Skip to content

Harapan atas Sebuah Pengakuan

07/09/2009

Harapan atas Sebuah Pengakuan

Selasa, 8 September 2009 | 04:04 WIB

BM Lukita Grahadyarini

Rapat di Bali yang membahas hak pengusahaan perairan pesisir di wilayah adat, awal September 2009, berlangsung alot. Puluhan peserta, di antaranya berpakaian adat, sambung-menyambung menyampaikan pendapat dan sanggahan. –

Konsultasi publik yang berlangsung maraton itu mengerucut pada kesepakatan diakuinya hak pengusahaan perairan pesisir (HP3) di wilayah adat.

Rencana penerapan HP3 sempat menuai pro-kontra di kalangan publik dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat. HP3 yang akan mengapling laut untuk kegiatan usaha dikhawatirkan kian menggerus hak-hak masyarakat adat yang sekian lama termajinalkan.

”HP3 di wilayah adat bisa diterima jika memperkuat pengakuan, penghormatan, dan perlindungan masyarakat adat yang sudah menetap turun-temurun di wilayah adat,” ujar Abdon Nababan, Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Konsultasi publik yang dilakukan Departemen Kelautan dan Perikanan itu mengundang perwakilan masyarakat adat yang tergabung dalam AMAN.

Rapat konsultasi itu merupakan rangkaian dari proses penyusunan peraturan pemerintah tentang HP3. Kebijakan HP3 dilandasi Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

HP3 memberikan hak bagi orang, kelompok masyarakat, atau pengusaha untuk mengusahakan sumber daya perairan pada areal tepi laut hingga jarak 12 mil dari pantai.

Perampasan hak

Pelaksanaan HP3 ditargetkan mulai efektif tahun 2011, dengan hak pengusahaan perairan selama 20 tahun, bisa diperpanjang dan dialihkan.

Dalam draf PP tentang HP3, batas luasan HP3 untuk badan usaha direncanakan maksimum 1.500 hektar, sedangkan swasta perseorangan seluas 5 hektar.

Meski kebijakan HP3 diterima, ada sejumlah catatan dan persyaratan yang diminta AMAN kepada pemerintah untuk diadopsi dalam PP tentang HP3.

Hal itu di antaranya HP3 di wilayah adat hanya boleh dikelola oleh masyarakat adat, lembaga pengelola bentukan masyarakat adat, atau lewat bentuk kemitraan dengan pengusaha.

Untuk HP3 yang dikelola oleh masyarakat adat bekerja sama dengan pengusaha, jangka waktu HP3 maksimum diperpanjang selama 10 untuk sekali masa perpanjangan.

”Pelaksanaan HP3 bukan sekadar menyangkut materi, tetapi juga upaya mempertahankan kearifan lokal yang terpelihara turun-temurun,” ujar Eliza Kissya, Ketua Kewang (Adat) Haruku di Kepulauan Lease, Maluku Tengah. Selain itu, HP3 di wilayah adat tak boleh dialihkan menjadi konsesi pengusahaan oleh swasta atau badan usaha maupun diagunkan.

Abdon menambahkan, pengakuan HP3 di wilayah adat harus dipertegas dalam bentuk sertifikat komunal atau surat keterangan dari kepala daerah. Proses penetapan HP3 selayaknya dipermudah, tidak disamakan dengan swasta/badan usaha.

Berdasarkan ketentuan, pemberian HP3 didahului oleh penyusunan rencana zonasi, pengelolaan oleh pemerintah daerah. Tahun 2010, DKP akan memfasilitasi 20 kabupaten/kota untuk penyusunan peraturan daerah tentang zonasi.

”Rumusan perda tentang zonasi harus menjamin partisipasi masyarakat adat secara penuh. Kalau tidak dipenuhi, HP3 di wilayah adat tidak bisa diterapkan,” ujar Abdon.

Di sejumlah wilayah, pengelolaan perairan oleh
masyarakat adat terbukti mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, tanpa meninggalkan kelestarian lingkungan.

Wakil Ketua Kelompok Kerja Perempuan Majelis Rakyat Papua Frida Klasin mengungkapkan, masyarakat adat sudah terlalu lama mengalami perampasan hak dan terpinggirkan

Oleh karena itu, momentum konsultasi publik itu diharapkan menjadi titik tolak bagi keikutsertaan masyarakat adat dalam proses-proses perumusan kebijakan selanjutnya. Pemerintah harus serius mengawasi pelaksanaan HP3 agar tidak seperti pemberian konsesi pengelolaan hutan dan tambang yang merugikan masyarakat adat.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/08/04041971/harapan.atas..sebuah.pengakuandalam kebijakan pemerintah.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: