Skip to content

Beda “Nasib” Kehutanan dan Kelautan

21/12/2009

HASIL COP-15
Beda “Nasib” Kehutanan dan Kelautan

Senin, 21 Desember 2009 | 03:49 WIB

Negosiasi dua pekan yang alot setidaknya memberikan kelegaan bagi sektor kehutanan Indonesia. Pengurangan emisi dari penggundulan hutan dan kerusakan lahan (REDD) plus pengelolaan hutan berkelanjutan masuk dalam salah satu butir Keputusan Kopenhagen atau Copenhagen Accord yang disepakati secara dramatis Sabtu siang waktu Kopenhagen.

Indonesia tambah bangga karena butir tersebut diperjuangkan Indonesia sebagai pemrakarsa terbentuknya blok hutan atau Forestry 11 (F-11). Sebelumnya, isu kehutanan ditempatkan pada posisi negatif, yakni negara pemilik hutan dinilai gagal menjaga fungsi hutan sebagai penyerap karbon dioksida.

Kesan negatif itu berubah dengan pengakuan pentingnya peran hutan sehingga diperlukan dukungan pendanaan dari negara maju. ”Keputusan soal hutan itu 100 persen usulan Indonesia yang ditegaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam penyusunan naskah Copenhagen Accord,” kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, beberapa menit setelah sidang menyetujui dan mengakui Copenhagen Accord sebagai hasil COP-15.

Sejak awal, delegasi Indonesia menjadikan REDD sebagai salah satu target keberhasilan negosiasi. Hasilnya, kehutanan akan menerima sebagian dari komitmen total pendanaan global Rp 300 triliun selama 2010-2012.

Apa yang diperoleh sektor kehutanan berbanding terbalik dengan sektor kelautan. Peran penting kelautan hilang dari visi bersama naskah teks Kelompok Kerja Adhoc Kerja Sama Jangka Panjang (AWG-LCA). Dengan kata lain, mitigasi dan adaptasi dari kelautan bukan merupakan prioritas pendanaan.

Isu kelautan juga tidak disinggung Presiden dalam pidato resmi di hadapan ribuan delegasi dari 193 negara, dua hari menjelang penutupan konferensi. Dari lima butir penekanan, kelautan tidak disebutkan.

Padahal, pada naskah pidato yang disiapkan delegasi di Kopenhagen, peran penting sektor kelautan dicantumkan. Menurut Marty, Indonesia merasa belum memiliki kecukupan data ilmiah mengenai peran laut Indonesia sebagai penyerap karbon dioksida. Karena itu, soal kelautan tidak disinggung dulu.

Sebagai gambaran, Mei 2009, Indonesia sukses menjadi tuan rumah Konferensi Kelautan Dunia (WOC) dan Pertemuan Inisiatif Segitiga Terumbu Karang (CTI Summit) di Manado, Sulawesi Utara. Delegasi dari 50 negara hadir dalam pertemuan yang menghasilkan Deklarasi Kelautan Manado (MOD) itu.

Banyak pihak, khususnya LSM, peneliti, dan kelompok di luar delegasi resmi, terus menyuarakan pentingnya laut menjadi bagian dari keputusan penting konferensi. Seperti kata Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Sekretaris Eksekutif Kerangka Kerja Konvensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) Yvo de Boer, tidak semua harapan terpenuhi di konferensi terbesar dalam sejarah UNFCCC itu. Laut salah satunya.

GESIT ARIYANTO dari Kopenhagen, Denmark

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/21/03493757/beda.nasib.kehutanan.dan.kelautan

One Comment leave one →
  1. marini sarrizki permalink
    08/01/2010 9:05 am

    Sayang sekali sektor perikanan dan Kelautan masih belum dianggap penting oleh pemerintah padahal sektor ini juga mempunyai posisi kuat dalam aspek ekologis.COntohnya dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim di Bali lalu, isu kehutanan jauh melebihi kelautan. Padahal luas hutan hanya 1,31 juta kilometer persegi, sementara laut kita seluas 5,8 juta km persegi. Di Indonesia, terumbu karang mampu menyerap 73,5 juta ton C02 per tahun. Sementara itu, mangrove menyerap 75,4 juta ton CO2 per tahun, padang lamun menyerap 56 juta ton CO2 per tahun, dan laut lepas kita dapat menyerap 40,4 juta ton CO2 per tahun. Sehingga total serapan karbon dari wilayah laut dan pesisir sekitar 245,6 ton CO2 per tahun (BRKP DKP, 2007). Meskipun akhirnya diadakan WOC dan CTI SUmmit di Manado yang mengangkat tema pentingnya sektor kelautan dalam mengatasi perubahan iklim. Ditambah lagi dengan tidak diangakatnya sektor kelautan sebagai salah satu butir Copenhagen Accord terakhir2 ini. Mudah-mudahan pemerintah lebih memperhatikan sektor kelautan negara ini, tidak hanya untuk bergain position di mata International tetapi juga untuk perbaikan sektor kelautan secara menyeluruh, khusunya SDM dan SDA kelautan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: