbangan hukum Putusan Mahkamah Konstitusi perkara Undang-Undang
Minyak dan Gas, Undang-Undang Ketenagalistrikan, dan Undang-Undang
Sumber Daya Alam, menafsirkan mengenai “hak menguasai negara/HMN”
bukan dalam makna negara memiliki [sic.], tetapi dalam pengertian bahwa
negara merumuskan kebijakan (beleid), melakukan pengaturan (regelendaad),
melakukan pengurusan (bestuursdaad), melakukan pengelolaan
(beheersdaad), dan melakukan pengawasan (toezichthoudensdaad) yang
semuanya ditujukan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Fungsi
pengaturan (bestuursdaad) meliputi pemberian dan pencabutan ijin dan
konsesi;
Bahwa dikarenakan HP-3 lebih berpihak kepada pengusaha, maka tujuan
penguasaan kekayaan alam sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat tidak
akan tercapai;
Bahwa Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) yang dilakukan oleh
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah (provinsi dan kabupaten/kota)
mengubah rezim pengelolaan laut di Indonesia, perubahan dari open acces
dan common property right menjadi property right ini berarti bahwa kawasan
pesisir dan pulau-pulau kecil lebih eksklusif. Menurut Andre Groz (2005), dalam
bukunya Ecology as Politics mengkritik pemberian hak eksklusif pada pemilik
modal, karena pemberian hak tersebut menimbulkan ketidakadilan sehingga
144
memicu tingginya angka kemiskinan pada masyarakat pesisir khususnya
nelayan tradisional;
11. Para Pemohon mendalilkan Pasal 20 ayat (1) UU 27/2007 bertentangan
dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 karena mekanisme HP-3 mendorong
komersialisasi perairan pesisir karena konsep HP-3 dalam Undang-Undang ini
merupakan hak kebendaan yang mengakibatkan HP-3 dapat beralih, dialihkan
bahkan dapat dijadikan jaminan utang dan dibebani hak tanggungan;
Bahwa dengan adanya HP-3, yang dapat dialihkan dan diagunkan akan
berakibat hilangnya kedaulatan efektif negara untuk mengelola wilayah
perairan dan pesisir untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat;
12. Para Pemohon mendalilkan Pasal 23 ayat (4), ayat (5) dan ayat (6) UU 27/2007
bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2), Pasal 28C ayat (2), dan Pasal 28H
ayat (2) UUD 1945 karena keberpihakan kepada pengusaha. Pemberian HP-3
kepada pengusaha tidak terhalangi walaupun masyarakat telah menggunakan
kawasan tersebut untuk kepentingan kehidupan mereka. Pemerintah atau
Pemerintah Daerah tetap akan mengeluarkan HP-3 setelah melakukan
musyawarah dengan masyarakat yang bersangkutan. Untuk itu bupati/walikota
(wajib) memfasilitasi musyawarah dimaksud. Ketentuan ini rancu karena dalam
Pasal 23 ayat (5) UU 27/2007 mengesankan bahwa Pemerintah atau
Pemerintah Daerah yang melakukan musyawarah dengan masyarakat yang
bersangkutan, tetapi dalam Pasal 23 ayat (6) UU 27/2007 disebutkan bahwa
Bupati/Walikota-lah yang memfasilitasi musyawarah tersebut;
13. Para Pemohon mendalilkan Pasal 60 ayat (1) huruf b UU 27/2007 bertentangan
dengan Pasal 28A UUD 1945 karena kata “kompensasi” ini lebih mengarah
pada strategi pengusiran masyarakat lokal agar wilayahnya bisa dimanfaatkan
untuk HP-3;
14. Para Pemohon mendalilkan Pasal 60 ayat (1) huruf b UU 27/2007 bertentangan
dengan Pasal 28G ayat (1) UUD 1945 karena konstitusi Republik Indonesia
yang sudah tegas menyatakan perlindungannya dan jaminan pemenuhan
kehidupan rakyat, justru dilanggar oleh UU 27/2007 karena telah mengabaikan
kepentingan rakyat kecil. Masyarakat yang menggantungkan kehidupan
ekonominya akan berpotensi diusir dengan dalih bahwa masyarakat telah
diberikan kompensasi;
145
[3.10] Menimbang bahwa untuk membuktikan dalilnya para Pemohon
disamping mengajukan bukti tertulis yang diberi tanda Bukti P-1 sampai dengan
Bukti P-23, juga mengajukan 5 (lima) orang Ahli yakni Ronald Z. Titahelu,
Nurhasan Ismail, Supriadi Adhuri, Henry Thomas Simarmata, dan I Nyoman
Nurjaya serta 3 (tiga) orang saksi yakni Masnun, Karyono, dan Bona Beding
yang selengkapnya telah tercantum dalam bagian Duduk Perkara Putusan ini dan
telah didengar keterangannya pada persidangan tanggal 27 April 2010 dan tanggal
8 Juni 2010, yang pada pokoknya sebagai berikut;
1. Ahli Ronald Z. Titahelu
• Ada dua hal mengenai eksistensi masyarakat hukum adat di dalam UUD
1945, Pertama, terdapat di dalam Pasal 18B UUD 1945, yang memberikan
pengakuan terhadap masyarakat hukum adat, walaupun ditambahkan di
dalamnya sepanjang masih ada dan sesuai dengan Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Kedua, disebutkan di dalam Pasal 28I ayat (3) dari
UUD 1945 yang menyebutkan tentang perlindungan.
• Perencanaan Pemerintah, bahwa wewenang itu not base and the giving
found the state, but base by nature of the traditional society it self.
Sehingga secara alami sudah melekat sebagai hak mereka dan karenanya
bagian Pasal 18B UUD 1945 tepat. Pemerintah mengakui (to recognize)
hak mereka. Pengakuan hukum lewat peraturan perundangan baru berupa
penyebutan kolektif, akan tetapi secara substansial tidak nampak. Bahkan
berbagai peraturan perundangan masih melihat masyarakat adat dari aspek
pertumbuhan ekonomi, sehingga cenderung mengabaikan hak masyarakat
adat.
2. Ahli Nurhasan Ismail
• Tiga hal berkaitan dengan pengujian UU 27/2007 terhadap substansi dan
semangat UUD 1945 yakni Pertama, bahwa pengaturan tentang objek HP-3
mengandung disharmoni, inkonsistensi, baik yang bersifat internal maupun
yang bersifat horizontal dengan ketentuan di dalam Pasal 28H ayat (1) UUD
1945. Wujud disharmoni dan inkonsistensinya adalah bahwa pengaturan
objek HP-3 tidak memberikan jaminan kepastian hukum seperti yang
dinyatakan atau ditentukan di dalam Pasal 28H ayat (1) UUD 1945. Secara
internal, ada tiga benda berbeda yang dapat menjadi objek dari HP-3,
146
karena berbeda, tentu prinsip spesialitas yang selalu harus ada di dalam
pelekatan hak pada satu objek benda tertentu tidak akan terpenuhi. Di
dalam UU 27/2007, contohnya; objek yang dapat dilekati dengan hak
pengusahaan perairan pesisir adalah perairan pesisirnya sendiri. Di dalam
UU 27/2007, dinyatakan perairan pesisir adalah permukaan air termasuk
kolomnya sampai pada batas tanah di laut. pertama yang menjadi benda
yang dapat menjadi objek yang dapat dilekati HP-3.
• Di dalam UU 27/2007, terdapat disharmoni. Pasal 61 UU 27/2007 jelas
memberikan pengakuan, penghormatan, dan perlindungan terhadap
masyarakat hukum adat. Sebagai suatu wujud yang paling baik ada pada
Pasal 61 UU 27/2007, tetapi di dalam Pasal 18 UU 27/2007, masyarakat
hukum adat ditempatkan sebagai salah satu subjek dari HP-3. Artinya,
masyarakat hukum adat kedudukannya sama dengan badan-badan hukum
sama dengan orang perseorangan. Artinya, pada Pasal 61 UU 27/2007
Pemerintah menghormati dan melindungi masyarakat hukum adat, tetapi
Pasal 18 UU 27/2007 justru menempatkan masyarakat hukum adat bukan
dalam konteks sebagai badan pemerintahan, tetapi ditempatkan sejajar
dengan perorangan, dengan badan-badan hukum yang lain. Bahkan perlu
dicermati lebih lanjut, Pasal 21 ayat (4) huruf b dari UU 27/2007, justru
keberadaan masyarakat hukum adat disubordinasikan kepada pemegang
HP-3 karena dinyatakan pemegang HP-3 harus membina, harus
memberdayakan masyarakat hukum adat. Satu kondisi pengaturan yang
sangat bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945.
3. Ahli Supriadi Adhuri
• Pasal 16 ayat (1) UU 27/2007 bertentangan dengan Pasal 18B ayat (2)
UUD 1945 karena secara implisit pasal ini mengangap praktik-praktik hak
ulayat laut dan pengelolaan pesisir laut tradisional yang objeknya sama
dengan Pasal 16 ayat (2) UU 27/2007 sebagai tidak ada dan digantikan
oleh HP-3. Pihak pembuat UU 27/2007 mungkin akan berargumen bahwa
pasal ini hanya menihilkan tradisi sementara, sampai masyarakat adat
mengajukan permohonan HP-3. Hal ini tidak logis karena tidak ada syarat
yang diajukan konstitusi untuk pengakuan terhadap hak adat dan tradisinya.
Jadi persyaratan HP-3 dengan demikian bertentangan dengan konstitusi.
147
• Menyimak HP-3 Pasal 18 huruf a, huruf b, dan huruf c UU 27/2007, tidak
terlihat adanya perlakuan khusus terhadap nelayan dalam berhadapan
dengan orang-perorangan warga negara Indonesia, badan hukum yang
didirikan berdasarkan hukum Indonesia, atau masyarakat adat. Hampir bisa
dipastikan tanpa perlakuan yang khusus, nelayan tidak akan bisa
berkompetisi dengan pihak-pihak yang lain yang mungkin mengajukan HP-3
seperti disebutkan Pasal 18 huruf a, huruf b, dan huruf c UU 27/2007.
Dengan tatanan hidup dan keterbatasan sumber daya yang telah
teridentifikasi di atas, masyarakat adat hampir tidak mungkin dapat
memenuhi syarat-syarat pengajuan HP-3 seperti tertuang dalam Pasal 21
ayat (1) sampai ayat (5) UU 27/2007. Sehingga HP-3 bertentangan dengan
Konstitusi dan cenderung akan memarginalkan masyarakat nelayan pada
umumnya.
4. Ahli Henry Thomas Simarmata
• UU 27/2007 juga menciptakan kategori hukum baru, dalam hal ini membuka
komersialisasi tanah, termasuk juga spekulasi tanah. Untuk Indonesia,
negeri dengan garis pantai terpanjang di dunia dan juga dengan pulau pulau
kecil, komersialisasi jenis akan membuka komersialisasi, korporasi dengan
skala yang luas. Dapat dicermati bahwa HP-3 menerapkan pola single
ownership atau closed ownership, artinya sekali ditetapkan HP-3 menuntut
peran serta ekonomi dan ekologi dari pihak lain. Hal ini bukan saja
membahayakan ketahanan negara, secara ekologi bahkan secara ekonomi.
Secara khusus ilmu-ilmu lain membantu mengidentifikasi mengapa closed
ownership ini merugikan. Yang juga penting adalah bahwa komersialisasi
sumber daya akan menjadikan pola pengelolaan, menjadi profit making atau
bahkan land grabbing atau penyerobotan tanah.
• Masalah pertama di tingkat negara adanya pelemahan atau pengaburan, di
wilayah-wilayah yang jauh dari konsentrik negara, apalagi dengan karakter
kepulauan. Kewajiban negara bisa menjadi sangat kabur dengan adanya
HP-3, sekaligus bertentangan dengan pondasi dan tanggung jawab negara
sebagaimana yang dinyatakan dalam Pasal 33, Pasal 27, Pasal 28, Pasal
28A sampai 28H dan Pasal 18B UUD 1945. Masalah yang kedua, di tingkat
struktural, ketentuan ini serba hipotetis dengan kemungkinan spekulasi
ekonomi yang amat besar, sehingga sangat tergantung pada kondisi,
148
bahkan juga kapital dan kekuatan. Masalah yang lainnya adanya
pelemahan hak gugat dan hak akses masyarakat, kaitannya dengan closed
ownership. Sekali ditetapkan, peran serta masyarakat yang tidak mendapat
lisensi menjadi sangat lemah dan bisa jadi mereka justru yang paling lemah,
dalam kondisi sosial, budaya dan ekonomi.
5. Ahli I Nyoman Nurjaya
• Implikasi yang dapat ditimbulkan kalau orientasi pembangunan ditujukan
semata-mata untuk mengejar target pembangunan yaitu: Yang pertama,
untuk mengejar target, eksploitasi use oriented bukan resource, lebih pada
pengelolaan. Yang kedua, mau tidak mau dominasi atau keberpihakkan
pada pelaku usaha, high capital oriented, dominasi pemodal besar. Yang
ketiga, dalam manajemen pengelolaan ada nuansa sektoral seperti yang
dianut di Indonesia. Ada implikasi-implikasi hukum yang disebut dengan
conflict of norms, ada konflik norma antara Undang-Undang yang sederajat,
yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam, horizontal conflict.
Secara vertikal, peraturan yang lebih tinggi dengan yang lebih rendah (lex
superior derogat leggy inferiori) dan seterusnya. Yang kemudian ada limitasi
ruang akses informasi, transparansi, partisipasi publik, akuntabilitas publik,
juga menjadi bagian dari implikasi. Ada kecenderungan yang disebut
sebagai political of ignores, politik pengabaian dalam hubungan dengan
pemanfaatan sumber daya alam. Pengabaian terhadap hak-hak masyarakat
adat atas akses dan pemanfaatan sumber daya alam.
• Ada dua hal penting memang di dalam Bab V dan di dalam Bab XI yang
disoroti oleh Pemohon, yang pertama, kaitan dengan pemberian hak
pengusahaan perairan pesisir, HP-3, Ada pengalaman di masa lalu, tentang
hak pengusahaan hutan, apakah harus menggunakan Hak pengusahaan
perairan pesisir atau berupa Ijin usaha. Kemudian HP-3 dapat dialihkan,
ditukar, dihibahkan, disertakan dalam modal perusahaan, dan diagunkan
sebagai objek hak tanggungan, apakah termasuk dalam ranah publik atau
ranah privat? Masalah yang lain seperti hak pengusahaan hutan tanpa
diawali dengan prasyarat Amdal dengan berdasarkan prinsip keberhatihatian,
karena harus dibedakan antara usaha dan kegiatan. Kalau usaha,
jelas berorientasi provit oriented, sedangkan Pemerintah melakukan
kegiatan pembangunan, program-program pembangunan adalah kegiatan
149
untuk infrastruktur. Oleh karena itu untuk usaha, seharusnya adalah ijin
bukan hak;
6. Saksi Masnun
• PT. KLI mulai beroperasi tahun 1990 dan dampaknya mulai dirasakan mulai
tahun 1997 yaitu terjadi abrasi yang mengakibatkan tambak-tambak banyak
yang hilang dan rusak, yang hilang menurut data yang dikumpulkan dari
masyarakat seluas 152,48 hektar, sedangkan tambak yang rusak ringan,
artinya rusak dan bisa diperbaiki, tetapi kalau ditabur benih, kadang-kadang
jebol karena kurang besar, seluas 55 hektar setengah. Sedangkan tambak
yang rusak berat bisa ditanami ikan tetapi menggunakan jaring, atau jala
seluas 37 hektar. Adanya pencemaran limbah yaitu limbah padat, limbah
cair maupun limbah dari udara. Limbah padat serpihan-serpihan kayu-kayu,
limbah cairnya berupa zat kimia sangat berbahaya, namanya runti
digunakan agar kayu tidak mudah rusak. Sedangkan pencemaran udara
berupa serbuk gergaji, sehingga sangat mengganggu masyarakat.
7. Saksi Karyono
• Pada tahun 1995 dan tahun 2007 PT. Purna Taru Murni datang ke daerah
tempat tinggal saksi Desa Tanjung Pakis. Secara serempak masyarakat
menolak keberadaan perusahaan yang ingin mengeruk pasir dari Desa
Tanjung Pakis. Akibat adanya pengerukan pasir tersebut nelayan menjadi
berkurang penghasilannya karena tempat mereka memanen rusak yang
disebabkan lingkungan di dasar laut rusak dan tidak bisa dipanen lagi.
Bahkan perumahan nelayan yang ada di pesisir pantai Dusun Bumin dan
tiga pelelangan ikan habis terbawa oleh laut, ditambah lagi dengan tambaktambak
nelayan yang sampai saat ini di sekitar Karawang dan Bekasi yang
berjumlah ratusan hektar juga rusak.
8. Saksi Bona Beding
• Bagi orang Lamalera, laut selalu identik dengan pola pikir dan kebudayaan.
Akan tetapi bukan soal beralih dari penangkapan yang tradisional ke cara
penangkapan modern tetapi justru mempertahankan tradisi, oleh karena
tradisi tersebut mencakup segala macam aspek; pendidikan, moral, budi
pekerti, tata nilai bahkan religiusitas. Bukan semata-mata aspek ekonomi
karena semuanya harus dimulai dengan ritual adat, dari membuat perahu,
150
hingga mendapat ikan, semuanya dilakukan dalam ritual dan tradisi, apalagi
setelah masuknya gereja Katolik, semua melebur di dalam inkulturasi gereja
Katolik. Tradisi ini berlangsung sejak belasan abad yang lalu. Sedikit
gambaran mengenai kelekatan adat istiadat di laut, terutama berkaitan
dengan penangkapan ikan paus, yakni ritual mengajarkan bahwa kalau
melakukan sesuatu harus jujur, harus bijaksana.
[3.11] Menimbang bahwa terhadap permohonan para Pemohon a quo,
Pemerintah menyampaikan keterangan lisan dan tertulis yang selengkapnya telah
tercantum dalam bagian Duduk Perkara putusan ini, pada pokoknya menyatakan
sebagai berikut:
1. Para Pemohon telah keliru dalam memahami pengertian berwawasan global
sebagaimana ditentukan dalam pertimbangan huruf b Undang-Undang a quo
yang menyatakan: “Bahwa wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki
keragaman potensi sumber daya alam yang tinggi, dan sangat penting bagi
pengembangan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan penyangga
kedaulatan bangsa, oleh karena itu perlu dikelola secara berkelanjutan dan
berwawasan global, dengan memperhatikan aspirasi dan partisipasi
masyarakat, dan tata nilai bangsa yang berdasarkan norma hukum nasional”;
Menurut Pemerintah, frasa “berwawasan global” dimaksudkan bahwa
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia mempunyai
keterkaitan dengan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di negara-negara
lain, karena jika pemanfaatan pesisir di Indonesia tidak memperhatikan
aspek kelestarian lingkungan, maka akan berpengaruh pada kehidupan
global, begitupun sebaliknya;
2. Pemerintah tidak sependapat dengan anggapan para Pemohon yang
menyatakan bahwa Undang-Undang a quo dapat menciptakan privatisasi
dalam ranah yang seharusnya dikuasai oleh negara. Sesuai dengan amanat
konstitusi, pada dasarnya pemanfaatan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran
masyarakat. Sebagai tindak lanjutnya adalah negara dalam hal ini Pemerintah
(pusat/daerah) menguasai wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil melalui
pengalokasian ruang dalam 4 (empat) kawasan yaitu Kawasan Pemanfaatan
Umum, Kawasan Konservasi, Kawasan Strategis Nasional Tertentu, dan Alur
151
Laut. Sedangkan Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3) diberikan terbatas
pada Kawasan Pemanfaatan Umum (kecuali pantai umum dan kawasan
pelabuhan) dan Kawasan Strategis Nasional Tertentu (vide Pasal 10 dan
Pasal 22 Undang-Undang a quo);
3. Bahwa anggapan para Pemohon yang menyatakan Undang-Undang a quo
tidak memberikan perlindungan kelompok rentan di pedesaan pesisir, menurut
Pemerintah anggapan para Pemohon tersebut tidak berdasar dan hanya
dilandasi adanya asumsi-asumsi semata, karena pada kenyataannya
Undang-Undang a quo justru memberikan perlindungan kepada masyarakat
pesisir (kelompok rentan pedesaan pesisir menurut hemat Pemerintah tidak
dikenal/tidak ada, dan bukan ranah pengaturan Undang-Undang a quo),
antara lain dalam Undang-Undang a quo diatur tentang ketentuan
pemberdayaan masyarakat, peran serta masyarakat dalam pemanfaatan
wilayah pesisir (vide Pasal 60 sampai dengan Pasal 63 Undang-Undang a
quo);
4. Pemerintah tidak sepakat dengan anggapan para Pemohon yang menyatakan
bahwa Undang-Undang a quo dapat menimbulkan persoalan kemiskinan dan
dapat membahayakan kedaulatan negara di pulau-pulau kecil. Menurut
Pemerintah anggapan para Pemohon tersebut berlebihan dan mengada-ada,
karena persoalan kemiskinan tidak hanya terkait dan tidak hanya terjadi di
wilayah pesisir maupun di pulau-pulau kecil saja (Penjelasan Umum angka 3
huruf b Undang-Undang a quo);
Bahwa Pemerintah tidak sependapat dengan anggapan para Pemohon yang
menyatakan Undang-Undang a quo tidak sinkron dengan peraturan
perundang-undangan Iainnya, menurut Pemerintah Undang-Undang a quo
bersifat saling melengkapi dengan Undang-Undang sektoral lainnya,
misalnya yang berkaitan dengan pertambangan umum, minyak dan gas
bumi, penataan ruang, perikanan, kehutanan, pengelolaan lingkungan
hidup, pelayaran, konservasi sumber daya alam, Undang-Undang Pokok
Agraria, perairan, pariwisata, perdagangan, sumber daya air, sistem
perencanaan dan pembangunan nasional, arbitrase dan alternatif
penyelesaian sengketa. Lebih lanjut menurut Pemerintah, jikalaupun
anggapan para Pemohon itu benar adanya maka ketidaksinkronan antara
Undang-Undang a quo dengan peraturan perundang-undangan Iainnya
152
bukan berarti Undang-Undang a quo menjadi inkonstitusional atau dengan
perkataan lain hal demikian bukanlah masalah konstitusionalitas
keberlakuan Undang-Undang a quo;
[3.12] Menimbang bahwa untuk mendukung keterangannya, Pemerintah
mengajukan 3 (tiga) orang Ahli yakni Ir. Abdon Nababan, Ir. Dietriech G.
Bengen, dan Budi Wiryawan, serta seorang saksi bernama Much Imran Amin
yang telah didengar keterangannya pada persidangan tanggal 8 Juni 2010 dan
selengkapnya telah tercantum pada bagian Duduk Perkara putusan ini pada
pokoknya sebagai berikut:
1. Ahli Ir. Abdon Nababan
• Masalah utama dalam pengelolaan pesisir laut dan pulau-pulau kecil adalah
tragedy of open access. Tragedi di pesisir dan di lautan adalah karena open
acces, yang dibiarkan menjadi rezim yang mengatur laut. Inilah yang
sesungguhnya ingin di-address oleh UU 27/2007. Salah satu caranya
adalah mengakui hak-hak masyarakat adat, tidak hanya soal pendekatan
hak di dalam pengelolaan wilayah, tetapi juga untuk memastikan bahwa
Pemerintah punya kaki di bawah, karena kapal-kapal asing dapat masuk
tanpa ada yang mengawasi seperti masa lalu.
2. Ahli Ir. Dietriech G. Bengen,
• Masalah yang muncul adalah adanya sifat common property dan rezim
open access dari wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, sehingga tidak
memungkinkan untuk mengkapling wilayah pesisir atau laut yang ada.
Masalah yang lain adalah kebijakan yang ada masih bersifat sektoral,
kurangnya keperpaduan antara para pemangku kepentingan menimbulkan
banyak sekali ketidakefektifan dalam upaya pemanfaatan wilayah pesisir.
Untuk mereduksi masalah-masalah di atas dan mengoptimalkan sumber
daya yang ada, perlu adanya suatu pengelolaan. Untuk melakukan
pengelolaan ini UU 27/2007 menyebutkan bahwa pengelolaan wilayah
pesisir pulau-pulau kecil bertujuan untuk melindungi, mengonversi,
merehabilitasi memanfaatkan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil
secara berkelanjutan. UU 27/2007 mencoba mengharmonisasi, berbagai
pemanfaatan yang ada. Kemudian menguatkan peran serta masyarakat dan
lembaga Pemerintah dalam pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil.
153
3. Ahli Budi Wiryawan
• Implikasi negatif akan muncul apabila daerah berlomba-lomba
mengeksploitasi sumber daya tanpa memperhatikan kaidah pembangunan
berkelanjutan. Oleh karena itu perlu adanya Undang-Undang yang
mengatur tentang pengolaan wilayah pesisir Republik Indonesia untuk
mengelola sumber daya alam dan jasa lingkungan di wilayah pesisir.
Secara kelembagaan, terbentuknya Departemen Eksplorasi Laut
memberikan tonggak sejarah bagi pengelolaan sumber daya pesisir.
• Kata kunci dari kebijakan review terhadap UU 27/2007 yaitu pengelolaan,
bagaimana mengelola wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Pengelolaan
dilakukan beradasar pada program berkelanjutan, konsistensi, keterpaduan,
kepastian hukum, kemitraan, pemerataan, prasta masyarakat, keterbukaan,
desentralisasi, akuntabilitas dan keadilan.
4. Saksi Much Imran Amin
• Selama ini orang melakukan eksploitasi pesisir dan pulau-pulau kecil
dengan seenaknya, sebelum UU 27/2007 lahir, tanpa ada tanggung jawab
terhadap lingkungan, apalagi dengan masyarakat lokal. Contoh kasus
kegiatan eksploitasi terumbu karang untuk tujuan perdagangan jarang sekali
perusahaan diberi tanggung jawab setelah mereka mengambil karang di
suatu wilayah, untuk melakukan rehabilitasi dan tanggung jawab sosial
terhadap masyarakat lokal. Karena tidak ada aturan buat pengusaha untuk
melakukan hal tersebut, agar para pengusaha tidak seenaknya melakukan
dan membuka atau melakukan eksploitasi terhadap sumber daya alam
pesisir, sehingga wilayah pesisir yang ada dapat dipertanggungjawabkan.
Esensi HP-3 adalah sebagai alat agar masyarakat dapat memanfaatkan
mekanisme atau alat ini sebagai penyaring, pelindung bagi masyarakat lokal
agar segala sesuatu yang berasal dari pihak luar masyarakat, dengan
peraturan ini masyarakat dapat menolak.
[3.13] Menimbang bahwa terhadap permohonan para Pemohon, Dewan
Perwakilan Rakyat menyampaikan keterangan tertulis yang selengkapnya telah
tercantum pada bagian Duduk Perkara putusan ini, pada pokoknya sebagai
berikut:
154
1. Bahwa para Pemohon telah keliru dalam memahami pengertian berwawasan
global sebagaimana ditentukan dalam pertimbangan huruf b Undang-Undang
a quo yang menyatakan, “Bahwa wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki
keragaman potensi sumber daya alam yang tinggi, dan sangat penting bagi
pengembangan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dan penyangga
kedaulatan bangsa, oleh karena itu perlu dikelola secara berkelanjutan dan
berwawasan global, dengan memperhatikan aspirasi dan partisipasi
masyarakat, dan tata nilai bangsa yang berdasarkan norma hukum nasional”;
2. Bahwa menurut DPR, frasa “berwawasan global” dimaksudkan bahwa
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia mempunyai
keterkaitan dengan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di negara-negara lain,
karena jika pemanfaatan pesisir di Indonesia tidak memperhatikan aspek
kelestarian lingkungan, maka akan berpengaruh pada kehidupan global,
begitupun sebaliknya;
3. Bahwa DPR tidak sependapat dengan anggapan para Pemohon yang
menyatakan bahwa Undang-Undang a quo dapat menciptakan privatisasi
dalam ranah yang seharusnya dikuasai oleh negara;
4. Bahwa anggapan para Pemohon yang menyatakan Undang-Undang a quo
tidak memberikan perlindungan kelompok rentan di pedesaan pesisir, menurut
DPR, tidak berdasar dan hanya dilandasi adanya asumsi-asumsi semata,
karena pada kenyataannya Undang-Undang a quo justru memberikan
perlindungan kepada masyarakat pesisir, antara lain dalam Undang-Undang
a quo diatur tentang ketentuan pemberdayaan masyarakat, peran serta
masyarakat dalam pemanfaatan wilayah pesisir (vide Pasal 60 sampai dengan
Pasal 63 Undang-Undang a quo);
5. Bahwa DPR tidak sependapat dengan anggapan para Pemohon yang
menyatakan bahwa Undang-Undang a quo dapat menimbulkan persoalan
kemiskinan dan dapat membahayakan kedaulatan negara di pulau-pulau kecil.
Menurut DPR, anggapan para Pemohon tersebut berlebihan dan mengadaada,
karena persoalan kemiskinan tidak hanya terkait dan tidak hanya terjadi di
wilayah pesisir maupun di pulau-pulau kecil saja (vide Penjelasan Umum angka
3 huruf b Undang-Undang a quo);
6. Bahwa DPR tidak sependapat dengan dalil para Pemohon yang menyatakan
Pasal 1 angka 4, Pasal 1 angka 7, Pasal 1 angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal
155
23 ayat (2), dan ayat (4) UU 27/2007, terdapat kerancuan atau tumpang tindih
dengan peraturan perundang-undangan lainnya di bidang kehutanan,
pertambangan, dan pariwisata yang menghilangkan jaminan, perlindungan dan
kepastian hukum bagi warga negara, masyarakat, utamanya nelayan dan
warga pesisir;
7. Bahwa terhadap dalil para Pemohon yang menyatakan peran masyarakat lokal
dan masyarakat adat tersingkirkan akibat berlakunya UU 27/2007, DPR
berpandangan bahwa ketentuan UU 27/2007 telah mengakomodir kepentingan
masyarakat adat;
8. Bahwa selain itu terkait dengan pemberian HP-3 sudah diatur dalam ketentuan
Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang a quo yang pada pokoknya mengatur
bahwa untuk pemberian HP-3 wajib mempertimbangkan kepentingan
kelestarian ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil, masyarakat adat, dan
kepentingan nasional serta hak lintas damai bagi kapal asing;
9. Bahwa demikian pula dalam ketentuan Pasal 60 ayat (1) huruf b Undang-
Undang a quo telah memberikan hak, kewajiban, dan peran serta kepada
masyarakat untuk memperoleh akses terhadap perairan yang telah ditetapkan
HP-3, termasuk memperoleh manfaat atas pengelolaan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil, dan beberapa hak-hak lainnya yang sebenarnya merupakan
pengakuan dan perwujudan terhadap perlindungan kepada masyarakat atas
kegiatan pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil;
10. Bahwa berdasarkan pada uraian-uraian tersebut, DPR berpandangan bahwa
ketentuan Pasal 1 angka 4, Pasal 1 angka 7, Pasal 1 angka 18, Pasal 14 ayat
(1), Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (2), ayat
(4), ayat (5), dan ayat (6), serta Pasal 60 ayat (1) huruf b UU 27/2007 tidak
bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3), Pasal 18B ayat (2), Pasal
28A, Pasal 28C ayat (2), Pasal 28D ayat (1), Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2),
Pasal 28G ayat (1), Pasal 28H ayat (2) dan ayat (3), Pasal 28I ayat (2), serta
Pasal 33 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UUD 1945;
[3.14] Menimbang bahwa para Pemohon dan Pemerintah telah menyerahkan
kesimpulan tertulis yang pada pokoknya masing-masing tetap dengan
pendiriannya;
156
Pendapat Mahkamah
[3.15] Menimbang bahwa setelah Mahkamah memeriksa dengan saksama
permohonan para Pemohon, keterangan Pemerintah dan keterangan Dewan
Perwakilan Rakyat, bukti-bukti surat dari para Pemohon (Bukti P-1 sampai dengan
Bukti P-24), keterangan para ahli serta keterangan saksi-saksi, kesimpulan tertulis
dari para Pemohon dan Pemerintah, sebagaimana telah diuraikan di atas,
Mahkamah berpendapat sebagai berikut:
[3.15.1] Menimbang bahwa masalah utama yang harus dipertimbangkan dan
diputuskan oleh Mahkamah dalam perkara ini adalah mengenai konstitusionalitas
Pasal 1 angka 4, angka 7, angka 18, Pasal 16 ayat (1), Pasal 14 ayat (1), Pasal
18, Pasal 20, Pasal 21 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan ayat (5), Pasal 23
ayat (1), ayat (2), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6) serta Pasal 60 ayat (1) UU
27/2007 yang didalilkan bertentangan dengan dua belas norma konstitusional
dalam UUD 1945;
[3.15.2] Menimbang bahwa dari uraian dalil-dalil permohonan para Pemohon,
keterangan Pemerintah dan DPR serta fakta-fakta hukum yang terungkap dalam
persidangan, ada dua persoalan konstitusional yang harus dijawab oleh
Mahkamah, yaitu:
1. Apakah pemberian HP-3 bertentangan prinsip penguasaan negara atas sumber
daya alam bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, jaminan konstitusi
terhadap hak hidup dan mempertahankan kehidupan bagi masyarakat pesisir,
prinsip non-diskrimansi serta prinsip kepastian hukum yang adil sebagaimana
didalilkan para Pemohon;
2. Apakah penyusunan RSWP-3-K, RZWP-3-K, RPWP-3-K, RAPWP-3-K yang
tidak mendudukkan masyarakat sebagai peserta musyawarah melanggar hakhak
konstitusional para Pemohon sehingga bertentangan dengan konstitusi;
[3.15.3] Menimbang bahwa sebelum Mahkamah memberikan pertimbangan
hukum dan penilaian terhadap kedua masalah konstitusional tersebut pada
paragraf [3.15.2], Mahkamah terlebih dahulu akan mengemukakan hal-hal sebagai
berikut:
Mahkamah perlu merujuk putusan Mahkamah Nomor 001, 021, 022/PUU-I/2003
bertanggal 15 Desember 2004 yang pada pokoknya mempertimbangkan bahwa
157
jika pengertian kata “dikuasai oleh negara” hanya diartikan sebagai pemilikan
dalam arti perdata (privat) oleh negara, maka tidaklah mencukupi untuk mencapai
tujuan “sebesar-besar kemakmuran rakyat”, sehingga amanat untuk “memajukan
kesejahteraan umum” dan “mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia” dalam Pembukaan UUD 1945 tidak mungkin dapat diwujudkan. Dengan
demikian, perkataan dikuasai oleh negara haruslah diartikan mencakup makna
penguasaaan oleh negara dalam arti luas yang bersumber dan berasal dari
konsepsi kedaulatan rakyat Indonesia atas segala sumber kekayaan “bumi dan air
dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya”, termasuk pula di dalamnya
kepemilikan publik oleh kolektivitas rakyat atas sumber-sumber kekayaan
dimaksud. Rakyat secara kolektif itu, dikonstruksikan oleh UUD 1945 memberikan
mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan (beleid), melakukan
pengaturan (regelendaad), melakukan pengurusan (bestuursdaad), melakukan
pengelolaan (beheersdaad), dan melakukan pengawasan (toezichthoudensdaad)
untuk tujuan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Fungsi kepengurusan oleh
negara dilakukan oleh pemerintah dengan kewenangannya untuk menerbitkan dan
mencabut fasilitas perijinan, lisensi, dan konsesi. Fungsi pengaturan oleh negara
dilakukan melalui kewenangan legislasi oleh DPR bersama dengan pemerintah
dan regulasi oleh pemerintah (eksekutif). Fungsi pengelolaan dilakukan melalui
mekanisme pemilikan saham dan/atau melalui keterlibatan langsung badan usaha
milik negara, termasuk di dalamnya badan usaha milik daerah atau badan hukum
milik negara/daerah sebagai instrumen kelembagaan di mana pemerintah
mendayagunakan kekuasaannya atas sumber-sumber kekayaan itu untuk
digunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Demikian pula fungsi pengawasan
oleh negara dilakukan oleh negara c.q. pemerintah dalam rangka mengawasi dan
mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh negara atas kekayaan alam
atas bumi, air, dan kekayaan alam benar-benar digunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat;
[3.15.4] Menimbang bahwa Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menentukan bahwa
bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara. Berdasarkan ketentuan tersebut, menurut Mahkamah, wilayah perairan
pesisir dan pulau-pulau kecil serta sumber-sumber kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya adalah termasuk wilayah dan sumber kekayaan alam
yang dikuasai oleh negara. Dalam makna yang lain, menurut Mahkamah, negara
158
merumuskan kebijakan, melakukan pengaturan, pengurusan, pengelolaan, dan
pengawasan terhadap bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
termasuk dalam wilayah perairan pesisir dan pulau-pulau kecil yang kesemuanya
ditujukan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dengan adanya anak kalimat
“dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” dalam Pasal 33 ayat (3)
UUD 1945, maka sebesar-besar kemakmuran rakyat-lah yang menjadi ukuran
utama bagi negara dalam menentukan pengurusan, pengaturan atau pengelolaan
atas bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Di samping itu,
penguasaan oleh negara atas bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya harus juga memperhatikan hak-hak yang telah ada, baik hak individu
maupun hak kolektif yang dimiliki masyarakat hukum adat (hak ulayat), hak
masyarakat adat serta hak-hak konstitusional lainnya yang dimiliki oleh
masyarakat dan dijamin oleh konstitusi, misalnya hak akses untuk melintas, hak
atas lingkungan yang sehat dan lain-lain;
[3.15.5] Menimbang bahwa menurut Mahkamah dalam wilayah perairan pesisir
dan pulau-pulau kecil telah terdapat hak-hak perseorangan, hak masyarakat
hukum adat serta hak masyarakat nelayan tradisional, hak badan usaha, atau hak
masyarakat lainnya serta berlakunya kearifan lokal yaitu nilai-nilai luhur yang
masih berlaku dalam tata kehidupan masyarakat. Pada satu sisi Pasal 61 Undang-
Undang a quo mengakui, menghormati dan melindungi hak-hak masyarakat adat,
masyarakat tradisional, dan kearifan lokal atas wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil yang telah dimanfaatkan secara turun temurun dan menjadi acuan dalam
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, akan tetapi pada sisi lain hakhak
masyarakat adat/tradisional dan kearifan lokal tersebut potensial dapat
dialihkan dalam bentuk HP-3 atau diserahkan kepada swasta dengan pembayaran
ganti kerugian. Hal itu akan mengakibatkan hilangnya hak-hak masyarakat
adat/tradisional yang bersifat turun temurun, padahal hak-hak masyarakat tersebut
mempunyai karakteristik tertentu, yaitu tidak dapat dihilangkan selama masyarakat
adat itu masih ada. Selain itu, akan mengakibatkan pula tereliminasinya
masyarakat adat/tradisional dalam memperoleh HP-3, karena kekurangan modal,
teknologi serta pengetahuan. Padahal, negara dalam hal ini pemerintah
berkewajiban memajukan kesejahteraan umum dan keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia [vide Pembukaan UUD 1945 alinea keempat dan Pasal 34 ayat
(2) UUD 1945]. Pasal 10 Undang-Undang a quo juga telah mengatur
159
pengalokasian ruang perairan pesisir dan pulau-pulau kecil dalam empat kawasan,
yaitu kawasan pemanfaatan umum, kawasan konservasi, kawasan strategis
nasional tertentu dan alur laut. Menurut Mahkamah pengalokasian kawasan
perarian pesisir dan pulau-pulau kecil dalam beberapa kawasan dengan maksud
untuk memberikan jaminan dan perlindungan atas kawasan tertentu yang harus
dilindungi merupakan hal yang perlu diatur sebagaimana telah dinyatakan dalam
Undang-Undang a quo. Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil harus
dilakukan dengan pendekatan terpadu (Integrated Coastal Zone Management),
yang meliputi antara lain sektor perikanan, perhubungan, pariwisata, mineral,
lingkungan, dan lain-lain;
[3.15.6] Menimbang bahwa Mahkamah dapat memahami tujuan ideal dari
pembentukan Undang-Undang a quo sebagaimana ditentukan dalam Pasal 4 yaitu
untuk: (i) melindungi, mengonservasi, merehabilitasi, memanfaatkan, dan
memperkaya sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil serta sistem ekologisnya
secara berkelanjutan, (ii) menciptakan keharmonisan dan sinergi antara
Pemerintah dan Pemerintahan Daerah dalam pengelolaan sumber daya pesisir
dan pulau-pulau kecil, serta (iii) memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga
pemerintah serta mendorong inisiatif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya
pesisir dan pulau-pulau kecil agar tercapai keadilan, keseimbangan dan
keberlanjutan. Mahkamah juga dapat menerima penjelasan Pemerintah bahwa
pembentukan Undang-Undang a quo, dilatarbelakangi kesadaran perlunya
mengintegrasikan dan membangun sinergi berbagai perencanaan sektoral,
mengatasi tumpang tindih pengelolaan, konflik pemanfaatan dan kewenangan
serta memberikan kepastian hukum. Akan tetapi, Mahkamah memberi perhatian
khusus terhadap keterangan ahli Abdon Nababan dan Dietrich G Bengen (Ahli
dari Pemerintah), yang berpendapat bahwa masalah utama dari pengelolaan
pesisir laut dan pulau-pulau kecil adalah tragedy of open acces yaitu tragedi yang
diakibatkan oleh penggunaan prinsip open acces terhadap wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil serta prinsip common property atas wilayah pesisir dan pulaupulau
kecil yang mengakibatkan tidak memungkinkan pengkaplingan wilayah
pesisir atau laut yang ada. Menurut Mahkamah jika pendapat kedua ahli tersebut
benar, dapat disimpulkan bahwa maksud pembentukan undang-undang ini adalah
dalam rangka melegalisasi pengkaplingan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
untuk dijadikan private ownership dan close ownership kepada perseorangan,
160
badan hukum atau masyarakat tertentu, sehingga bagian terbesar dari
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil diserahkan kepada
perseorangan, badan hukum, dan kelompok masyarakat yang dikonstruksikan
menurut Undang-Undang a quo dengan pemberian HP-3. Hal ini berarti bahwa
terdapat semangat privatisasi pengelolaan dan pemanfaatan perairan pesisir dan
pulau-pulau kecil kepada usaha perseorangan dan swasta.
[3.15.7] Menimbang bahwa menurut Mahkamah konstruksi Undang-Undang a
quo, menempatkan HP-3 sebagai hak kebendaan. Hal itu tergambar pada ciri-ciri
HP-3 yang terkandung dalam Undang-Undang a quo, yaitu HP-3: (i) diberikan
dalam jangka waktu tertentu yaitu 20 tahun dan terus dapat diperpanjang, (ii)
diberikan dengan luas tertentu, (iii) dapat beralih, dialihkan dan dijadikan jaminan
utang dengan dibebankan hak tanggungan, (iv) diberikan sertifikat hak.
Berdasarkan ciri-ciri tersebut pemberian HP-3 atas wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil mengakibatkan adanya pengalihan kepemilikan dan penguasaan oleh negara
dalam bentuk single ownership dan close ownership kepada seseorang, kelompok
masyarakat atau badan hukum atas wilayah tertentu dari wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil, yang dapat menutup akses bagi setiap orang atas wilayah yang
diberikan HP-3. Akibat selanjutnya dari pemberian HP-3, adalah adanya
pengkaplingan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di seluruh Indonesia kecuali
pada kawasan konservasi, suaka perikanan, alur pelayaran, kawasan pelabuhan
dan pantai umum, sehingga negara mengalihkan tanggung jawab, penguasaan
dan pengelolaan wilayah tersebut kepada pemilik HP-3. Dengan rentang kendali
pemerintahan yang sangat luas, mencakup seluruh wilayah Indonesia, pengalihan
tanggung jawab yang demikian, akan sulit bagi negara mengontrol secara efektif,
baik terhadap pengelolaan wilayah pesisir maupun pulau-pulau kecil. Terlebih lagi
dalam soal pengawasan tersebut kemampuan daerah berbeda-beda. Memang
benar, menurut Undang-Undang a quo, pemberian HP-3 hanya terbatas pada
zona tertentu yaitu di luar kawasan konservasi, suaka perikanan, alur pelayaran,
kawasan pelabuhan dan pantai umum, akan tetapi persoalannya adalah sejauh
mana porsentase pembagian antar berbagai kawasan tersebut, tidaklah
ditegaskan dalam Undang-Undang a quo, sehingga sangat potensial bagian
terbesar wilayah Indonesia akan menjadi kawasan HP-3. Pemberian HP-3 juga
akan potensial mengancam posisi masyarakat adat dan nelayan tradisional yang
menggantungkan hidupnya secara turun temurun dari sumber daya yang ada pada
161
perairan pesisir dan pulau-pulau kecil, karena keterbatasan mereka untuk
memperoleh HP-3 dibanding pengusaha swasta yang memiliki segala-galanya.
Ditambah lagi dengan tidak adanya perlakuan khusus bagi masyarakat adat serta
masyarakat tradisional untuk memperoleh HP-3 sehingga terancam kehilangan
sumber daya yang menjadi sumber kehidupannya;
[3.15.8] Menimbang bahwa berdasarkan uraian pertimbangan tersebut di atas,
selanjutnya Mahkamah akan menilai konstitusionalitas HP-3 berdasarkan ukuran
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Menurut Mahkamah, penguasaan oleh negara atas
bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, berarti bahwa
negara berwenang dan diberi kebebasan untuk mengatur, membuat kebijakan,
mengelola serta mengawasi pemanfaatan bumi dan air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dengan ukuran konstitusional yaitu “untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat”. Berdasarkan ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 a quo,
kebebasan negara untuk mengatur dan membuat kebijakan atas bumi dan air dan
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dibatasi dengan ukuran “untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Oleh karena itu, Mahkamah perlu menilai
sejauh mana pemberian HP-3 akan memberikan sebesar-besar kemakmuran
rakyat dengan mempergunakan empat tolok ukur yaitu: (i) kemanfaatan sumber
daya alam bagi rakyat, (ii) tingkat pemerataan manfaat sumber daya alam bagi
rakyat, (iii) tingkat partisipasi rakyat dalam menentukan manfaat sumber daya
alam, serta (iv) penghormatan terhadap hak rakyat secara turun temurun dalam
memanfaatkan sumber daya alam;
(i) Jika atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil diberikan HP-3 kepada swasta
menurut konstruksi Undang-Undang a quo, menurut Mahkamah hal itu potensial
bahkan dapat dipastikan bagian terbesar wilayah perairan pesisir dan pulau-pulau
kecil akan dikuasai oleh perseorangan atau perusahaan swasta dengan usaha
padat modal dan teknologi tinggi. Hal tersebut mengakibatkan hilangnya akses dan
keleluasaan serta hilangnya pekerjaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia
yang bekerja sebagai nelayan untuk mencari nafkah di perairan pesisir. Walaupun
Undang-Undang a quo, mengatur tentang partisipasi masyarakat untuk ikut
menentukan pengalokasian wilayah perairan, perencanaan pemanfaatan wilayah
perairan dan pulau-pulau kecil, pemberian HP-3 kepada masyarakat dengan
syarat-syarat tertentu serta pengawasan oleh masyarakat atas pengelolaan HP-3,
namun menurut Mahkamah dengan penguasaan perairan pesisir dan pulau-pulau
162
kecil oleh swasta akan tetap lebih menguntungkan pemegang HP-3 dibanding
kemanfaatan yang diperolah masyarakat nelayan yang rata-rata memiliki tingkat
pendidikan yang rendah dan dengan modal yang terbatas;
(ii) Demikian juga tingkat pemerataan pemanfaatan perairan pesisir dan pulaupulau
kecil di kalangan nelayan yang menggantungkan kehidupannya pada
pemanfaatan sumber daya perairan pesisir dan pulau-pulau kecil akan semakin
berkurang karena dipastikan pemanfaatan itu akan semakin terkonsentrasi pada
kelompok kecil masyarakat pemilik HP-3. Menurut Mahkamah, pemberian HP-3
dapat menimbulkan diskriminasi secara tidak langsung (indirect discrimination).
Bila suatu ketentuan hukum yang nampaknya netral, baik kriteria maupun secara
praktisnya, tetapi hal itu akan menimbulkan kerugian bagi orang-orang tertentu
yaitu masyarakat nelayan dibandingkan pemilik modal kuat. Oleh karena
kemampuan dan keadaan para nelayan tradisional tidak seimbang dibandingkan
dengan kemampuan dan keadaan pemilik modal besar dalam persaingan
memperoleh hak pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, maka akan
terjadi indirect discrimination yang berakibat merugikan para nelayan tradisional;
(iii) Dengan pemberian HP-3 kepada swasta, maka tingkat partisipasi rakyat dalam
menentukan manfaat sumber daya alam akan semakin berkurang, karena kontrol
terhadap HP-3 menjadi di bawah penguasaan pemegang HP-3. Walaupun
Undang-Undang a quo, memberikan jaminan pelibatan masyarakat dalam
perencanaan zonasi wilayah perairan pesisir dan pulau-pulau kecil, pemberian HP-
3 kepada kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah pantai serta pelibatan
masyarakat dalam mengawasi pengelolaan wilayah pesisir, menurut Mahkamah
partisipasi masyarakat tersebut tidak memadai untuk menjamin, melindungi, dan
memenuhi hak-hak masyarakat, malahan justru potensial menyingkirkan hak-hak
dan partisipasi aktif masyarakat dalam pemanfaatan perairan pesisir dan pulaupulau
kecil;
(iv) Pemberian HP-3 juga mengancam keberadaan hak-hak masyarakat tradisional
dan kearifan masyarakat lokal atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, karena
menurut konsepsi Undang-Undang a quo, masyarakat tradisional yang secara
turun temurun memiliki hak atas pemanfaatan perairan pesisir dan pulau-pulau
kecil akan diberikan HP-3, dan dapat menerima ganti rugi atas pemberian HP-3
kepada swasta berdasarkan kesepakatan musyawarah. Menurut Mahkamah
163
konsep demikian, akan membatasi hak-hak tradisional masyarakat dalam batasan
waktu tertentu menurut ketentuan pemberian HP-3 yaitu 20 tahun dan dapat
diperpanjang. Konsep ini bertentangan dengan konsep hak ulayat dan hak-hak
tradisional rakyat yang tidak bisa dibatasi karena dapat dinikmati secara turun
temurun. Demikian juga mengenai konsep ganti kerugian terhadap masyarakat
yang memiliki hak-hak tradisional atas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, akan
menghilangkan hak-hak tradisional rakyat yang seharusnya dinikmati secara turun
temurun (just saving principle), karena dengan pemberian ganti kerugian maka hak
tersebut hanya dinikmati oleh masyarakat penerima ganti kerugian pada saat itu.
Hal itu juga bertentangan dengan prinsip hak-hak tradisional yang berlaku secara
turun temurun, yang menurut Mahkamah bertentangan dengan jiwa Pasal 18B
UUD 1945 yang mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat
hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya. Di samping itu, dengan konsep HP-3
dapat menghilangkan kesempatan bagi masyarakat adat dan masyarakat
tradisional yang menggantungkan kehidupannya pada wilayah pesisir dan pulaupulau
kecil, sehingga bertentangan dengan Pasal 28A UUD 1945;
[3.15.9] Menimbang bahwa Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 menyatakan
“perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi
dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan
kesatuan ekonomi nasional”. Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
sebagai sumber daya ekonomi bagi kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia
adalah bagian dari penyelenggaraan ekonomi nasional yang harus memperhatikan
amanat dan semangat konstitusi. Menurut Mahkamah pemberian HP-3 melanggar
prinsip demokrasi eknomi yang berdasar atas prinsip kebersamaan dan prinsip
efisiensi berkeadilan. Prinsip kebersamaan harus dimaknai bahwa dalam
penyelenggaraan ekonomi termasuk pengelolaan sumber daya alam bagi
keuntungan ekonomi, harus melibatkan rakyat seluas-luasnya dan menguntungkan
bagi kesejahteraan rakyat banyak. Pengelolaan sumber daya alam tidak boleh
semata-mata memperhatikan prinsip efisiensi untuk memperoleh hasil sebanyakbanyaknya
yang dapat menguntungkan kelompok kecil pemilik modal, tetapi harus
dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat secara berkeadilan. Pemanfaatan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dengan memberikan HP-3 sebagaimana
telah diuraikan di atas, akan mengakibatkan wilayah perairan pesisir dan pulau164
pulau kecil menjadi wilayah HP-3 yang dikuasai oleh pemilik modal besar.
Sebaliknya bagi masyarakat nelayan tradisional yang sebagian besar berdiam di
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan menggantungkan hidup dan
kehidupannya pada sumber daya pesisir akan tersingkir. Dalam kondisi yang
demikian, negara telah lalai menyelenggarakan tanggung jawabnya untuk
melaksanakan perekonomian nasional yang memberikan perlindungan dan
keadilan kepada rakyat. Lebih dari itu, menurut Mahkamah, pemberian HP-3 akan
melanggar prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945;
[3.15.10] Menimbang bahwa berdasarkan uraian sebagaimana di atas, menurut
Mahkamah, pemberian HP-3 sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 18, Pasal
16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23 ayat (4)
dan ayat (5), Pasal 50, Pasal 51, Pasal 60 ayat (1), Pasal 71 serta Pasal 75 UU
27/2007 adalah bertentangan dengan UUD 1945. Menurut Mahkamah pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dengan tujuan untuk: (i) melindungi,
mengonservasi, merehabilitasi, memanfaatkan, dan memperkaya sumber daya
pesisir dan pulau-pulau kecil serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan, (ii)
menciptakan keharmonisan dan sinergi antara Pemerintah dan Pemerintahan
Daerah dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, serta (iii)
memperkuat peran serta masyarakat dan lembaga pemerintah serta mendorong
inisiatif masyarakat dalam pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil
agar tercapai keadilan, keseimbangan dan keberlanjutan, tidak dapat dilakukan
dengan pemberian HP-3 dengan alasan sebagaimana telah diuraikan di atas.
Menurut Mahkamah untuk menghindari pengalihan tanggung jawab penguasaan
negara atas pengelolaan perairan pesisir dan pulau-pulau kecil kepada pihak
swasta, maka negara dapat memberikan hak pengelolaan tersebut melalui
mekanisme perizinan. Pemberian izin kepada pihak swasta tersebut tidak dapat
diartikan mengurangi wewenang negara untuk membuat kebijakan (beleid),
melakukan pengaturan (regelendaad), melakukan pengurusan (bestuursdaad),
melakukan pengelolaan (beheersdaad), dan melakukan pengawasan
(toezichthoudensdaad) untuk tujuan sebesar-besar kemakmuran rakyat. Di
samping itu, negara tetap dimungkinkan menguasai dan mengawasi secara utuh
seluruh pengelolaan wilayah perairan pesisir dan pulau-pulau kecil. Melalui
mekanisme perizinan, pemberian hak pengelolaan kepada swasta tidak
165
merupakan pemberian hak kebendaan yang mengalihkan penguasaan negara
secara penuh kepada swasta dalam kurun waktu tertentu. Dengan demikian,
wilayah perairan pesisir dan pulau-pulai kecil tetap dapat dikelola secara
terintegrasi dan membangun sinergi berbagai perencanaan sektoral, mengatasi
tumpang tindih pengelolaan, konflik pemanfaatan dan kewenangan serta
memberikan kepastian hukum;
[3.15.11] Menimbang bahwa meskipun para Pemohon hanya mengajukan
pengujian terhadap Pasal 1 angka 4, angka 7 dan angka 18, Pasal 16 ayat (1),
Pasal 23 ayat (2) dan ayat (4), Pasal 14 ayat (1), Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2),
Pasal 20 ayat (1), Pasal 23 ayat (4), ayat (5) dan ayat (6), Pasal 60 ayat (1) huruf b
Undang-Undang a quo, namun oleh karena tentang HP-3 tersebut telah diberikan
penilaian hukum sebagaimana diuraikan di atas, maka penilaian hukum tersebut
berlaku pula terhadap ketentuan lain yang terkait dengan HP-3, walaupun tidak
diajukan permohonan pengujian oleh para Pemohon;
[3.15.12] Menimbang bahwa Mahkamah selanjutnya akan menilai lebih lanjut
pasal-pasal lain dari Undang-Undang a quo yang dimohonkan pengujian oleh para
Pemohon, yaitu sebagai berikut :
1. Terhadap pengujian ketentuan Pasal 1 angka 4, dan angka 7 UU 27/2007,
menurut Mahkamah norma tersebut diatur dalam Ketentuan Umum, yang
memuat tentang batasan pengertian atau definisi, singkatan atau akronim yang
digunakan dalam peraturan, dan hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku
bagi pasal-pasal berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas,
maksud, dan tujuan [vide lampiran C.1. 74 Undang-Undang Nomor 10 Tahun
2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4389)]. Ketentuan Umum dalam suatu
peraturan perundang-undangan dimaksudkan agar batas pengertian atau
definisi, singkatan atau akronim yang berfungsi untuk menjelaskan makna
suatu kata atau istilah memang harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga
tidak menimbulkan pengertian ganda (vide Lampiran C.1. 81 Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan).
Menurut Mahkamah rumusan Pasal 1 angka 4, dan angka 7 UU 27/2007
adalah rumusan pengertian yang netral sehingga tidak memiliki makna hukum
tanpa dihubungkan dengan ketentuan pasal-pasal yang terkait. Oleh karena itu,
166
tidak ada persoalan konstitusionalitas dalam ketentuan a quo. Ketentuan Pasal
1 angka 18 telah dipertimbangkan bersamaan dengan pertimbangan
Mahkamah terhadap pengujian mengenai HP-3;
2. Mengenai pengujian Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang a quo, yang menurut
para Pemohon ketentuan tersebut mengandung pembedaan perlakuan yang
melemahkan posisi tawar masyarakat yang berimplikasi buruk dalam
penghidupan masyarakat, Mahkamah berpendapat sebagai berikut:
Norma pasal a quo menunjukkan bahwa dalam penyusunan rencana
strategis, rencana zonasi, rencana pengelolaan, dan rencana aksi pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil hanya dilakukan oleh Pemerintah Daerah
dan dunia usaha, sehingga mengurangi akses keterlibatan masyarakat,
khususnya masyarakat lokal dan tradisional. Walaupun masyarakat diikutkan
dalam sosialisasi dan dengar pendapat (public hearing), akan tetapi posisi
demikian akan sangat melemahkan posisi masyarakat dibanding Pemerintah
Daerah dan dunia usaha. Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang a quo setidaknya
akan memunculkan dua masalah. Pertama, terjadi pembungkaman hak
masyarakat untuk turut serta menyampaikan usulan, sehingga masyarakat
tidak memiliki pilihan untuk menolak atau menerima rencana tersebut; Kedua,
ketika sebuah kebijakan tidak didasarkan pada partisipasi publik, berpotensi
besar terjadinya pelanggaran hak publik di kemudian hari yaitu diabaikannya
hak-hak masyarakat yang melekat pada wilayah yang bersangkutan, padahal
masyarakat setempatlah yang mengetahui dan memahami kondisi wilayah.
Menurut Mahkamah penyampaian usulan yang hanya melibatkan pemerintah
dan dunia usaha ini merupakan sebuah bentuk perlakuan berbeda antar warga
negara (unequal treatment) dan mengabaikan hak-hak masyarakat untuk
memajukan dirinya dan memperjuangkan haknya secara kolektif untuk
membangun masyarakat, bangsa, dan negaranya yang bertentangan dengan
Pasal 27, Pasal 28C ayat (2), dan Pasal 28D ayat (3) UUD 1945.
[3.15.13] Bahwa guna mencegah timbulnya kesalahpahaman dan keragu-raguan
yang menyebabkan tidak adanya kepastian hukum atas pengaturan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil, perlu ditegaskan bahwa sesuai dengan Pasal 58 UU
MK, Putusan Mahkamah Konstitusi mempunyai akibat hukum sejak diucapkan
dan berlaku ke depan (prospective) dan tidak berlaku surut (retroactive). Dengan
demikian, semua perjanjian atau kontrak dan izin usaha di bidang pengelolaan
167
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah ditandatangani dan dikeluarkan
berdasarkan UU 27/2007 tetap berlaku sampai perjanjian atau kontrak dan izin
usaha tersebut habis atau tidak berlaku lagi;
4. KONKLUSI
Berdasarkan penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di
atas, Mahkamah berkesimpulan:
[4.1] Mahkamah berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus
permohonan a quo;
[4.2] Para Pemohon memiliki kedudukan hukum (legal standing) untuk
mengajukan permohonan a quo;
[4.3] Permohonan para Pemohon sepanjang mengenai HP-3 dan proses
perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang tidak
melibatkan masyarakat sebagai pihak dalam musyawarah, beralasan
hukum;
Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 dan mengingat Pasal 57 ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2003 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4316) dan Undang-Undang Nomor 49 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 157, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 5076);
5. AMAR PUTUSAN,
Mengadili
Menyatakan:
– Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk sebagian;
– Menyatakan Pasal 1 angka 18, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19,
Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23 ayat (4) dan ayat (5), Pasal 50,
Pasal 51, Pasal 60 ayat (1), Pasal 71 serta Pasal 75 Undang-Undang
168
Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739)
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
– Menyatakan Pasal 1 angka 18, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 18, Pasal 19,
Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23 ayat (4) dan ayat (5), Pasal 50,
Pasal 51, Pasal 60 ayat (1), Pasal 71 serta Pasal 75 Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-
Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739) tidak
mempunyai kekuatan mengikat;
– Memerintahkan agar Putusan ini dimuat dalam Berita Negara selambatlambatnya
30 hari kerja sejak Putusan ini diucapkan;
– Menyatakan menolak permohonan para Pemohon untuk selain dan
selebihnya;
Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim yang dihadiri
oleh sembilan Hakim Konstitusi pada hari Kamis tanggal sembilan bulan Juni tahun
dua ribu sebelas, yaitu Moh. Mahfud MD., selaku Ketua merangkap Anggota,
Achmad Sodiki, Ahmad Fadlil Sumadi, Hamdan Zoelva, Anwar Usman, Harjono,
Maria Farida Indrati, M. Akil Mochtar, dan Muhammad Alim, masing-masing sebagai
Anggota, dan diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk
umum pada hari Kamis tanggal enam belas bulan Juni tahun dua ribu sebelas, oleh
tujuh Hakim Konstitusi, yaitu Moh. Mahfud MD., selaku Ketua merangkap Anggota,
Achmad Sodiki, Ahmad Fadlil Sumadi, Hamdan Zoelva, Anwar Usman, Maria Farida
Indrati, dan Muhammad Alim, masing-masing sebagai Anggota, dengan didampingi
oleh Fadzlun Budi SN. sebagai Panitera Pengganti, serta dihadiri oleh para
Pemohon/Kuasanya, Pemerintah atau yang mewakili, dan Dewan Perwakilan
Rakyat atau yang mewakili.
169
KETUA,
ttd.
Moh. Mahfud MD.
ANGGOTA-ANGGOTA,
ttd.
Achmad Sodiki
ttd.
Ahmad Fadlil Sumadi
ttd.
Hamdan Zoelva
ttd.
Anwar Usman
ttd.
Maria Farida Indrati
ttd.
Muhammad Alim
PANITERA PENGGANTI,
ttd.
Fadzlun Budi S.N.

sumber ; http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/putusan/putusan_sidang_Nomor%203%20PUU%20pesisir%202010-TELAH%20BACA.pdf

Lampiran PDF

putusan_sidang_Nomor 3 PUU pesisir 2010-TELAH BACA

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: