Skip to content

Mewaspadai Pengelolaan Segitiga Terumbu Karang

27/05/2009

Oleh Virna Puspa Setyorini

Kawasan segitiga terumbu karang dunia oleh para ilmuwan sering disebut sebagai hutan Amazon bawah laut, karena kawasan itu memiliki keragaman mahkluk hidup tertinggi di dunia.

Kawasan terumbu karang yang tersebar di negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, dan Solomon itu juga sering disebut memiliki posisi strategis secara ekonomi dan politik. Kawasan itu,  baik di lepas pantainya maupun daratan kepulauannya, memiliki sumberdaya minyak dan gas. Hampir 60 persen cadangan minyak dan gas Indonesia berada di kawasan itu.

Kepala Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim Muhamad Karim mengatakan, beberapa wilayah yang mengandung migas yakni di selatan perbatasan Indonesia-Palau, selatan Pulau Misol, kawasan Delta Mahakam, perairan Selat Makassar, Kepulauan Raja Ampat, blok Ambalat, Halmahera, dan Banda.

Kenyataan itu yang membuat di kawasan tersebut banyak beroperasi perusahaan multinasional migas dan mineral, seperti Exxon Mobil, Total E&P, Chevron, British Petroleum, Newmont Nusa Tenggara, dan Freeport.

Menurut Muhamad Karim, bukan hanya migas dan mineral yang terdapat di sana. Ia mengatakan, kawasan tersebut memiliki sumberdaya perikanan melimpah dan bernilai tinggi dari jenis pelagis besar, seperti tuna, cakalang, dan tongkol.

Perairan sekitar Arafura, Aru, Halmahera, Banda, Laut Flores, Laut Sulawesi sampai Samudera Pasifik, menurut dia, merupakan jalur migrasi ikan tuna. “Tidak heran, kapal pencuri ikan asing kerap merajalela di perairan ini,” katanya.  Hasil riset terbaru menunjukkan, perairan bagian barat Pulau Sumbawa diduga sebagai “fishing ground” ikan tuna.

Pasokan ikan tuna dunia sangat bergantung pada ketersediaan ikan pelagis itu di Indonesia.  Organisasi konservasi WWF pernah mendesak Indonesia untuk melakukan moratorium tuna ketika perairan lain kehabisan stok tuna akibat penangkapan berlebih.

Pernyataan tersebut disampaikan “Coral Triangle Network Invitative Leader WWF Indonesia” Lida Pet Soede pada pertemuan WWF dan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang diwakili Direktur Pemasaran Luar Negeri Saut P Hutagalung, setahun lalu.

Soede mengatakan, pemerintah Indonesia harus memilih, jika tidak moratorium tuna -yang memang ditolak pemerintah Indonesia- perlu memiliki kebijakan tegas terkait cara-cara penangkapan secara lestari.

Kondisi

Sebanyak 89 persen kawasan yang dimaksud dalam Insiatif Terumbu Karang “Coral Triangle Initiative” (CTI) di Indonesia berada di kawasan konservasi laut.  Kawasan tersebut diperkirakan mampu mengatasi masalah perubahan iklim global karena mampu menyerap karbon yang dihasilkan negara industri.

Karena itu, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, betapa pentingnya kesepakatan rencana aksi dari enam negara pemilik “segitiga terumbu karang” untuk mengatasi kerusakan terumbu karang di wilayah tersebut.

Menurut Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan Riza Damanik, kebenaran tentang penyerapan karbon oleh terumbu karang di “coral triangle” masih diperdebatkan oleh para ahli kelautan.
Kesimpulan dari peneliti kelautan dari “Centre National de la Recherche Scientifique” (CNRS), “Institut national des sciences de l’Univers” (INSU), “Institut Paul Emile Victor” (IPEV), IPLS, pada Samudera Hindia menyebutkan bahwa perubahan iklim telah memicu angin yang lebih kuat.

Kekuatan angin itu akan “mengaduk” air laut, membawa karbondiaoksida (CO2) yang berada di laut dalam ke permukaan. Karena itu lah para peneliti itu menganggap, wilayah ini tidak bisa lagi menyerap CO2 seperti sebelumnya.  Peran Samudera Hindia sebagai penyerap karbon melemah, bahkan 10 kali lebih lemah dari perkiraan sebelumnya.

Laporan “Land Ocean Interaction in the Coastal Zone” (LOICZ) menyebutkan, belum ada yang dapat membuktikan apakah perairan pesisir sebagai sumber karbon (carbon sources) atau penyerap karbon. Pengamat kelautan Alan F Koropitan mengatakan, sebetulnya, proses penyerapan karbon di lautan berbeda dengan daratan.

Fitoplankton yang berada dalam badan air laut memang melarutkan CO2  di dalam air melalui proses fotosintesis.  Tapi, kata dia, kegiatan itu tidak begitu saja menyerap gas CO2 di atmosfer. Sebab, laut memiliki mekanisme sendiri yang dikendalikan sistem “karbonat laut”. Menurut Alan F Koropitan, parameter yang penting dalam sistem ini  yaitu tekanan parsial CO2 pada permukaan laut (pCO2).

Perbedaan tekanan parsial pada lapisan permukaan laut dan udara akan menentukan arah pertukaran gas CO2. Apabila pCO2 rendah, akan terjadi menyerap CO2 di atmosfer, sebaliknya apabila pCO2 tinggi akan “melepas” CO2 di atmosfir.

Suhu permukaan laut yang semakin tinggi mengakibatkan pCO2 akan meningkat.  Perairan Indonesia merupakan daerah tropis yang memiliki kisaran suhu permukaan laut 28 hingga 32 derajat celsius.  Artinya, menurut dia, pCO2 di perairan Indonesia cenderung tinggi sehingga lebih berperan sebagai sumber karbon ketimbang pembersihan karbon.

Terumbu karang yang ada di perairan Indonesia pun umumnya berada pada kedalaman rata-rata lima hingga 25 meter dengan kisaran suhu 26 hingga 28 derajat celsius memang melakukan proses fotosintesis dan menyerap CO2.

Tetapi karbon yang terserap bersumber dari karbon anorganik terlarut bukan CO2 yang berasal dari udara bebas di atmosfir.  Menurut dia, masalah itulah yang menjadi “perdebatan” yang belum bisa membuktikan peranan terumbu karang dalam menyerap karbon.

Waspada

Menurut Muhamad Karim, kunjungan Menlu AS Hillary Clinton pada 18 Februari mengusung agenda strategis, yakni pangan, energi, kerjasama kawasan, pendidikan, dan perubahan iklim global.
Suatu kebetulan memang, katanya, karena pada 11-15 Mei akan berlangsung Konfrensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference/WOC) di Manado. WOC di Manado juga mengusung tema perubahan iklim global.

Menariknya, ujar dia, AS telah mendukung rencana Deklarasi Kelautan Manado (MOD), sekalipun isi draft deklarasi tersebut  belum rampung dikerjakan. Enam negara pemilik “coral triangle” telah mendapatkan dana hibah 250 juta dolar AS untuk penyelamatan terumbu karang seluas 75.000 kilometer persegi.  AS dan Australia termasuk menjadi negara donatur.

“Dana tersebut digunakan untuk merehabilitasi terumbu karang di kawasan ‘coral trangle’,” kata ujar Menurut Panitia Nasional WOC Indroyono Soesilo. Tidak itu saja, menurut Karim, negara adidaya juga akan bekerjasama dengan Indonesia untuk mendirikan observatorium gunung berapi regional di Sulawesi Utara. “Kalau untuk gunung berapi kenapa tidak di pulau Jawa saja, kenapa musti di Manado ya?” katanya.

Agenda WOC dan CTI seluruhnya di wilayah timur Indonesia karena wilayah ini lah yang memang memiliki terumbu karang. Untuk itu berbagai observasi akan dilakukan keenam negara dibantu negara pendukung lainnya. Hajatan kelautan dunia itu melibatkan 121 negara menghadirkan beberapa kepala negara serta tokoh internasional. (ant).

Sumber: http://www.analisad aily.com/ index.php? option=com_ content&view=article&id=15502%3Amewaspad ai-pengelolaan- segitiga- terumbu-karang&catid=97%3Alingkung an&Itemid=26

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: