Skip to content

Serapan TK Perikanan

25/05/2009

Salam Tribun
Selasa, 26 Mei 2009 | 21:32 WITA

Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Sektor PerikananPENYERAPAN tenaga kerja (TK) di sektor perikanan, dalam tiga tahun terakhir, anjlok hingga lebih dari 85 persen per tahun. Total penyerapan tenaga kerja sektor perikanan tahun 2006 mencapai 1.207 orang. Pada tahun 2008, penyerapan tenaga kerja sektor perikanan mengalami penurunan drastis menjadi 173 orang per tahun.

Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2009 menunjukkan, penyerapan tenaga kerja sektor perikanan periode 2006 hingga 2009 terus menurun. Bahkan, penurunan bisa mencapai 85,66 persen. Pertumbuhan ekspor-impor sektor perikanan juga rata-rata turun sebesar 2,42 persen per tahun.
Kepala Riset Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, Suhana, mengungkapkan di Jakarta, Minggu (24/5), buruknya iklim investasi dan usaha perikanan telah berdampak negatif pada penyerapan tenaga kerja. Selain itu, mempengaruhi pertumbuhan nilai ekspor-impor. Alhasil, keadaan itu mengganggu kinerja neraca perdagangan ekspor-impor produk perikanan di Tanah Air.
Data Badan Pusat Statistik tahun 2009 menyebutkan, pertumbuhan nilai perdagangan ekspor-impor produk perikanan dalam kurun waktu 2006 hingga 2008 turun 2,47 persen per tahun. Pertumbuhan neraca volume perdagangan ekspor-impor produk perikanan Indonesia juga mengalami penurunan sebesar 0,02 persen per tahun.
Yang parah lagi, publikasi triwulan pertama tahun 2009 dari  tiga lembaga negara bidang ekonomi, yaitu Bank Indonesia, Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia, dan Badan Pusat Statistik, memberikan rapor merah untuk sektor perikanan. Sektor tersebut kian terpuruk. Nilai investasi terus menurun. Daya serap tenagag kerja makin rendah. Kinerja dunia usaha sektor perikanan memburuk. Pada akhirnya, neraca perdagangan produk perikanan pun menyedihkan.
Kenyataan yang memprihatinkan bagi Indonesia dengan wilayah perairan terluas di dunia. Potensi kelautan yang luar biasa itu tidak dikelola maksimal. Bangsa-bangsa lain justru memanfaatkan potensi tersebut lewat kegiatan pencurian ikan yang berlangsung hingga saat ini. Alhasil ekspor kelautan amat rendah ketimbang Thailand, yang tak memiliki laut seluas di Indonesia.
Jika dalam kecukupan pangan, pemerintah menerapkan kebijakan serius, sistematis, dan berkesinambungan, hingga tercapai swasembada beras, kebijakan sama pun seharusnya terjadi di subsektor perikanan. Apalagi subsektor perikanan sangat strategis karena terkait dan menyangkut hajat hidup orang banyak.
Sumberdaya alam yang menjadi mata pencaharian sejumlah besar penduduk Indonesia, terutama masyarakat pantai dan pesisir. Dengan kata lain, sudah saatnya, pemerintah memberikan perhatian penuh pada subsektor perikanan. Industri perikanan yang berkembang maju bisa menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Di samping itu, industri perikanan merupakan penghasil devisa yang tak sedikit. Hasil  ikan adalah komoditas ekspor dengan 100 persen bahan bakunya dari dalam negeri. Sifat yang khas itu menyebabkan produk perikanan memiliki keunggulan komparatif mutlak.
Dengan kata lain, investasi pada subsektor perikanan harus dirangsang lebih keras dengan berbagai kebijakan dan insentif. Apalagi Indonesia masuk dalam 25 negara yang paling menarik sebagai tujuan investasi asing langsung dan tingkat daya saing terus meningkat. Produk perikanan juga tetap laris, walaupun krisis ekonomi terus berlanjut. Bila investasi berkembang, daya serap tenaga kerja bakal meningkat pula. ***

Sumber : http://www.tribun-timur.com/read/artikel/30018

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: