Skip to content

Warga Mencurigai Monopoli Bisnis Perikanan

18/10/2009

Ribuan Warga Tual Protes Gelar Adat
Warga Mencurigai Monopoli Bisnis Perikanan

Minggu, 18 Oktober 2009 | 03:37 WIB

Ambon, Kompas – Ribuan mahasiswa dan warga Kota Tual di Provinsi Maluku memasang sasi atau larangan adat untuk melintas di Jembatan Watdek yang menghubungkan Pulau Dullah dan Kei Kecil, Sabtu (17/10). Aksi itu sebagai bentuk penolakan atas pemberian gelar adat kepada David Tjioe, seorang pengusaha perikanan, oleh para pemimpin adat.

Pemberian gelar adat dinilai sebagai salah satu langkah memonopoli sumber daya perikanan di Tual. Gelar adat Dir U Ham Wang, yang berarti berdiri di depan membagikan hak, diberikan oleh para raja di Tual kepada David Tjioe, Direktur PT Maritim Timur Jaya, sebuah perusahaan perikanan tangkap. Upacara pelantikan dilaksanakan di Lapangan Lodar El, Sabtu kemarin, sekitar pukul 11.00 WIT.

Aksi penolakan itu dimotori mahasiswa yang tergabung dalam Barisan Intelektual Muda (BIM) Kota Tual dan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Tual. Gerakan mahasiswa ini memperoleh dukungan ribuan warga Tual yang kemudian ikut turun ke jalan dan menutup Jembatan Watdek, sejak Sabtu pukul 13.00 WIT.

Penutupan satu-satunya akses darat dari dan ke Kota Tual tersebut masih berlangsung hingga Sabtu pukul 19.30 WIT. Masyarakat umum tidak bisa lewat, demikian juga dari Tual ke Bandara Dumatubun di Langggur, Maluku Tenggara. ”Tuntutan kami sederhana, para raja harus menarik kembali gelar adat itu,” ujar Dedy Renwarin, koordinator Presidium BIM Kota Tual.

Tuduhan monopoli

Dedy menjelaskan, mahasiswa dan warga Tual menolak pemberian gelar karena prosesnya tidak melalui musyawarah.

Para raja yang jumlahnya 22 orang di wilayah tersebut tidak mengajak seluruh pengurus adat untuk bermusyawarah, seperti dalam proses fatwa adat lainnya.

Selain itu, masyarakat menaruh kecurigaan pemberian gelar adat sebagai strategi memonopoli sumber daya perikanan di Tual oleh pengusaha tertentu.

Mahasiswa yang ingin masuk lapangan dan menggagalkan pelantikan dihadang aparat kepolisian. Kedua kubu saling dorong sehingga terjadi saling pukul.

Mahasiswa kemudian mundur ke arah masjid raya Tual dan terlibat bentrokan dengan sekelompok warga yang mendukung pelantikan. Seorang warga dari kelompok yang menolak pelantikan, Arifin Kabalmay, terkena sabetan parang di bagian leher. Mahasiswa bersama warga kemudian bergerak ke Jembatan Watdek dan menutup jalan.

Ajun Komisaris Petrus Saway, Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Maluku Tenggara, menjelaskan, negosiasi dengan pengunjuk rasa belum menemukan titik temu.

Massa masih memblokir Jembatan Watdek. Mereka meminta para raja datang dan bertemu warga untuk menyelesaikan masalah. Para raja menolak dan menunggu perwakilan demonstran datang ke rumah Raja Tual di daerah Siong untuk menyelesaikan masalah.

”Masing-masing pihak masih bersikukuh dengan pendiriannya. Anak-anak muda yang berunjuk rasa ingin masalah diselesaikan di jalan, sedangkan para raja menilai ini masalah adat sehingga harus diselesaikan di rumah Raja, bukan di jalan,” ujar Petrus. (ANG)

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/18/03372719/ribuan.warga.tual.protes.gelar.adat

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: