Skip to content

Perkuat Diplomasi Internasional dengan Australia

31/03/2010

Perkuat Diplomasi Internasional dengan Australia

Rabu, 31 Maret 2010 | 03:12 WIB

Jakarta, Kompas – Penangkapan nelayan Indonesia oleh otoritas keamanan Australia yang terus berlangsung harus segera disikapi oleh Pemerintah RI dengan memperkuat diplomasi politik.

Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Arif Satria mengemukakan hal itu, Selasa (30/3). Penguatan diplomasi internasional itu untuk menjamin hak tangkapan ikan oleh nelayan tradisional di perairan Australia.

Arif mengungkapkan, tak dimungkiri, ada nelayan Indonesia dengan kapal bermesin yang mengaku sebagai nelayan tradisional dan mengeruk kekayaan ikan di perairan Australia. Hal itu merugikan nelayan tradisional.

Dalam pengaturan pengelolaan kawasan laut pulau terselatan Indonesia antara Pulau Rote dan Benua Australia (MOU Box) tahun 1974, Australia mengakui hak menangkap ikan bagi nelayan tradisional Indonesia yang turun-temurun melakukan penangkapan di wilayah Australia, yaitu nelayan Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Kawasan perairan Australia yang boleh dimasuki nelayan tradisional Indonesia meliputi kepulauan karang Pulau Pasir (Ashmore Reef), Pulau Baru (Cartier Islet), Pulau Aftringan (Seringapatam Reef), Pulau Dato (Scott Reef), dan Browse Islet.

Dalam pelaksanaannya, ratusan nelayan kerap ditangkap setiap tahun karena dianggap melanggar kesepakatan. Tahun 2009, nelayan yang ditangkap berjumlah 102 anak buah kapal (ABK) dan 15 kapal nelayan.

Arif mengingatkan, ada indikasi Pemerintah Australia mempersulit nelayan tradisional untuk beroperasi di perairan Australia dengan menjadikan sebagian wilayah MOU Box menjadi wilayah konservasi.

Sejak 16 Agustus 1983, Pemerintah Australia menetapkan Pulau Pasir sebagai cagar alam. Nelayan tradisional Indonesia dilarang mengambil sumber daya laut di kawasan itu.

Kepala Riset Pusat Kajian Sumber Daya Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana mengemukakan, posisi negosiasi Indonesia masih lemah. Pemerintah belum bisa meyakinkan Australia tentang perubahan kondisi nelayan tradisional.

Padahal, nelayan tradisional mengalami proses adaptasi terhadap perubahan iklim dengan mengubah alat tangkap dan kapal untuk menghadapi gangguan cuaca.

Kasus penangkapan nelayan Indonesia itu, ujar Suhana, merupakan momentum untuk membenahi pengawasan dan memperkuat diplomasi bilateral.

”Perlu kekuatan diplomasi Pemerintah Indonesia dengan kerja sama lintas kementerian,” ungkap Suhana. (LKT)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/31/0312505/perkuat.diplomasi.internasional.dengan.australia

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: