Skip to content

Pemerintah Harus Hentikan Ketergantungan Pakan Ikan Impor

01/01/2010

Pemerintah Harus Hentikan Ketergantungan Pakan Ikan Impor

// Kapanlagi.com – Pemerintah harus segera menghentikan ketergantungan bahan baku pakan ikan impor jika ingin menjadikan Indonesia sebagai produsen ikan terbesar dunia.

“Pemerintah sadar harga pakan ikan tinggi, tapi belum melakukan apa-apa,” kata Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Suhana, pada “Outlook Perikanan Indonesia 2010” di Jakarta, Rabu.

Kalau hanya sekedar penurunan bea masuk bahan baku pakan ikan itu maka tidak akan menyelesaikan masalah, tegas Suhana.

Indonesia, menurut dia, bisa mandiri dalam memproduksi pakan ikan tanpa perlu mengimpor 80% bahan baku pakan ikan lagi.

Hal itu dapat dilakukan mengingat beberapa kelompok pembudidaya ikan di Provinsi Riau mampu mandiri memproduksi pakan dengan menggunakan mesin sederhana.

“Mereka dengan peralatan sederhananya mampu memproduksi pakan ikan hanya mencampur dedak, jagung, dan bahan-bahan lokal lainnya,” ujar dia.

Dengan harga mesin Rp30 juta satu kelompok pembudidaya yang terdiri atas 10 hingga 20 orang akan mampu memproduksi sendiri pakan ikan. Akibatnya, mereka mampu menghasilkan pakan seharga Rp100.000 hingga Rp150.000 per zak.

“Kalau mau mengembangkan budidaya dengan harga pakan Rp260.000 per zak, sudah pasti sulit. Karena itu pemerintah harus mau memberikan bantuan permodalan bagi pembudidaya kecil agar bisa memproduksi sendiri pakan ikan,” lanjut Suhana.

Hal yang perlu dilakukan pemerintah, dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) adalah menugaskan Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) mencari bahan baku pakan ikan pengganti sehingga tidak perlu impor.

“Untuk menambahkan protein dalam pakan ikan selama ini menggunakan ikan ruca, kalau itu diteruskan tentu harus mengeruk isi laut lagi. Karena itu harus dicarikan penggantinya,” ujar dia.

Sebelumnya Sekjen DKP, Syamsul Ma’arif mengakui bahwa kendala dalam peningkatan produksi perikanan adalah masalah ketersediaan benih, pakan murah, dan permodalan.

Harga pakan ikan menjadi masalah terberat karena impor bahan baku cukup besar. Solusi jangka pendek DKP hanya berusaha menurunkan bea masuk impor bahan baku untuk pakan ikan.

Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad sendiri mengatakan bahwa ketergantungan impor bahan baku pakan ikan seperberat akibat produksi hanya dilakukan oleh segelintir perusahaan saja. (ant/roc)

Sumber : http://www.kapanlagi.com/h/pemerintah-harus-hentikan-ketergantungan-pakan-ikan-impor.html

2 Komentar leave one →
  1. Tb Yudi Imawan permalink
    21/03/2010 2:01 pm

    Menghentikan ketergantungan pakan impor adalah pekerjaan yang sangat sulit akan tetapi bukan hal yang mustahil, asalakan ada keinginan yang kuat untuk mencapainya.
    seperti kita ketahui bahwa sumber protein untuk pembuatan pakan selama ini berasal dari tepung ikan yang di impor dari chili atau Peru. Memang seperti yang dikatakan oleh bapak Suhana bahwa di Riau, para pembudidaya ikan sudah dapat membuat pakan dengan bahan dedak, jagung dan bahan lokal lainnya sehingga mendapatkan pakan berharga rendah, akan tetapi konsekuensinya adalah pertumbuhan ikan akan menjadi lambat dan FCR yang tinggi. jadi sebenarnya yang harus dipikirkan ( mungkin harus dikerjakan) adalah mengganti tepung ikan dengan bahan lokal sebagai sumber protein, sehingga didapatkan pakan yang berkualitas tinggi dan berharga terjangkau (murah). dahulu pernah ada program “Magot” sebagai sumber protein pakan, akan tetapi sekarang sudah tidak terdengar lagi kabar beritanya. jadi intinya keseriusan pemerintah apakah mau berbuat untuk membantu para pembudidaya ikan dalam menyelesaikan permasalahannya ????????????????????????

    • pk2pm permalink*
      21/03/2010 3:12 pm

      Terima kasih atas masukannya Kang Yudi. Ada hal yang ingin saya tambah informasi, beberapa waktu yang lalu ada cerita dari pak Siswono (Mantan Calon Wapres nya Amin Rais), beliau cerita bahwa Magot pernah dicobakan sebagai bahan pengganti pakan untuk ayam, ternyata hasilnya kurang bagus terhadap pertumbuhan ayam tersebut. Nah, untuk ikan, saya belum tahu apakah sudah di uji coba atau belum, dan bagaimana hasilnya ?. Terus informasi lain, bahwa yang telah mengembangkan pabrik pakan sendiri yang saya temui, tidak hanya di Riau saja, di wilayah Banjarmasin, Kalimantan, juga banyak yang telah mengembangkan pabrik pakan berbasis kelompok. Dan kalau saya perhatikan, kelompok pembudidaya ikan yang berhasil rata-rata memiliki pabrik pembuatan pakan milik sendiri. salam.suhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: