Skip to content

“DILEMA” KAPAL INSPEKSI TERUMBU KARANG

02/02/2010

“DILEMA” KAPAL INSPEKSI TERUMBU KARANG

Untuk memantau kondisi terumbu karang di perairan Indonesia, diperlukan kegiatan rutin untuk memeriksa kondisi terumbu karang tersebut dari waktu ke waktu. Kegiatan ini lazim disebut reef check. Kegiatan utama Reef check adalah penyelaman untuk memperoleh sample biota laut yang penting di berbagai kedalaman, untuk kemudian dianalisis untuk menentukan kondisi umum ekosistem terumbu karang di lokasi yang ditinjau. Kondisi terumbu karang dapat dipakai untuk meramalkan adanya perubahan iklim yang terjadi.

Untuk kegiatan reef check ini dibutuhkan wahana kapal yang sesuai, terutama kapal yang dapat mendukung kegiatan penyelaman secara aman dan dukungan peralatan untuk analisis biota laut yang ditinjau. Sebagai kawasan dengan ekosistem terumbu karang terluas di dunia, Indonesia membutuhkan kapal-kapal inspeksi terumbu karang dengan jumlah, ukuran, dan spesifikasi yang tepat.

Kapal untuk keperluan ini tidak memerlukan kecepatan yang tinggi, dengan sarat yang tidak terlalu dalam agar tidak merusak terumbu karang, terutama untuk perairan yang dangkal. Ukuran kapal yang cocok paling tidak adalah 5 GT, untuk menampung 6-12 peneliti, mampu menampung 12 tabung penyelaman, dan dilengkapi dengan peralatan selam yang memadai.

Kapal katamaran jenis Lagoon 500 impor dari Perancis merupakan jenis kapal yang tidak cocok untuk keperluan Reef check ini. Spesifikasi dasarnya tidak sesuai dengan tugas dan kegiatan reef check, di samping interiornya terlalu mewah. Kapal jenis ini lazimnya untuk racing (semacam Sail Bunaken atau Sail Banda, serta bermacam regatta lainnya –macam Regatta Ambon-Sidney) maupun cruising.  Tidak ada fasilitas/platform untuk penyelaman yang memadai, juga untuk menampung sample dan melakukan analisis atas sample biota laut.

Indonesia mampu merancang dan membangun kapal lambung-tunggal maupun katamaran untuk keperluan inspeksi terumbu karang dengan spesifikasi yang lebih sesuai dan harga yang jauh lebih murah. PT. PAL dan banyak galangan kapal Indonesia mampu membikin kapal-kapal inspeksi lambung-tunggal dari aluminium. PT. PAL pada tahun 2003, bekerjasama dengan ITS, berhasil membuat katamaran polinesian ”Islander” 55 feet (design oleh James Wharram) dari bahan marine playwood untuk pemesan dari Spanyol.  Harga setiap islander ini tidak lebih dari Rp. 2 Milyar.

Pembelian kapal-kapal semacam Lagoon 500 tidak menghargai kemampuan rancangbangun dan kapasitas produksi kapal-kapal dalam negeri.

Surabaya, 1 pebruari 2010

Daniel Mohammad Rosyid, Ph.D., MRINA

(Penggiat Mitra Bahari dari Teknik Kelautan ITS)

Sumber : maillist Program Kemitraan Bahari : Program_Kemitraan_Bahari@yahoogroups.com

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: