Skip to content

WOC Terperangkap Jual Beli Karbon

26/04/2009

sumber : Media Indonesia, Minggu 28 April 2009

POTENSI kelautan lagi naik daun. Disadari ataupun tidak, hal itu mencuat setelah manusia dengan
segala keserakahannya dan didukung modal internasional yang sangat besar telah memorak-porandakan isi hutan dan
perut bumi (tambang). Laut kini incaran berikutnya.
Sinyal untuk memperlakukan laut sebagai ‘komoditas ekonomi’ sebenarnya sudah
diawali pada saat pertemuan Conference of Parties (COP) ke-13 UNFCCC di Bali akhir
2007. Dari 400 proposal yang berkaitan dengan perubahan iklim, terselip satu isu yang
membahas kelautan. Laut di situ disebutsebut memiliki peran yang besar dalam konteks
penyelamatan bumi dari dampak buruk perubahan iklim.
Badan PBB Bidang Lingkungan Hidup (UNEP) pun melansir penelitiannya bahwa
betapa strategisnya fungsi laut yang mencakup dua per tiga luas muka bumi. Secara
fisik, laut menyerap karbon 50 kali jika dibandingkan dengan atmosfer. Laut pun
mampu melepas karbon 90 miliar ton/tahun dan menyerap karbon 92 miliar ton/tahun.
Jumlah itu jauh lebih unggul jika dibandingkan dengan vegetasi darat yang hanya
melepas karbon 60 miliar ton/tahun serta menyerap karbon 61 miliar ton/tahun.
Sisi baik lainnya yang diperoleh dari laut adalah 50% oksigen yang dihirup manusia
berasal dari fotosintesis di laut. Namun, kebaikan-kebaikan itu akhirnya rusak juga
oleh ulah manusia akibat pembuangan limbah di laut, illegal fi shing yang menggunakan detonasi
dan lain-lain serta perusakan wilayah pesisir akibat pembabatan hutan bakau.
Penistaan terhadap laut sebenarnya sudah lama berlangsung. Temuan tim Intergovernmental
Panel on Climate Change (IPCC) disebutkan bahwa saat ini 48% karbon hasil
pembakaran bahan bakar fosil dibuang ke laut. Akibatnya, konsentrasi karbon dioksida
di laut meningkat tinggi.
Dampak yang sudah nyata adalah terjadinya pengasaman di laut yang menyebabkan
terumbu karang memutih (bleaching), terjadinya degradasi kualitas, dan kondisi ekosistem
di laut memengaruhi siklus karbon.
Beberapa alasan itulah yang pada akhirnya memberanikan Indonesia untuk menyelenggarakan
World Ocean Conference (WOC) yang akan dilaksanakan di Manado, Sulawesi
Utara, 11-15 April 20009. Konferensi tentang laut yang pertama di dunia ini diperkirakan
akan dihadiri 500 delegasi dari 121 negara.
Ada dua isu utama yang akan ‘dijual’ Indonesia dalam pertemuan itu. Yakni, isu laut
dan perubahan iklim dan potensi segitiga karang dunia.
Dalam WOC, akan didorong lahirnya Deklarasi Manado yang bisa digolkan ke pertemuan COP ke-15 di Copenhagen,
Denmark. Draf yang sempat menyebar tentang Deklarasi Manado itu seputar program
paket CDM (clean development mechanism/mekanisme pembangunan bersih) untuk laut.
Indonesia dalam posisi itu, menurut Menteri Perikanan dan Kelautan Freddy Numberi,
berkeinginan agar CDM kelautan bisa satu paket dengan program Reducing Emission
from Deforestasion in Developing Countries (REDD) untuk kehutanan.

Tidak kritis
Pertemuan WOC 2009 belum terselenggara, tapi sejumlah lembaga swadaya masyarakat
(LSM) pesimistis akan manfaat yang dihasilkan. Mereka beranggapan dari sesi yang
ditawarkan dan akan dibahas dalam pertemuan tersebut dinilai menyoroti masalah
yang salah.
“Masalah perubahan iklim yang diangkat malah menghindari masalah kelautan yang
sesungguhnya dan siapa yang bertanggung jawab atas masalah itu,” kata M Riza Damanik,
Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) di Jakarta menanggapi rencana WOC itu.
Peran laut terhadap perubahan iklim dan sebaliknya memang tertulis dalam situs resmi
WOC sebagai tema diskusi sejak hari pertama pertemuan. Namun, substansi materinya
dipastikan akan bergeser ke kepentingan ekonomi.
Pendapat yang sama dikemukakan Muhamad Karim, Direktur Center for Ocean
Development and Maritim Civilization Studies (Commits). Ia menyatakan jika kemudian
dikaitkan dengan perdagangan karbon, justru merugikan Indonesia. “Kalau laut kita
terbukti sumber karbon, kita malah bisa jadi pembayar,” katanya.
Dengan belum jelasnya peran laut Indonesia pada perubahan iklim, baik Riza maupun
Karim mendorong pemerintah mengangkat masalah nasional yang krusial yakni kejahatan
perikanan. Riza menyebutkan selama 15 tahun ini potensi perikanan tangkap Indonesia
yang hilang mencapai 50% atau 4 juta ton/tahun akibat kejahatan perikanan, yakni
dicuri, didaratkan di tempat yang salah, dan menggunakan alat yang salah.
Sepuluh negara, di antaranya China dan Thailand, yang melakukan illegal fi shing tersebut
akan hadir di WOC. “Maka waktunya kita menekan mereka untuk serius menangani
illegal fi shing karena penelitian menunjukkan kapal-kapal itu (yang mencuri di Indonesia) sudah
ilegal di negara mereka,” ujar Riza. (M-4)

ndari@mediaindonesia.com

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: