Skip to content

WOC Diminta Bahas Kehidupan Nelayan

27/04/2009

p4030098Dampak perubahan iklim dinilai WALHI mengancam hidup nelayan tradisional. Hal ini disebabkan eksploitasi negara-negara industri seperti Jepang, AS, dan Australia tanpa prinsip kelangsungan lingkungan hidup dan kehidupan manusia.

“Potret ini kembali terulang, jika pemerintah gagal berdiplomasi menyelamatkan laut dan nelayan tradisional dalam konferensi kelautan dunia (World Ocean Conference) yang akan digelar di Manado, Sulawesi Utara, 11-15 Mei 2009,” kata M. Riza Damanik, sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dikutip WartaEkonomi dari situs Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) pada Kamis (22/4) lalu.

Sejumlah agenda yang mesti dibahas Indonesia dalam World Ocean Conference/WOC (Konferensi Kelautan Dunia) adalah pengungkapan akar persoalan kelautan nasional dan global berlandaskan asas keberlanjutan lingkungan dan perlindungan hak-hak nelayan tradisional, ajakan tindakan kolektif masyarakat dunia berupa sanksi kolektif kepada pihak yang menyebabkan krisis laut dan iklim, dan pembangunan kesadaran kolektif bagi perlindungan lhak-hak masyarakat nelayan tradisional.

“Dapat disesalkan, sekitar 30%-50% total potensi perikanan tangkap nasional diperdagangkan di pasar global secara ilegal setiap tahunnya. Bahkan 90% produksi udang nasional bukan untuk pemenuhan konsumsi dalam negeri,” jelasnya.

Inti persoalan kelautan dunia, ujar Siti Maimunah, koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), adalah praktek pertambangan di kawasan pesisir dan pembuangan limbah tambang di laut. Kegiatan ini yang dimaksud adalah penambangan logam, batubara, dan migas di darat.

“Hal ini tak hanya mencemari laut dan mengancam keberlanjutan ekosistem laut, tetapi juga telah mematikan hak kelola nelayan tradisional,” ungkap Siti Maimunah, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).

Sejumlah penyebab kerusakan ekosistem laut dinilai JATAM seperti pembuangan limbah ke laut oleh Newmont dan Freeport sebesar 340.000 ton setiap hari. Begitupula eksplorasi minyak dan gas (migas) dengan dinamit di Laut Teluk Balikpapan berakibat kematian ikan dan kerusakan terumbu karang.

Akar persoalan krisis kelautan dinilai Teguh Surya, kadep Advokasi dan Jaringan WALHI, akibat hak-hak nelayan tradisional diabaikan pemerintah.

“Dalam UU No. 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (PWP-PPK), pemerintah sengaja menomorduakan peran-serta masyarakat dalam mengelola sumber daya laut dan pesisir. Padahal, mereka menggantungkan hidupnya kepada keberlanjutan ekosistem laut dan sumber daya alami,” paparnya.

Pada sisi lain hibah dan hutang yang diperoleh Indonesia dari Asian Development Bank (ADB) dan World Bank berakibat kerusakan lingkungan. Malahan, hal ini berdampak kemiskinan bagi nelayan tradisional

“Sejak awal pembangunan pertambakan (aquaculture) di sepanjang pesisir Indonesia tidak lepas dari pembiayaan utang ADB dan Bank Dunia. Jika dirata-rata, kontribusi utang luar negeri dari sektor ini mencapai Rp39,5 miliar per tahun sejak 1983 hingga 2013,” jelas Dani Setiawan, koordinator Koalisi Anti Utang (KAU).

Sementara itu sejumlah negara, ujar Muhammad Karim, direktur eksekutif Pusat Kajian Pembangunan Kelautan dan Peradaban Maritim, disinyalir ingin menguasai Indonesia. Negara-negara yang dimaksud yaitu AS, Rusia, dan Australia.

“Dalam rencana perjanjian RI-Australia untuk memberantas illegal fishing di perbatasan kedua negara, misalnya, nelayan tradisional dikambinghitamkan sebagai pelanggar wilayah ZEE Australia,” tandasnya. Mochamad Ade Maulidin ( ademaulidin@wartaekonomi.com Alamat e-mail ini diproteksi dari spabot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya )

Sumber : http://www.wartaekonomi.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1717:woc-diminta-bahas-kehidupan-nelayan&catid=53:aumum

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: